This entry is part 3 of 3 in the series Juz30

Diterbitkan pertama kali pada: 25-Okt-2020 @ 16:24

5 menit membaca

Tafsir Juz Amma QS Abasa
Ustadz Dr Firanda Andirja,MA
23 Ramadhan 1440H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Abasa secara bahasa artinya, جَمَعَ جِلْدَ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَجِلْدَ جَبْهَتِهِ “mengumpulkan kulit yang ada diantara dua mata dan kulit dahi”, yaitu mengerutkan dahi dan bermuka masam. Surat ‘Abasa adalah surat yang seluruh ayatnya adalah Makkiyah (diturunkan di Mekah) berdasarkan kesepakatan para ulama tafsir.

Sebab turun surat ini adalah teguran kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat berdakwah kepada para pembesar Quraisy, bermuka masam dan berpaling kepada Abdullah Umi Maktum yang buta (boleh sebut sifat dan tidak untuk mencela).

Dakwah kepada pembesar ini metode yang benar, karena bila pembesar sudah terima dakwah maka pengikutnya juga akan ikut.

Sebab turunnya surat ini –sebagaiamana disepakati oleh para mufassir- adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anhaa:

أُنْزِلَ عَبَسَ وَتَوَلَّى فِي ابْنِ أُمِّ مَكْتُوْمٍ الأَعْمَى أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ يَقُوْلُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرْشِدْنِي، وَعِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنْ عُظَمَاءِ الْمُشْرِكِيْنَ فَجَعَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْرِضُ عَنْهُ وَيُقْبِلُ عَلَى الآخَرِ وَيَقُوْلُ أَتَرَى بِمَا أَقُوْلُ بَأْسًا فَيَقُوْلُ لاَ فَفِي هَذَا أُنْزِلَ

“Diturunkan surat ‘Abasa wa Tawallaa’ tentang Ibnu Ummi Maktum yang buta, ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata : “Wahai Rasulullah berilah pengarahan/petunjuk kepadaku”. Dan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada seseorang dari para pembesar kaum musyrikin. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallampun berpaling dari Ibnu Ummi Maktum dan berbalik ke arah lelaki (musyrik) tersebut dan berkata : “Apakah menurutmu apa yang aku katakan (sampaikan kepadamu tentang dakwah tauhid-pen) baik?”, maka lelaki pembesar musyrik tersebut berkata : “Tidak”. Karena inilah turun surat ‘Abasa.” (HR At-Tirmidzi no 2651 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa para pembesar musyrikin yang sedang didakwahi oleh Nabi tersebut adalah Utbah bin Robi’ah, Abu Jahl bin Hisyaam, Ummayyah bin Kholaf dan Ubay bin Kholaf. Nabi mendakwahi mereka dan mengharapkan keislaman mereka (Lihat Zaadul Masiir, karya Ibnul Jauzi pada tafsir surat ‘Abasa)

Syaikh Al-‘Utsaimin berkata : “Dan tentunya diketahui bahwasanya jika para pembesar dan orang-orang yang dihormati dan dimuliakan masuk Islam maka hal ini merupakan sebab Islamnya orang-orang yang berada dibawah kekuasaan mereka. Karenanya Nabi sangat ingin agar mereka masuk Islam. Lalu datanglah sahabat yang buta ini bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka (para ahli tafsir-pen) menyebutkan bahwa ia berkata : “Ajarkanlah aku dari apa yang Allah ajarkan kepadamu”. Dan ia meminta Nabi membaca Al-Qur’an untuknya. Maka Nabipun berpaling darinya dan bermuka masam karena berharap para pembesar musyrikin tersebut masuk Isalm. Seakan-akan beliau khawatir bahwasanya para pembesar tersebut akan merendahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika beliau berpaling dari para pembesar tersebut dan mengarahkan wajahnya kepada sahabat yang buta itu

Allah berfirman :

عَبَسَ وَتَوَلَّى(١) أَنْ جَاءَهُ الأعْمَى(٢) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى(٣) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى(٤) أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى(٥) فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى(٦) وَمَا عَلَيْكَ أَلا يَزَّكَّى(٧) وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى(٨) وَهُوَ يَخْشَى(٩) فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (١٠)

1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.
Ini teguran yang sangat halus, pakai kata ganti orang ketiga.

أَنْ جَاءَهُ الأعْمَى(٢)

2. karena telah datang seorang buta kepadanya.

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى(٣)

3. tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),

أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى(٤)

4. atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?

أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى(٥)

5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,

فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى(٦)

6. Maka kamu melayaninya.

وَمَا عَلَيْكَ أَلا يَزَّكَّى(٧)

7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman).

وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى(٨)

8. dan Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),

وَهُوَ يَخْشَى(٩)

9. sedang ia takut kepada (Allah),

Allah sebutkan sifat penuntut ilmu, mendatangi, segera dan takut kepada Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memuliakan Abdullah Umi Maktum
1. Jadi pengganti Nabi bila Rasulullah shallallahu alaihi wasallam safar

2. Dijadiin tukang adzan.

فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى (١٠)

10. Maka kamu mengabaikannya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

(كَلا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ)

Sekali-kali jangan (demikian, Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. (‘Abasa: 11)

Artinya, surat ini atau perintah menyamakan semua orang dalam menyampaikan pengetahuan, tidak dibedakan antara orang yang terhormat dan orang biasa dari kalangan mereka yang menginginkannya.

Tafsir kedua adalah Alqur’an itu haqqan.

(فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ)

maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya. (‘Abasa: 12)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

(فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ * مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ)

di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan. (‘Abasa: 13-14)

Yaitu surat ini atau pelajaran ini, kedua-duanya saling berkaitan, bahkan Al-Qur’an seluruhnya.

(فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ)

di dalam kitab-kitab yang dimuliakan. (‘Abasa: 13)

Maksudnya Lauhul mahfudh.
Atau Yakni diagungkan dan dimuliakan.

(مَرْفُوعَةٍ)

yang ditinggikan (‘Abasa: 14)
Artinya, mempunyai kedudukan yang tinggi.
Sehingga jangan meletakkan Alqur’an dibawah.

(مُطَهَّرَةٍ)

lagi disucikan (‘Abasa: 14)

Yaitu disucikan dari hal yang kotor, penambahan, dan pengurangan.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

(بِأَيْدِي سَفَرَةٍ)

di tangan para penulis. (‘Abasa: 15)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

(كِرَامٍ بَرَرَةٍ)

yang mulia lagi berbakti. (‘Abasa: 16)

Paragraf selanjutnya..
(قُتِلَ الإنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ)

Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. (‘Abasa: 17).

Betapa kufur manusia bila kita tidak bersyukur padahal sudah banyak diberi nikmat.

Tafsir kedua..
مَا أَكْفَرَهُ

Kenapa dia kufur.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

(مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ * مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ)

Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya, lalu menentukannya. (‘Abasa: 18-19)

Yakni kemudian menentukan ajal, rezeki, dan amalnya, apakah dia termasuk orang yang berbahagia ataukah orang yang celaka.

Semua itu hanya Allah yang tahu.

(ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ)

Kemudian Dia memudahkan jalan keluarnya (lahir) . (‘Abasa: 20)

3 kata sambung..

Wa = sekedar menggabungkan tanpa tunjukkan urutan

Fa = memerhatikan urutan, tanpa jeda.

Tsumma = memperhatikan urutan dan ada jeda.
(kemudian).

(ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ)

kemudian Dia mematikannya dun memasukkannya ke dalam kubur. (‘Abasa: 21)

Ada fa, segera dikuburkan.

(ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ)

kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. (‘Abasa: 22)

(كَلا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ)

sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. (‘Abasa: 23)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

(فَلْيَنْظُرِ الإنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ)

maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. (‘Abasa: 24)

Ini mengandung penyebutan nikmat Allah dan sekaligus menjadi bukti yang menunjukkan bahwa jasad-jasad ini setelah menjadi tulang belulang yang hancur dimakan tanah dan bercerai-berai akan dihidupkan kembali. Hal tersebut diutarakan melalui analogi dihidupkan-Nya tetumbuhan dari tanah yang mati. Untuk itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

(أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا)

Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit). (‘Abasa: 25)

Yakni Kami turunkan hujan dari langit ke bumi.

(ثُمَّ شَقَقْنَا الأرْضَ شَقًّا)

kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.(‘Abasa: 26)

Maksudnya, Kami tempatkan air itu dalam bumi dan masuk melalui celah-celahnya, kemudian meresap ke dalam biji-bijian yang telah disimpan di dalam tanah. Maka tumbuhlah biji-bijian itu menjadi tetumbuhan yang muncul di permukaan bumi, lalu meninggi.

(فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا * وَعِنَبًا وَقَضْبًا)

lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran. (‘Abasa: 27-28)

(وَزَيْتُونًا)

dan zaitun. (‘Abasa: 29)

Buah zaitun cukup dikenal dan dapat dijadikan sebagai lauk, begitu pula minyaknya. Bahkan minyaknya dapat digunakan untuk meminyaki tubuh dan juga sebagai bahan bakar penerangan.

(وَنَخْلا)

dan buah kurma. (‘Abasa: 29)

yang dapat dimakan dalam beberapa keadaan m

(وَحَدَائِقَ غُلْبًا)

kebun-kebun (yang) lebat. (‘Abasa: 30)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

(وَفَاكِهَةً وَأَبًّا)

dan buah-buahan dan rumput-rumputan. (‘Abasa: 31)

Yang dimaksud dengan fakihah ialah semua jenis buah-buahan yang dimakan untuk bersenang-senang.

Adapun Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

(مَتَاعًا لَكُمْ وَلأنْعَامِكُمْ)

untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternak kalian. (‘Abasa: 32)

Kita sering lupa atas kenikmatan yang Allah berikan kepada kita secara terus menerus.

فاإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ (33) يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ (38) ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ (39) وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ (40) تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ (41) أُولَئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ (42)

Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri. tertawa dan gembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu (penghinaan) , dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka. Qs Abasa 33-42.

Kenapa kita lari dari saudaranya? Karena kita takut dituntut sebab tidak melaksanakan hak.
Tafsir lain, kita sibuk dengan urusan kita masing-masing.

Kafarah =keyakinan
Fajarah = kemaksiatan.

##$$-aa-$$##

Juz30

TAFSIR JUZ AMMA – QS AN NAZIAT
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?