TematikUstadz Dr. Andy Octavian Latief MSc

Tanda Allah Menghendaki Kebaikan untuk Hamba-Nya

Diterbitkan pertama kali pada: 09-Okt-2020 @ 21:14

3 menit membaca

Tanda Allah Menghendaki Kebaikan untuk Hamba-Nya
Ustadz Dr Andy Octavian Latief, MSc.
22 Shafar 1442H
ITB2020 Mengaji

Kita harus bersyukur atas nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita.
Salah satu bentuk syukur adalah dalam bentuk ketaatan kepada Allah, salah satunya adalah dalam majelis ilmu.

Mari kita luruskan niat kita karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. .” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tanda Allah Menghendaki kebaikan hamba-hamba-Nya adalah dengan memberi pemahaman agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ada sifat ridho dan iradah dari Allah. Allah akan gerakkan hatinya untuk cinta agama dan gerakan kaki untuk menuju majelis ilmu.

Kalau kita renungan hadits ini, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menggunakan kalimat syarat…

Khairan (خيرا) adalah ism nakiroh – dalam syarat maka makna nya umum, kebaikan umum baik kebaikan dunia dan akhirat.

Man (من) adalah siapa, Juga untuk umum. Baik itu laki-laki atau perempuan, kaya miskin dst.

Allah akan naikkan derajat orang-orang yang berilmu.

Hendaknya hadits ini dijadikan untuk introspeksi, apakah hati kita condong untuk belajar memahami ilmu syariat.
Bila itu ada maka itu tanda kebaikan pada kita.
Bila tidak maka seharusnya jadi cambuk diri kita untuk belajar agama.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kaitkan kebaikan dengan agama.

يفقهه

Al fiqih dalam hadist tersebut adalah Al Qur’an dan As-Sunnah. Inilah makna kata fiqih jika disebutkan di dalam ayat atau hadits.

Akan tetapi, kata fiqih sekarang sudah bergeser maknanya menjadi sebuah cabang ilmu yang membahas hukum Allah tentang amal perbuatan manusia, seperti thaharah, shalat, zakat, puasa, haji, mu’amalat, dll (ini adalah makna fikih secara istilah)

Imam Abu Hanifah punya kitab Al Fiqh Akbar yang isinya aqidah.

Dalam hadits tersebut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengaitkan kebaikan dengan ilmu agama (ilmu syari).

Ilmu syari adalah sumber semua kebaikan dunia dan akhirat.

Manusia yang terbaik adalah yang paham agama.

Manusia itu bermacam-macam..

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

النَّاسُ مَعَادِنُ كَمَعَادِنِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي اْلإِسْلاَمِ إِذَا فَقُهُوا وَالْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Manusia ibarat barang tambang berharga seperti tambang emas dan perak. Orang yang mulia pada masa jahiliyah, akan menjadi orang yang mulia juga dalam Islam apabila ia berilmu. Ruh ibarat pasukan yang dikumpulkan, ia akan bersatu jika serasi dan akan berselisih jika tidak serasi”. [HR Muslim].

Ilmu syari dikaitkan dengan kebaikan, karena menuntut ilmu itu ibadah.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah,shahih)

Ibadah adalah sesuatu yang dicintai Allah dan ini adalah kebaikan yang besar.

Muawiyah radhiyallahu anhu adalah salah satu perawi utama hadits utama ini.
Hadits ini beliau sampaikan pada saat berkhutbah.
Dan hadits ini Dinukil banyak sekali ulama sampai sekarang..
Cuma satu kalimat tapi seluruh kaum muslimin hingga akhir zaman mengambil manfa’at darinya.

Alangkah baiknya bagi kita untuk ambil ibrah dari Muawiyah dalam menyampaikan ilmu.. Barangkali salah satu usaha kita tersebut bisa membawa kita ke surga.
Kita harus berusaha sebarkan ilmu sesuai dengan kemampuan kita.

Ilmu syari dikaitkan dengan kebaikan seluruhnya, karena ilmu syari adalah ilmu yang membimbing kita beramal dengan benar.

Ibadah ada 2.

1. Ibadah dengan hati: aqidah
2. Ibadah dengan jawarih: puasa, sholat dll

Aqidah yang benar akan jadi benteng. Seperti yang telah dikatakan oleh Abu Hurairah,

لكل شيء عماد، وعماد هذا الدين الفقه، وما عُبد الله بشيء أفضلَ من فقه في الدين، وفقيه واحد أشدُّ على الشيطان من ألف عابد

“Setiap sesuatu itu punya pilar. Dan pilar agama adalah fiqh. Tidaklah Allah diibadahi dengan sesuatu yang lebih afdhal daripada fiqh fid-din (memahami agama). Satu orang faqih itu lebih berat untuk syaithan daripada seribu ahli ibadah.”

Itu karena satu orang faqih dapat menebarkan kebaikan kepada manusia dengan ilmunya, dan dapat memperingatkan manusia dari berbagai syubhat dan syahwat.

Kebaikan dikaitkan dengan Ilmu syari, karena Allah akan angkat derajat seseorang yang paham ilmu agama.

Dan orang-orang yang paham agama akan mendapatkan surga.

Kata jannah, berasal dari 3 huruf asl (ج ن ن) yang maknanya tersembunyi.

Oleh karena itu, jika kita perhatian dengan masa depan kita di akhirat kelak, kita harus menimba ilmu syar’i agar kita mendapatkan derajat yang tinggi di Surga Allah.

##$$-aa-$$##
______
.
📺 Instagram: instagram.com/itb2020mengaji
📠 Telegram: t.me/itb2020mengaji
🎙️ Twitter: twitter.com/itb2020mengaji
📱 Facebook: facebook.com/itb2020mengaji
🔊 Soundcloud: soundcloud.com/itb2020mengaji

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?