Diterbitkan pertama kali pada: 11-Jun-2022 @ 11:35

5 menit membaca

*JANGAN SAMPAI SALAH JALAN*
Ustadz Maududi Abdullah, Lc
Ahad, 12 Dzulqaidah 1443 H (11 Juni 2022)
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi

Rahmat dan nikmat Allah sangatlah banyak yang dicurahkan kepada kita setiap hari. Yang tidak tergantikan oleh emas sebesar bangunan masjid ini.

🔸Contoh konkret, satu saja adalah nikmat jantung, yang tidak tergantikan oleh emas sebesar bangunan.

Permasalahan terletak pada kita yang tidak melihat nikmat yang besar itu.
Terlalu membesar-besarkan sesuatu yang tidak besar. Dan terlalu mengkerdilkan sesuatu yang besar.

♦️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

 وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ (20) وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ (21)

“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Q.S. Adz-Dzariyat: 20-21)

🖍️Syaikh Ibrahim ar Ruhaily berkata :
Butuh 2 hal untuk manusia di bumi. Bila punya selamat dan bila tidak punya akan binasa.

1. Manusia harus tahu jalan yang antarkan dia kepada Rabbnya
2. Dia harus berjalan di jalan itu sesuai dengan peraturan/rambu-rambu yang ada di jalan itu.

Allah menyebut agama ini adalah jalan menuju Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ هٰذِهٖ تَذْكِرَةٌ ۚ فَمَنْ شَآءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ سَبِيْلًا

“Sungguh, ini adalah peringatan. Barang siapa menghendaki, niscaya dia mengambil jalan (yang lurus) menuju Rabb nya.”
(QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 19)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ هٰذِهٖ تَذْكِرَةٌ ۚ فَمَنْ شَآءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ سَبِيْلًا

“Sungguh, (ayat-ayat) ini adalah peringatan, maka barang siapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) tentu dia mengambil jalan menuju Tuhannya.”
(QS. Al-Insan 76: Ayat 29)

Di dalam nya terdapat aqidah Ahlussunnah, jalan menuju Allah.
Pertemuan dengan Allah, diingkari oleh sebagian firqah dalam agama Islam (dan ini batil).

Padahal nash-nash menunjukkan hal itu secara jelas.

🖍️ Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تَضَامُّوْنَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اْستَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَصَلاَةٍ قَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوْا

Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini (dalam permulaan hadits, diceritakan; waktu itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melihat bulan yang tengah purnama).

Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihatNya (ada yang membaca la tudhamuna tanpa tasydid dan di dhammah ta’nya, artinya: kalian tidak akan ditimpa kesulitan dalam melihatNya).

Oleh karena itu, jika kalian mampu, untuk tidak mengabaikan shalat sebelum terbit matahari (Subuh) dan shalat sebelum terbenam matahari (Ashar), maka kerjakanlah. HR Bukhari.

Keanehan para ahli bid’ah, bila pemahaman yang salah, maka pemahaman yang dipertahankan dan hadits atau ayat di rubah (maknanya). ✖️

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وُجُوهُُ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat.. [Al Qiyamah : 22-23].

نَاظِرَةٌ

Kata ini diselewengkan makna menjadi menunggu.. ✖️

Allah berfirman..

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah pada yang punya ilmu,jika kalian tidak mengetahui.

2 jalan selamat itu sejatinya yang kita minta setiap kita sholat..

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ }

Tunjukilah kami jalan yang lurus

✅ Makna jalan yang lurus..

1. Jalan itu lurus, Tidak belok2, Jalan yang gampang, cepat sampai tujuan..
2. Tidak disebut shirath, kecuali jalan itu sudah ditempuh sebelumnya

Orang-orang yang menjalankan agama ini dengan pemahaman sesuai As Sunnah, itu sangat mudah…..

Contoh, saat mulai sholat, yang Rasulullah ﷺ ajarkan sangat sederhana..

Namun muncul tambahan-tambahan.. Misalnya
1. Usholi… (bila gak tahu nama sholatnya, jadi bingung)
2. Ada yang menambah bacaan Astagfirullah 3x….tambah berat
3. Dst dst..

➡️ *Agama Islam itu mudah
Indikasi kebenaran itu mudah*

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰى 
“maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).”
(QS. Al-Lail 92: Ayat 7)

Jalan kebenaran itu sudah ditempuh orang-orang sebelumnya, Rasulullah ﷺ, para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.

Oleh karena itu aliran dalam agama Islam yang ada sejarah berdirinya maka hal itu patut dipertanyakan kebenaran pemahaman aliran tersebut.✖️

Suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ

{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak).

Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’  kemudian beliau membaca,

{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’” ([Al An’am: 153] Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya)

Dari makna jalan, jalan yang lurus itu tidak ada syetannya.

Namun manusia-manusia yang menempuh jalan itu akan banyak godaan syetan.

Allah berfirman:

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلا يَسْتَطِيعُونَ
خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

Artinya: (Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu. Pandangan mereka tertunduk ke bawah, diliputi kehinaan. Dan sungguh, dahulu (di dunia) mereka telah diseru untuk bersujud waktu mereka sehat (tetapi mereka tidak melakukan). (Surat Al-Qalam: 42-43).

Tulang-tulang orang munafik dijadikan satu saat di akhirat nanti sehingga tidak bisa sujud.

➡️ *Hikmah tulang kita ada sendi-sendi adalah agar kita mampu sujud*.✅

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنْ هِيَ اِلَّاۤ اَسْمَآءٌ سَمَّيْتُمُوْهَاۤ اَنْتُمْ وَاٰ بَآ ؤُكُمْ مَّاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍ ۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَ نْفُسُ ۚ وَلَقَدْ جَآءَهُمْ مِّنْ رَّبِّهِمُ الْهُدٰى 

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)nya. Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 23)

Argumentasi orang-orang yang tidak mengikuti pemahaman yang benar sangat mudah dibantah.

✅ *Maka dari itu beragama lah dengan dalil (Allah dan Rasul-Nya),tidak pernah salah.*

Kebenaran itu akan terlihat bila saat berargumentasi bila bisa menunjukkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya.

♦️Cara yang paling ampuh untuk berjalan di atas ilmu adalah sami’naa wa atha’naa.🔸

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا كَا نَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَ طَعْنَا ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 51)

Jangan andalan kecerdasan, karena kecerdasan itu akan kalah dengan iblis.

Beragama jangan pakai perasaan..

Ketika Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk menikahi Zainab Jahsy, bekas istri anak angkat beliau, bila ikuti perasaan tentu akan berat…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lebih tahu tentang ilmu dunia dibandingkan para shahabatnya.

Di antara buktinya adalah hadits dari Anas tentang mengawinkan kurma. Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sahabatnya yang sedang mengawinkan kurma. Lalu beliau bertanya, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Dengan begini, kurma jadi baik, wahai Rasulullah!” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ

“Seandainya kalian tidak melakukan seperti itu pun, niscaya kurma itu tetaplah bagus.” Setelah beliau berkata seperti itu, mereka lalu tidak mengawinkan kurma lagi, namun kurmanya justru menjadi jelek. Ketika melihat hasilnya seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,

مَا لِنَخْلِكُمْ

“Kenapa kurma itu bisa jadi jelek seperti ini?” Kata mereka, “Wahai Rasulullah, Engkau telah berkata kepada kita begini dan begitu…” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.”  (HR. Muslim)

Pesawat itu sarana… Pergi haji dengan pesawat mubah, boleh.. Bukan bid’ah..

Microfon juga demikian, hanya sarana.

Untuk itu…

1. Kenali jalan yang lurus itu
2. Tingkatan terus ilmu yang akan memperkuat jalan kita diatas jalan yang benar.

Semoga bermanfaat..

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?