TAFSIR QS AL BAQARAH AYAT 254-255
Diterbitkan pertama kali pada: 04-Nov-2023 @ 06:55
6 menit membaca*TAFSIR QS AL BAQARAH AYAT 254-255*
Ustadz Muhammad Shoim Lc
20 Rabi’ul Akhir 1445H / 04.11.2023
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
✅ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيْهِ وَلَا خُلَّةٌ وَّلَا شَفَا عَةٌ ۗ وَا لْكٰفِرُوْنَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datangnya hari dimana tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Orang-orang kafir itulah orang yang dzalim.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 254)
Melalui ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berinfak, yakni membelanjakan sebagian dari apa yang Allah rezekikan kepada mereka di jalan-Nya, yaitu jalan kebaikan.
Ini adalah isyarat bahwa apa yang kita sedekahkan adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan juga isyarat bahwa yang disedekahkan hanya sebagian kecil harta yang Allah titipkan.
Dengan demikian, berarti mereka menyimpan pahala hal tersebut di sisi Tuhan yang memiliki mereka semua; dan agar mereka bersegera melakukan hal tersebut dalam kehidupan di dunia ini, yaitu:
{مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ}
sebelum datang suatu hari. (Al-Baqarah: 254)
Kalau di dunia sebutir kurma bisa selamatkan kita dari api neraka, sedangkan di akhirat sebanyak apapun harta tidak bisa.
Hari yang dimaksud adalah hari kiamat.
لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلا خُلَّةٌ وَلا شَفاعَةٌ
yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat. (Al-Baqarah: 254)
Artinya, pada hari itu seseorang tidak dapat membeli dirinya sendiri; tidak dapat pula menebusnya dengan harta, sekalipun ia menyerahkannya dan sekalipun ia mendatangkan emas sepenuh bumi untuk tujuan itu.
(يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ * وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ * وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ)
pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. (‘Abasa: 34-36)
❗Kelak di akhirat semua bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ – أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا – اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ ، لاَ أُغْنِى عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، يَا بَنِى عَبْدِ مَنَافٍ ، لاَ أُغْنِى عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، لاَ أُغْنِى عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ ، لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِى مَا شِئْتِ مِنْ مَالِى ، لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
“Wahai orang-orang Quraisy -atau kalimat semacam itu- selamatkanlah dirimu. Aku tidak bisa melindungimu (dari siksa Allah) sedikit pun. Wahai Bani Abdi Manaf, aku tidak bisa melindungimu (dari siksa Allah) sedikit pun. Wahai ‘Abbas bin Abdil Muthallib, aku tidak bisa melindungimu (dari siksa Allah) sedikit pun. Wahai Shafiyah, bibi Rasulullah, aku tidak bisa melindungimu (dari siksa Allah) sedikit pun. Wahai Fatimah, anak perempuan Muhammad, mintalah kepadaku dari hartaku yang Engkau kehendaki, (akan tetapi) aku tidak bisa melindungimu (dari siksa Allah) sedikit pun” (HR. Bukhari dan Muslim).
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
{وَلا شَفَاعَةٌ}
dan tidak ada lagi syafaat. (Al-Baqarah: 254)
Yakni tiada bermanfaat bagi mereka syafaat orang-orang yang memberikan syafaat nya. Termasuk syafaat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Harus dapat izin dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَالْكافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah: 254)
Mubtada dalam ayat ini dibatasi oleh khabar-nya, yakni orang-orang yang benar-benar zalim di antara mereka yang datang menghadap kepada Allah adalah orang yang kafir.
Dzalim itu meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya karena menyembah makhluk. Orang kafir dzalim karena kesyirikannya, kedzaliman yang paling besar.
♦️Semua agama yang ajak penganutnya menyembah makhluk kecuali Islam.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Ata ibnu Dinar, bahwa ia pernah berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah berfirman: ‘Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim’ (Al-Baqarah: 254) dan tidak mengatakan dalam firman-Nya, ‘Orang-orang zalim itulah orang-orang yang kafir’.”
Zakat – mensucikan harta
Sedekah dari kata صدق shidqun – jujur – yaitu jujur keimanan. Sedekah dalam keadan susah – adalah ujian kejujuran, dan pahalanya lebih besar.
Zakat/sedekah itu melindungi harta kita. Allah Yang akan jaga harta. Sedekah tidak akan kurangi harta.
Sedekah juga bisa bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit. Sedekah yang sembunyi dapat memadamkan kemurkaan Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وداوُوا مرضاكم بالصدقة
“Obatilah orang-orang sakit kalian dengan bersedekah.” (shahih)
✅ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَـيُّ الْقَيُّوْمُ ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ ۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا بِاِ ذْنِهٖ ۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ ۚ وَلَا يَــئُوْدُهٗ حِفْظُهُمَا ۚ وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 255)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِي دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ إِلاَّ أَنْ يَمُوْتَ
Barangsiapa membaca ayat kursi di akhir setiap shalat, maka tidak yang menghalanginya untuk masuk surga kecuali kematian [HR. An-Nasa’i]
Demikian juga dibaca saat pagi dan petang serta sebelum tidur.
Dalam kisah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan setan yang mencuri harta zakat, disebutkan bahwa setan tersebut berkata,
“Biarkan aku mengajarimu beberapa kalimat yang Allah memberimu manfaat dengannya. Jika engkau berangkat tidur, bacalah ayat kursi. Dengan demikian, akan selalu ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.”
➡️ Keutamaan ayat ini, Terdapat hadits shahih dari Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam – bahwa ia termasuk ayat yang paling utama dalam Kitabullah.
عن أُبي هو ابن كعب أن النبي – صلى الله عليه وسلم – سأله أي آية في كتاب الله أعظم قال: الله ورسوله أعلم فرددها مرارا ثم قال: آية الكرسي قال” ليهنك العلم أبا المنذر والذي نفسي بيده إن لها لسانا وشفتين تقدس الملك عند ساق العرش (وقد رواه مسلم .. وليس عنده زيادة والذي نفسي بيده إلخ)
“Dari Ubay yaitu bin Ka’ab, sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bertanya kepadanya tentang ayat apakan yang paling agung dalam Kitabullah, beliau menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau ulang pertanyaannya beberapa kali. Kemudian dia menjawab, “Ayat kursi.” Maka beliau mengatakan, “Selamat bagi anda wahai Abu Mundzir (Ubay bin Ka’ab) dengan ilmu anda. Demi yang jiwaku yang ada di tangan-Nya. Sesungguhnya (ayat Kursi) mempunyai mulut dan dua bibir yang disucikan para Malaikat di kaki Arsy.” (HR Muslim)
Ayat kursi isinya terkait tauhid. Dikatakan bahwa jalan paling singkat mengenal Allah adalah dengan merenungkan ayat kursi.
➡️ Terdiri dari 10 kalimat yang menjelaskan siapa Allah yang bisa berdiri sendiri.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
مَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُصْبِحَ ، وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُمْسِيَ
“Barangsiapa membacanya ketika sore, ia akan dilindungi dari kami sampai pagi. Barangsiapa membacanya ketika pagi, ia akan dilindungi sampai sore.” (HR Thabrani).
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Abu Laila, dari saudaranya (yaitu Abdur Rahman ibnu Abu Laila), dari Abu Ayyub, bahwa ia selalu kedatangan jin yang mengganggu dalam tidurnya. Ia mengadukan hal tersebut kepada ﷺ , maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya: Apabila kamu melihatnya, maka ucapkanlah, “Bismillah (dengan menyebut asma Allah), tunduklah kepada Rasulullah!” Ketika jin itu datang, Abu Ayyub mengucapkan kalimat tersebut dan akhirnya ia dapat menangkapnya. Tetapi jin itu berkata, “Sesungguhnya aku tidak akan kembali lagi,” maka Abu Ayyub melepaskannya. Abu Ayyub datang dan Nabi ﷺ bertanya, “Apakah yang telah dilakukan oleh -tawananmu?” Abu Ayyub menjawab, “Aku dapat menangkapnya dan ia berkata bahwa dirinya tidak akan kembali lagi, akhirnya dia kulepaskan.” Nabi ﷺ menjawab, “Sesungguhnya dia akan kembali lagi.” Abu Ayyub melanjutkan kisahnya, “Aku menangkapnya kembali sebanyak dua atau tiga kali. Setiap kutangkap, ia mengatakan, ‘Aku sudah kapok dan tidak akan kembali menggoda lagi.’ Aku datang lagi kepada Nabi ﷺ dan beliau bertanya, ‘Apakah yang telah dilakukan oleh tawananmu?’ Aku menjawab, ‘Aku menangkapnya dan ia berkata bahwa tidak akan kembali lagi.’ Maka beliau ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya dia akan kembali lagi.’ Kemudian aku menangkapnya kembali dan ia berkata, ‘Lepaskanlah aku, dan aku akan mengajarkan kepadamu suatu kalimat yang harus kamu ucapkan, niscaya tiada sesuatu pun yang berani mengganggumu, yaitu ayat Kursi’. Abu Ayyub datang-‘kepada Nabi ﷺ dan menceritakan hal itu kepadanya. Lalu beliau ﷺ bersabda: Engkau benar, tetapi dia banyak berdusta.
Dalam kisah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan setan yang mencuri harta zakat, disebutkan bahwa setan tersebut berkata,
“Biarkan aku mengajarimu beberapa kalimat yang Allah memberimu manfaat dengannya. Jika engkau berangkat tidur, bacalah ayat kursi. Dengan demikian, akan selalu ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.”
Ketika Abu Hurairah menceritakannya kepada Rasulullah ﷺ, beliau berkata,
“Sungguh ia telah jujur, padahal ia banyak berdusta.” (HR. Bukhari)
Ini tidak berarti bahwa kita bisa belajar dari jin, kita tidak tahu apakah yang jin sampaikan itu benar atau salah, kalau Nabi ﷺ tentu karena wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Cari teman saja harus hati-hati, maka harus lebih hati-hati dalam mencari guru.
Berarti jin/tuyul bisa mencuri.
Disebut ayat kursi – karena didalamnya ada kata kursi. Ibnu Abbas mengatakan kursi adalah tempat berpijak kedua kaki Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga bermanfaat.
##$$-aa-$$##
#jin #tuyul #ayatkursi #kursi


