Uncategorized

KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 23 – ORANG-ORANG YANG MAMPU MENAHAN AMARAH DAN BERHATI-HATI

7 menit membaca

*KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 23 – ORANG-ORANG YANG MAMPU MENAHAN AMARAH DAN BERHATI-HATI*
Ustadz Rizal Yuliar Putrananda
9 Sya’ban 1446H/ 8 Februari 2025
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Ustadz memulai dengan Doa Memohon Ilmu Yang Bermanfaat Dan Berlindung Dari Ilmu Yang Tidak Bermanfaat

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

Allaahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’an, wa a’uudzu bika min ‘ilmin laa yanfa’.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Dan doa memohon kebaikan seluruh urusan,

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَل الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَل المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Allahumma ashlih lana diynanladzi huwa ‘ishmatu amrina, wa ashlih lana dunyanalattiy fiyha ma’asyuna, wa ashlih lana aakhirotanalati ilaiha ma’aduna, waj’al hayat ziyadatan Lana fiy kulli khoir, waj’al mauta roohatan lana min kulli syarrin 

“Ya Allah, perbaikilah agama kami yang merupakan penjaga urusan kami, perbaikilah dunia kami yang merupakan tempat hidup kami, perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami dan jadikan kehidupan kami sebagai penambah kebaikan kami serta jadikanlah kematian kami sebagai istirahat kami dari segala keburukan.””

Dua sifat ini, jujur dan amanah, sering di jadikan dalam satu hadits.

Demikian juga bahwa Rasulullah ﷺ sejak kecil dikenal sebagai pribadi yang jujur dan amanah..

Sholat jumat pertama yang dilaksanakan setelah sholat Jumat di Masjid Nabi adalah sholat Masjid Abdul Qais di Juwatsa di Bahrain.

Dari Anas bin Malik : Beberapa orang tamu dari Bahrain datang kepada Nabi ﷺ, kemudian Nabi meminta air wudhu terus berwudhu, kemudian mereka berebut bekas air wudhu Nabi dan meminum air yang mereka dapatkan (sisa di bejana) dan air yang terjatuh di tanah, lalu mereka usapkan ke muka, kepala dan dada mereka, maka Nabi bertanya kepada mereka, “Apa yang membuat kalian melakukan itu?”.
Mereka menjawab, “cinta kami terhadapmu wahai Rasulullah, semoga Allah mencintai kami.” Beliau bersabda, “Jika kalian ingin dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka jagalah tiga sifat : bicara jujur, menunaikan amanah dan bertetangga yang baik, karena menyakiti tetangga itu akan menghapus kebaikan sebagaimana matahari melelehkan es”. HR Bukhari dan Muslim.

✅ Ada 4 hal disini.
1. Mencari berkah dari diri Rasulullah ﷺ.
2. Jujur
3. Amanah
4. Bertetangga dengan baik

Keberkahan tidak hanya pada sabda Rasulullah ﷺ tapi juga pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Contoh dalam hadits ini adalah air bekas wudhu.

Tidak ada hadits yang menjelaskan sahabat mencari keberkahan pada diri Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali… Sekalipun hadits dhaif.

Dalam hadits lain,

عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي قُبَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ وَرَأَيْتُ بِلَالًا أَخَذَ وَضُوءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ يَبْتَدِرُونَ الْوَضُوءَ فَمَنْ أَصَابَ مِنْهُ شَيْئًا تَمَسَّحَ بِهِ وَمَنْ لَمْ يُصِبْ مِنْهُ شَيْئًا أَخَذَ مِنْ بَلَلِ يَدِ صَاحِبِهِ

dari ‘Aun bin Abu Juhaifah dari Ayahnya dia berkata, saya menemui Nabi ﷺ ketika beliau tengah berada di tenda besar yang terbuat dari kulit, dan saya melihat Bilal tengah mengambilkan tempat air wudu Nabi ﷺ sementara orang-orang berlomba-lomba untuk mendapatkan bekas wudu beliau, dan siapa yang mendapatkannya maka ia akan membasuhkannya namun bagi yang tidak mendapatkannya, maka ia mengambil dari sisa air yang menetes dari temannya.” HR Bukhari.

Demikian juga dengan hadits berikut..

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ بَيْتَ أُمِّ سُلَيْمٍ فَيَنَامُ عَلَى فِرَاشِهَا وَلَيْسَتْ فِيهِ قَالَ فَجَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَامَ عَلَى فِرَاشِهَا فَأُتِيَتْ فَقِيلَ لَهَا هَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَامَ فِي بَيْتِكِ عَلَى فِرَاشِكِ قَالَ فَجَاءَتْ وَقَدْ عَرِقَ وَاسْتَنْقَعَ عَرَقُهُ عَلَى قِطْعَةِ أَدِيمٍ عَلَى الْفِرَاشِ فَفَتَحَتْ عَتِيدَتَهَا فَجَعَلَتْ تُنَشِّفُ ذَلِكَ الْعَرَقَ فَتَعْصِرُهُ فِي قَوَارِيرِهَا فَفَزِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَصْنَعِينَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا قَالَ أَصَبْتِ

dari Anas bin Malik dia berkata, “Rasulullah ﷺ pernah berkunjung ke rumah Ummu Sulaim. Lalu beliau tidur di atas tempat tidur Ummu Sulaim, ketika ia sedang tidak berada di rumah. Anas berkata, ‘Pada suatu hari, Rasulullah ﷺ datang ke rumah kami dan tidur di atas tempat tidur Ummu Sulaim. Kemudian Ummu Sulaim disuruh pulang dan diberitahu bahwasanya Nabi ﷺ sedang tidur di atas tempat tidurnya. Anas berkata, ‘Ketika Ummu Sulaim tiba di rumah, Nabi ﷺ telah berkeringat, dan keringat beliau tergenang di tikar kulit di atas tempat tidur.’ Maka Ummu Sulaim segera membuka tasnya dan segera mengusap keringat Rasulullah dengan sapu tangan dan memerasnya ke dalam sebuah botol. Tiba-tiba Nabi ﷺ terbangun dan terkejut seraya berkata, ‘Apa yang kamu lakukan hai Ummu Sulaim? Ummu Sulaim menjawab, ‘Ya Rasulullah, kami mengharapkan keberkahan keringat engkau untuk anak-anak kami. Rasulullah ﷺ bersabda, “Kamu benar hai Ummu Sulaim!” HR Muslim.

✅ Para shahabat sangat bersemangat untuk mencari keberkahan dari Nabi ﷺ. Pernah suatu saat Nabi ﷺ diberi hadiah pakaian burdah yang bagus, dan Nabi ﷺ memakainya karena membutuhkan.
Seorang sahabat memuji bagus pakaian Rasulullah ﷺ dan memintanya. Nabi ﷺ pun memberikannya karena beliau ﷺ tidak pernah menolak permintaan orang lain. Maka para sahabat lain berkata padanya bahwa dia melakukan hal yang tidak baik.. Namun dia malah menjawab bahwa kain burdah tersebut akan dipakai sebagai kain kafan jenazah nya kelak. HR Bukhari.

Tabaruk itu hanya bermanfaat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang beriman tidak ada faidahnya.
Seperti dalam hadits ini..

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ ابْنُ سَلُولَ جَاءَ ابْنُهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ أَنْ يُعْطِيَهُ قَمِيصَهُ أَنْ يُكَفِّنَ فِيهِ أَبَاهُ فَأَعْطَاهُ ثُمَّ سَأَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّيَ عَلَيْهِ فَقَامَ عُمَرُ فَأَخَذَ بِثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُصَلِّي عَلَيْهِ وَقَدْ نَهَاكَ اللَّهُ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا خَيَّرَنِي اللَّهُ فَقَالَ { اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً } وَسَأَزِيدُ عَلَى سَبْعِينَ قَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ فَصَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ } و حَدَّثَنَاه مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ قَالَا حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ الْقَطَّانُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ فِي مَعْنَى حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ وَزَادَ قَالَ فَتَرَكَ الصَّلَاةَ عَلَيْهِمْ

dari Ibnu ‘Umar dia berkata, “Ketika Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal dunia, anak laki-lakinya -yaitu Abdulah bin Abdullah- datang kepada Rasulullah ﷺ seraya memohon kepada beIiau agar sudi memberikan baju beliau kepada Abdullah untuk kain kafan ayahnya, Abdullah bin Ubay bin Salul. Lalu Rasulullah ﷺ memberikan bajunya kepada Abdullah. Setelah itu, Abdullah juga memohon Rasulullah agar beliau berkenan mensalati jenazah ayahnya. Kemudian Rasulullah pun bersiap-siap untuk mensalati jenazah Abdullah bin Ubay, hingga akhirnya Umar berdiri dan menarik baju Rasulullah seraya berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau akan mensalati jenazah Abdullah bin Ubay sedangkan Allah telah melarang untuk mensalatinya?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan pilihan kepadaku.” Lalu beliau membacakan ayat yang berbunyi, “Kamu memohonkun ampun bagi orang-orang munafik atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka, maka hal itu adalah sama saja. sekalipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali (QS. At-Taubah 9: 80). Oleh karena itu, aku akan menambah istighfar lebih dari tujuh puluh kali untuknya.” Umar bin Khaththab berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Ia adalah orang munafik?” Tetapi, rupanya Rasulullah ﷺ tetap saja mensalatinya, hingga Allah menurunkan ayat Al-Qur’an, “Janganlah kamu sekali-kali mensalati jenazah seorang di antara orang-orang munafik dan janganlah kamu berdiri di atas kuburnya.” (QS. At-Taubah 9: 84). Dan telah menceritakannya kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan ‘Ubaidullah bin Sa’id keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya yaitu Al Qaththan dari ‘Ubaidillah melalui jalur ini mengenai Hadits yang semakna dengan Abu Usamah namun ada tambahan, ‘Kemudian beliau meninggalkan salat untuk mereka (orang-orang munafik) HR Muslim.

Selanjutnya adalah berkata jujur, tunaikan amanah dan bertetangga dengan baik.

Sifat jujur sering Allah gandengkan takwa dengan jujur.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّـٰدِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.
Surat At-Taubah (9) Ayat 119

Penilaian baik masyarakat belum tentu baik menurut takaran Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْ جَآءَ بِا لصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهٖۤ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang yang bertakwa.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 33)

Dalam bercanda pun tidak boleh berbohong. Rasulullah ﷺ bercanda saja juga tidak berbohong.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaqnya.” [HR. Abu Dawud; shahih]

Hati-hati memberi hukum/fatwa tanpa ilmu, karena itu bisa jadi berdusta atas nama Allah dan dusta atas nama Rasulullah ﷺ.

Diriwayatkan dari Al Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

”Sesungguhnya berdusta atas namaku itu tidak sama dengan berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa yang dengan sengaja berdusta atas namaku, maka persiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dusta yang diperbolehkan adalah hanya tiga hal…
1. Dalam rangka Mendamaikan
2. Dalam peperangan
3. Dusta suami/istri pada pasangannya – tidak mengurangi/gugurkan hak pasangan dan dilakukan untuk keutuhan rumah tangga.

➡️ Amanah..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَا لرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْۤا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَ نْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 27)

Kalau ana orang yang tengok kanan kiri baru cerita itu nama nya amanah… (hadits).

Allah anugerahkan jasad kita ini juga amanah. Amanah untuk beribadah, sabar saat duduk di majelis ilmu dst.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَ مَا نَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا لْجِبَا لِ فَاَ بَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَ شْفَقْنَ مِنْهَا وَ حَمَلَهَا الْاِ نْسَا نُ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا 

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh,”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 72)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَ مٰنٰتِ اِلٰۤى اَهْلِهَا

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 58)

➡️ BERBUAT BAIK KEPADA TETANGGA

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا عْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـئًـا ۗ وَّبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَ الْمَسٰكِيْنِ وَا لْجَـارِ ذِى الْقُرْبٰى وَا لْجَـارِ الْجُـنُبِ وَا لصَّا حِبِ بِا لْجَـنْبِۢ وَا بْنِ السَّبِيْلِ ۙ وَمَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَا نَ مُخْتَا لًا فَخُوْرًا 

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 36)

Ulama ada yang menjelaskan, tetangga itu adalah 40 rumah dari kita.

Tetangga, kita harus berbuat baik pada mereka baik itu kerabat atau bukan.

Jangan sakiti tetangga…

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي النَّارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنْ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ هِيَ فِي الْجَنَّةِ. رواه أحمد.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata, “Seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, ada seorang perempuan yang terkenal dengan banyak melaksanakan shalat, puasa, dan sedekah, hanya saja ia menyakiti tetangganya dengan lisannya. Beliau bersabda, “Ia di neraka.” Laki-laki itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seorang perempuan yang terkenal dengan sedikit puasa, sedekah, dan shalatnya. Ia hanya sedekah dengan sepotong keju, tetapi ia tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Maka beliau bersabda, “Ia di surga.” (HR Ahmad)

Tetangga, bisa yang menetap di rumah tinggal tapi juga orang yang dekat kita, saat dalam perjalanan, duduk di majelis dan seterusnya.. ✅

Rasulullah ﷺ bersabda,

خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

“Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah seorang yang terbaik terhadap temannya. Dan tetangga yang paling terbaik di sisi Allah adalah seorang yang paling baik baik terhadap tetangganya.” HR Tirmidzi.

Semoga bermanfaat.

#salaf #cinta #Allah #surga #sunnah #jujur #amanah #tetangga #pemimpin #rasul

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?