Diterbitkan pertama kali pada: 12-Nov-2022 @ 19:52

5 menit membaca

*IKHLAS – SILSILAH AMALAN HATI-1*
Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary
17 Rabi’ul Tsani 1444H /12 Nop 2022
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Ustadz memulai dengan doa memohon tambahan ilmu.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

Allaahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’an, wa a’uudzu bika min ‘ilmin laa yanfa’.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Amalan hati adalah pokok – sumber
Amalan lahiriah adalah pengikut dan penyempurna.

Contoh amalan lahiriah : sholat, puasa, baca Qur’an, haji dst

Hati – bukan liver – tapi Qalbu – perasan yang ada dalam dada kita.

✅ *KEIKHLASAN*

1️⃣. *Pengertian*.

Ikhlas dari bahasa Arab – akhlasa – yukhlisu
Memurnikan sesuatu.

Secara istilah syariat.

🔸Ibnul Qayyim dalam Madarijus Shalihin Ikhlas adalah menjadikan Allah satu-satunya yang dimaksud dalam mengerjakan ketaatan.

🔸Hudzaifah Al Marasy : Ikhlas adalah samanya perbuatan hamba baik di hadapan khalayak ramai atau saat sendirian.

🔸Ibnul Qayyim dalam Madarijus Shalihin : Ikhlas adalah tidak menuntut atas sebuah amalan seorang yang menyaksikan selain Allah. Dan tidak menuntut seorang yang memberi pahala kecuali dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2️⃣ *Hukum Ikhlas*

Ikhlas hukum nya wajib dalam setiap perintah dari Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۙ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ 

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”
(QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 5)

Dari hadits.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3️⃣ Agungnya keikhlasan melaluii perkataan ulama salaf.

Yahya bin Abi Katsir – belajarlah niat sesungguhnya dia lebih dahsyat dari pada amalan.

4️⃣ *Buah Manis*

1. Diterimanya amal ibadah yang ikhlas.
2. Berpahala amalan Ikhlas
3. Diampuni dosa

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ

“Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu. Setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zholim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.” Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Dan sungguh tidak akan ada kezaliman atasmu hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh’. Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya.Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tadi. (HR. Ibnu Majah)

4. Niat yang ikhlas, meskipun belum dilakukan – tetap mendapat pahala…

“…..Sesungguhnya dunia diberikan untuk empat orang:

(1) seorang hamba yang Allah berikan ilmu dan harta, kemudian dia bertaqwa kepada Allah dalam hartanya, dengannya ia menyambung silaturahmi, dan mengetahui hak Allah di dalamnya. Orang tersebut kedudukannya paling baik (di sisi Allah).

(2) Seorang hamba yang Allah berikan ilmu namun tidak diberikan harta, dengan niatnya yang jujur ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan Si Fulan.’ Ia dengan niatnya itu, maka pahala keduanya sama.
(3) Seorang hamba yang Allah berikan harta namun tidak diberikan ilmu. Lalu ia tidak dapat mengatur hartanya, tidak bertaqwa kepada Allah dalam hartanya, tidak menyambung silaturahmi dengannya, dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya. Kedudukan orang tersebut adalah yang paling jelek (di sisi Allah). Dan (4) seorang hamba yang tidak Allah berikan harta tidak juga ilmu, ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan Si Fulan.’ Ia berniat seperti itu dan keduanya sama dalam mendapatkan dosa.” [Ahmad (IV/230-231)

5. Kebiasaan yang ikhlas bisa menjadi bernilai ibadah dan mendapatkan pahala.

5️⃣ Hanya orang-orang yang ikhlas yang selamat dari godaan syetan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَـقَدْ هَمَّتْ بِهٖ ۚ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَاۤ اَنْ رَّاٰ بُرْهَا نَ رَبِّهٖ ۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّۤوْءَ وَا لْـفَحْشَآءَ ۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَا دِنَا الْمُخْلَصِيْنَ

“Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 24)

6. Buah manis – mendapatkan jalan keluar dari kesulitan…
Lihat kisah 3 pemuda yang terjebak dalam gua.

Meninggalkan kemaksiatan adalah salah contoh yang bisa dapat pahala.

7. Bisa hilangkan kesulitan dunia.

6️⃣ *Bila Amalan tidak ikhlas*

1. Tidak masuk surga.
2. Masuk ke dalam neraka Jahanam.
Hadits 3orang yang awal masuk neraka karena tidak ikhlas (Jihad, menuntut ilmu dan dermawan)
3. Tidak diterima amalannya.

7️⃣ *Keadaan para salafus sholeh dengan ikhlas*

🔸Para salafus sholeh anggap Ikhlas itu sulit tapi tidak mustahil.

🔸Mengikhlaskan niat lebih sulit daripada sebelum melakukan amalan tersebut

🔸Para salaf tidak mau MENSIFATI dirinya orang sholeh.

Hisyam Bin Abdullah Ad Distiwai: aku tidak ucapkan ingin melihat wajah Allah setiap beliau duduk di majelis ilmu hadits. Padahal beliau dikenal sangat Ikhlas.

Hisyam bin Abdullah – saat gelap beliau menjawab ingat kegelapan dunia.

🔸Para salafus sholeh senantiasa sembunyikan amalan,bahkan kepada orang yang terdekat.

Ada yang selama 40 tahun puasa sunnah tidak diketahui oleh istrinya.

🔸Tidak suka ketemu orang.
Biasanya orang yang dilihat orang akan mulai berpura-pura.

🔸Menyembunyikan amalan.
A. MAWARDI – TIDAK MAU BUKU KARYA BELIAU dibagikan – takut riya.

8️⃣ *permasalahan seputar Ikhlas*

🔸1. Kapan menampakkan amalan disyariatkan?
Apabila dalam penampakan amalan adalah untuk dicontoh dan memberi motivasi.
Apabila tidak bisa tidak ditampakkan (Haji, Umrah, Sholat Jumat)
Amalan-amalan tersebut antara boleh ditampakkan, boleh disembunyikan. (seperti sedekah)

🔸2. Meninggalkan beramal karena takut riya…. Ini adalah penyimpangan.

🔸3. Beramal dan niatnya dibarengi sesuatu.

A. Beramal karena Allah semata
B. Beramal karena Allah dan dibarengi niat tambahan – berhaji sambil dagang untuk nafkah keluarga.

C. Beramal karena Allah tapi dibarengi niat yang terlarang.

D. Beramal syari dengan niat awal bukan karena Allah.

Misal – puasa karena ingin sehat.

E. Beramal karena Allah tapi ingin dipuji.

4. Berdusta agar tidak dianggap riya. Ini tidak boleh.

5. Perkara dianggap riya padahal bukan.

A. Jika dipuji manusia padahal tidak menuntut
B. Terkenal padahal dia tidak menuntut
C. Semangat Karena lihat orang lain yang semangat
D. Penampilan baik
E. Tutupi dosa.

Semoga bermanfaat.

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?