TematikUstadz Musa Mulyadi, Lc

MENGAGUNGKAN NABI ﷺ DAN PERINTAHNYA

Diterbitkan pertama kali pada: 24-Des-2023 @ 05:56

4 menit membaca

*MENGAGUNGKAN NABI ﷺ DAN PERINTAHNYA*
Ustadz Musa Mulyadi, Lc
11 Jumadil Akhir 1445 H / 24.12.2023
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi

Tema ini terkait hak-hak Nabi shallallahu alaihi wasallam yang harus dipenuhi oleh umat muslim.

Mengagungkan perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah bagian dari kesempurnaan syahadatain kita.

Nabi ﷺ diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai saksi kita di akhirat kelak, pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ اِنَّاۤ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًا 
“Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan,”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 45)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لِّـتُؤْمِنُوْا بِا للّٰهِ وَ رَسُوْلِهٖ وَتُعَزِّرُوْهُ وَتُوَقِّرُوْهُ ۗ وَتُسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا
“agar kamu semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pagi dan petang.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 9)

🔸Ayat lain adalah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَ اتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 1)

Ayat ini adalah larangan tidak boleh mendahului Nabi shallallahu alaihi wasallam, larangan adab yang buruk.

Sahlun bin Abdillah – berkata jangan berbicara saat Nabi ﷺ berbicara dan diam serta dengarkan.

Juga larangan memberi hukum/putusan sebelum Nabi ﷺ memberi hukum/putusan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْۤا اَصْوَا تَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِا لْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَا لُكُمْ وَاَ نْـتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 2)

🔸Ini merupakan etika lainnya yang melaluinya Allah mendidik hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka jangan meninggikan suaranya di hadapan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam lebih tinggi daripada suaranya. Menurut suatu riwayat, ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang sahabat , yakni Abu Bakar dan Umar yang saat itu berbicara terlalu keras suaranya. Setelah turun ayat ini Abu Bakar dan Umar kalau berbicara kepada Nabi ﷺ seperti berbisik.

🔸Ibnu az-Zubair berkata,”Umar tidak pernah memperdengarkan suaranya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah turun ayat ini, kecuali bila ingin meminta penjelasan pada beliau.” (Al Bukhari)

Sementara Tsabit bin Qais, orang yang suaranya sangat keras, pernah mengeraskan suaranya di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia duduk di rumahnya dengan kepala tertunduk karena dirinya merasa sebagai ahli neraka dengan sebab kerasnya suara tersebut, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga.

Begitu juga saat ini perintah berlaku.

1. Jangan bersuara keras saat ziarah ke makam Nabi shallallahu alaihi wasallam.
2. Jangan memotong hadits, jangan potong temanya.

🔸Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِن وَرَآءِ ٱلْحُجُرَٰتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.
Surat Al-Hujurat (49) Ayat 4

Ayat ini adalah perintah untuk memanggil Nabi dengan Yaa Nabi, bukan nama langsung.

Maka ini adalah larangan untuk membuat candaan terkait Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقُولُوا۟ رَٰعِنَا وَقُولُوا۟ ٱنظُرْنَا وَٱسْمَعُوا۟ ۗ وَلِلْكَـٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌۭ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.
Surat Al-Baqarah (2) Ayat 104

📍Para sahabat sangat mengagungkan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Amr bin al-Ash –radhiyallahu ’anhu- berkata,”Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak ada yang lebih mulia di mataku dibandingkan beliau. Aku tidak mampu menatap beliau demi mengagungkannya. Seandainya aku ditanya, tentang sifat-sifat beliau, tentu aku tidak sanggup menyebutkannya, karena aku tidak pernah menatap beliau dengan pandangan yang tajam.”

🔸Para sahabat saling berebut air bekas wudhu Nabi ﷺ juga saat Nabi ﷺ meludah, keluarkan dahak , namun mereka tidak melakukannya kepada sahabat yang lain. Ini hanya khusus kepada Nabi. Para sahabat saat Haji, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tahalul, mereka ambil rambut Nabi shallallahu alaihi wasallam dan membagi rambut Nabi kepada para shahabat.

❌Maka jangan melakukan yang demikian kepada Ustadz, Kyai, Gus, orang sholeh (misalnya minum bekas minum mereka, rebutan puntung rokok sisa).

❓❓ Bagaimana kita agungkan Nabi ﷺ setelah beliau wafat?

Fudhail bin Iyadh – Sesungguhnya penghormatan dan pengagungan kepada Nabi ﷺ adalah lazim sampai sekarang.

Ketika Shirah Nabi dibacakan hendak nya kita dengarkan dengan pengagungan.

Bershalawat saat mendengar Nabi ﷺ disebut.

Kita juga harus mengagungkan ahlu bait dan para sahabat.

Imam Malik selalu berwudhu seperti akan sholat bila akan memulai majelis ilmu nya.
Beliau selalu menegur murid nya yang bersuara dengan suara yang keras.
Imam Malik bila disebut Nama Nabi dihadapannya langsung lemas.

Kita juga diperintahkan untuk menghormati para istri Nabi (ibunda Kaum muslimin) dan keluarga Nabi (Ahlu Bait).

📍‼️Ittiba Nabi shallallahu alaihi wasallam yang paling utama adalah mengikuti sunnah Nabi Muhammad ﷺ.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imron: 31)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

#agungkan #perintah #nabi #sunnah #salaf #ittiba

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?