Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MATafsir

TAFSIR QS AL MAI’DAH Bagian #14: AYAT 77-86

This entry is part 14 of 18 in the series Tafsir QS Al Maidah

Diterbitkan pertama kali pada: 08-Nov-2020 @ 20:40

6 menit membaca

TAFSIR QS AL MAI’DAH Bagian #14: AYAT 77-86
Ustadz Dr Firanda Andirja MA
24 Rabi’ul Awal 1442H
Kajian Masjid AlIkhlas Dukuh Bima

Allah berfirman,

قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوٓا۟ أَهْوَآءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا۟ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا۟ كَثِيرًا وَضَلُّوا۟ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.” QS. Al-Ma’idah : 77

Setiap ghuluw adalah tidak benar.
Ahli Kitab diisi bersifat umum,
Ibnul Qayyim menjelaskan ahlu kitab maksudnya Nasrani karena ayat sebelumnya tentang Nasrani.

Sedang jumhur ulama berpendapat ahli kitab umum.

Ghuluw, yang dilakukan Yahudi adalah menuduh Isa adalah anak zina.

Nasrani, ghuluw mereka angkat beberapa makhluk sebagai Tuhan : Nabi Isa, Malaikat, Maryam.

Juga ghuluw dalam ibadah, misalnya tidak menikah. Jika merubah hukum dalam kitab mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kaum nasrani dan yahudi,

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (QS. At Taubah : 31)

Ayat ini ditafsirkan dengan hadits Adi bin Hatim Ath Thoo-i radhiyallahu ‘anhu dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat tersebut kepada beliau. Kemudian beliau berkata : “Wahai Rasulullah, kami tidaklah beribadah kepada mereka”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أليس يحلون لكم ما حرم الله فتحلونه، ويحرمون ما أحل الله فتحرمونه؟

“Bukankah mereka menghalalkan untuk kalian apa yang Allah haramkan sehingga kalianpun menghalalkannya, dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan sehingga kalian mengharamkannya?”. Beliau (Adi bin Hatim) berkata : “Benar”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فتلك عبادتهم

“Itulah (yang dimaksud) beribadah kepada mereka”

Mereka juga menghalalkan babi yang diharamkan.

Pada tahun 325 Masehi, ada muktamar ulama Nasrani dan menetap Isa Putra Allah.

Muktamar selanjutnya tahun 381M mereka menetapkan ruhul kudus jadi Tuhan dan membantah Isa adalah manusia.

Sebelum datang Nabi Muhammad ﷺ mereka sudah sesat dan setelah itu mereka juga menyesatkan, terkumpul 2 kesesatan pada mereka.

Selanjutnya, Allah berfirman.

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ

Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Nabi Dawud (di zabyr) dan Isa bin Maryam (di Injil) . Yang demikian itu karena mereka maksiat kepada Allah dan melakukan pelanggaran hak manusia. QS. Al-Ma’idah : 78

Laknat = terjauhkan dari rahmat Allah.

Yang dilaknat:

$ orang-orang bani Israil yang kafir
Bani Israil adalah keturunan Nabi Yakub.

Al Qurthubi tidak melepaskan mereka dari laknat Allah karena maksiat mereka.

Yang dilaknat:

1. Sebelum Zaman Nabi Muhammad ﷺ

A. Adalah orang yang diubah menjadi babi dan monyet.

B. Orang kafir kepada Al Maidah.

2. Setelah Jaman Nabi Muhammad ﷺ yaitu semua bani Israil yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Mereka meninggalkan nahi munkar.

Ada 3 tingkatan.

1. Berdakwah : menyampaikan tentang yang ma’ruf dan haramnya kemungkaran.
Meskipun yang ma’ruf sedang dikerjakan atau kemungkaran belum terjadi.

2. Beramar ma’ruf nahi munkar ,jika ada ma’ruf yang ditinggalkan. Jika kemungkaran dilakukan. (ini lebih khusus).

Ini umum, boleh dilakukan siapa saja yang kompeten. (Syaikh Utsaimin)

3. Merubah kemungkaran, menghentikan kemungkaran yang sedang terjadi dengan fisik. Ini hak orang yang memiliki kekuasaan.
Kalau di rumah maka kepala keluarga boleh merubah kemungkaran, adapun secara masyarakat umum, maka hanya pemerintah.

Ada 4 syarat merubah kemungkaran :

1. Berilmu bahwa hal itu memang kemungkaran yaitu yang disepakati merupakan kemungkaran, atau ada khilaf tapi khilaf yang muktabar (tidak dianggap).
Contoh musik halal adalah khilaf yang tidak dianggap.

2. kemungkaran tersebut memang mungkar pada orang tertentu, misalnya di bulan Ramadhan, makan siang adalah kemungkaran, tapi sebagian orang tidak misal karena sakit atau musafir.

3. tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar, misalnya melarang sesuatu tetapi malah syirik.. Dll. Perlu lihat situasi dan kondisi.

4.ada khilaf : yang bernahi mungkar harus tidak melakukan kemungkaran tersebut (syarat dari banyak ulama misalnya Al Qurthubi).
Yang benar, ini bukan syarat.

Allah berfirman,

كَانُوا۟ لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ

Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar atas apa yang mereka lakukan. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat. QS. Al-Ma’idah : 79

Nabi ﷺ bersabda,

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِى النَّارِ ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِى النَّارِ ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ ، فَيَقُولُونَ أَىْ فُلاَنُ ، مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Ada seseorang yang didatangkan pada hari kiamat lantas ia dilemparkan dalam neraka. Usus-ususnya pun terburai di dalam neraka. Lalu dia berputar-putar seperti keledai memutari penggilingannya. Lantas penghuni neraka berkumpul di sekitarnya lalu mereka bertanya, “Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu dahulu yang memerintahkan kami kepada yang kebaikan dan yang melarang kami dari kemungkaran?” Dia menjawab, “Memang betul, aku dulu memerintahkan kalian kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya. Dan aku dulu melarang kalian dari kemungkaran tapi aku sendiri yang mengerjakannya.” (HR. Bukhari no. 3267 dan Muslim no. 2989)

Mereka di laknat karena tidak saling mencegah kemungkaran.

Allah berfirman,

تَرَىٰ كَثِيرًا مِّنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنفُسُهُمْ أَن سَخِطَ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِى ٱلْعَذَابِ هُمْ خَٰلِدُونَ

Kamu melihat banyak di antara mereka loyal dengan orang-orang kafir (musyrik dan munafik). Sungguh, sangat buruk apa yang mereka lakukan untuk diri mereka sendiri, yaitu kemurkaan Allah, dan mereka akan kekal dalam neraka jahanam. QS. Al-Ma’idah : 80

Ini dalil bahwa Allah punya sifat murka.

Allah berfirman,

وَلَوْ كَانُوا۟ يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلنَّبِىِّ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مَا ٱتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَآءَ وَلَٰكِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُمْ فَٰسِقُونَ

Dan sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Muhammad) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan menjadikan orang musyrik itu sebagai teman setia. Tetapi banyak di antara mereka orang-orang yang fasik.
QS. Al-Ma’idah : 81

Ini ayat kewajiban beriman kepada Allah, kepada Nabi, dan Al Qur’an.

Allah berfirman,

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةً لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشْرَكُوا۟ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُم مَّوَدَّةً لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّا نَصَٰرَىٰ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

لَتَجِدَنّ
Ada penguatan..

Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.” Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta (Ahli ilmu) dan para rahib (Ahli ibadah) , (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri.
QS. Al-Ma’idah : 82

Allah sebutkan perbedaan

Yahudi = paling keras permusuhan kepada mukmin, karena mereka angkuh, merasa terbaik dan paling benar.

Nasrani = lemah lembut kepada mukmin, karena ada orang alim yang tahu akan kebenaran Al Qur’an dan kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

Ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Ditafsirkan, ayat menjelaskan keadaan ahli kitab saat itu.

Tafsir lain juga sifat umum, sampai sekarang. Secara umum jenis Yahudi lebih parah dari Nasrani.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, tentang Nasrani.

وَإِذَا سَمِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ تَرَىٰٓ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا۟ مِنَ ٱلْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱكْتُبْنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ

Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata, “Ya Tuhan, kami telah beriman , maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad). QS. Al-Ma’idah : 83

Raya Najasyi saat Ja’far menjelaskan Maryam dan Nabi Isa, sampai menangis.

Ini Nasrani yang dekat dengan Nabi Muhammad ﷺ yaitu yang masuk Islam.

Saksi dalam ayat ini adalah kaum Mukminin.
Menjadi saksi umat sebelumnya. Ini kemuliaan.

Allah melanjutkan,

وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَمَا جَآءَنَا مِنَ ٱلْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَن يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلصَّٰلِحِينَ

Dan mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat berharap agar Allah kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang saleh?”
QS. Al-Ma’idah : 84

Setelah mereka masuk Islam mereka berharap masuk surga.
Kita berharap masuk surga tapi tidak boleh PD.

فَأَثَٰبَهُمُ ٱللَّهُ بِمَا قَالُوا۟ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْمُحْسِنِينَ

Maka Allah memberi pahala kepada mereka atas perkataan yang telah mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan. QS. Al-Ma’idah : 85

جَنَّٰتٍ

Jannaat dalam lafazh jamak karna surga itu bertingkat-tingkat.

Allah berfirman..

وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَكَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَآ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْجَحِيمِ

Dan orang-orang yang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. QS. Al-Ma’idah : 86

Al Jahim, nyala api yang sangat besar.. (salah satu nama neraka)

Semoga bermanfaat.

##$$-aa-$$##

Digita Template

Tafsir QS Al Maidah

TAFSIR QS AL MAI’DAH Bagian #13: AYAT 67-76 TAFSIR QS AL MAI’DAH Bagian #15: AYAT 87-91
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?