Diterbitkan pertama kali pada: 08-Jul-2020 @ 21:19

4 menit membaca

Tafsir Al-Qur’an Qs Al Baqarah 182-185
Ustadz Muhammad Shoim
7 Ramadhan 1440H

Allah berfirman,

فَمَنْ خَافَ مِنْ مُوصٍ جَنَفًا أَوْ إِثْمًا فَأَصْلَحَ بَيْنَهُمْ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

(Akan tetapi) barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Al-Baqarah: 182)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

، فَيَدْخُلُ النَّارَ، وَإِنَّ الرجل ليعمل بعَمَل أهل الشر سبعينَ سنة، فَيَعْدِلُ فِي وَصِيَّتِهِ، فَيُخْتَمُ لَهُ بِخَيْرِ عَمَلِهِ، فيدخل الجنة”

Sesungguhnya seorang lelaki benar-benar mengamalkan suatu amalan ahli kebaikan selama tujuh puluh tahun; tetapi apabila ia berwasiat, lalu ia berat sebelah dalam wasiatnya itu, maka dia akan diakhiri dengan keburukan amalnya, lalu dimasukkan ke dalam neraka. Dan sesungguhnya seorang lelaki benar-benar mengamalkan suatu amalan ahli keburukan selama tujuh puluh tahun, tetapi ternyata berlaku adil dalam wasiatnya, maka dia akan diakhiri dengan kebaikan amalnya, lalu dimasukkan ke dalam surga.
Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa QS Al Baqarah 183.

Puasa disyariatkan pada tahun ke 2 Hijriah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpuasa Ramadhan 9x, namun semuanya waktunya berkah dengan ibadah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sholat malam, membaca surat Al Baqarah, An Nisa, Ali Imran, dengan sujud, ruku yang waktunya hampir sama dengan waktu berdirinya.

Batas awal puasa itu sejak terbit fajar, awal adzan.

Puasa adalah menahan diri dari apa yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Setiap puasa ada pada agama, dengan cara yang berbeda.
Puasa ahli kitab dimulai dari malam, tidak ada sahur.
Puasa sebelumnya, ada larangan untuk berhubungan dengan istri di waktu malam.

Kaum sebelumnya diwajibkan untuk puasa 3 hari dalam sebulan, wajib puasa Asyura.
Kewajiban ini dihapus (jadi sunnah) dengan syariat puasa Ramadhan.

Makan minum yang halal saja dilarang saat puasa maka seharusnya yang haram (dusta, ghibah dll) pun juga ditinggalkan, itulah makna tujuan bertakwa.

Syetan dibelenggu, sehingga dorongan berbuat dosa menurun, dan dorongan untuk beramal shaleh meningkat, itulah makna bertakwa.

Juga kondisi puasa yang lama akan membiasakan diri untuk beramal shaleh dan menghindari dosa.

Ayyaman makdudad = beberapa hari, maksudnya,
Allah menyebut sebagai hikmah puasa itu sebentar, dan waktu terasa sangat cepat.

{فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ}

Maka jika di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. (Al-Baqarah: 184)

Saat safar, pendapat terkuat tergantung kondisi safar, bila safar ringan sebaiknya puasa, bila berat safarnya bisa menjadi wajib untuk berbuka.

{فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ}

Maka jika di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. (Al-Baqarah: 184)

Qadha itu boleh nanti-nanti, boleh selang-seling.

Hutang puasa yang belum dibayar sampai Ramadhan berikutnya, dilihat apakah dia ada kesempatan untuk qadha atau tidak.
Bila ada udzur (sakit terus menerus) maka tidak perlu bayar puasa nya.

{وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ}

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. (Al-Baqarah: 184)

فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

طَعَامُ
= makanan

Cara bayar fidyah bisa dengan memberi makan (jadi) kepada fakir miskin.
Atau boleh memberi makanan pokok (1/2 zakat fitrah).

Boleh dibayarkan kepada 1 orang atau beberapa orang.

Wanita hamil menyusui, ada 3 pendapat..

1. Imam Ahmad = wajib qadha
2. Imam Syafi’i = wajib qadha dan bayar fidyah
3. Ibnu Abbas, Ibnu Umar = cukup bayar fidyah.

Kalau sebab tidak puasa karena nifas maka wajib qadha puasa.

Ramadhan = panas.
Ada yang memaknai panas untuk bakar dosa.
Ada yang memaknai dinamakan saat musim panas.

{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (185) }

Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu; dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. Hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur. Qs Al Baqarah 185.

Lauhul mahfuz ke langit dunia = langsung
Dari langit dunia kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertahap sesuai kejadian.

Turun wahyu ada masa fatrah (jeda), supaya rasa takut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkurang, juga supaya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam rindu untuk menerima wahyu.

Turun Al Alaq, diangkat sebagai Nabi.
Turun Al Mudatsir, diangkat jadi Rasul.

firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{قُمْ فَأَنْذِرْ}

bangunlah, lalu berilah peringatan! (Al-Muddatstsir: 2)

Allah menurunkan kitab lain juga di bulan Ramadhan, riwayat Imam Ahmad.
Kitab lain semua turun secara langsung.

Telah diriwayatkan pula melalui hadis Jabir ibnu Abdullah yang di dalamnya disebutkan:

أَنَّ الزَّبُورَ أُنْزِلَ لثنتَي عَشْرَةَ [لَيْلَةً] َلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَمَانِي عَشْرَةَ،

Bahwa kitab Zabur diturunkan pada tanggal dua belas Ramadan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal delapan belasnya.

Alquran menggunakan kata ANZALA (أَنْزَلَ) seperti ayat di atas dan NAZZALA (نَزَّلَ). Keduanya diartikan ke dalam Bahasa Indonesia dengan makna yang sama: MENURUNKAN.

Dapat dibaca di dalam kitab Tafsir Surah an-Nur karya Syaikh Muhammad ibn Muhammad al-Mukhtaar asy-Syinqithiyy bahwasanya ANZALA maknanya adalah MENURUNKAN SEKALIGUS, sedangkan NAZZALA bermakna MENURUNKAN SECARA BERANGSUR-ANGSUR

Al Quran turun secara bertahap, supaya ada makna yang lebih berkesan sesuai dengan peristiwa yang terjadi , dan ada rindu akan turun wahyu.

Kitab selain Al Qur’an bukan mu’jizat karena bisa dirubah (oleh manusia)

Mu’jjzat = yang dapat melemahkan.

Al Qur’an mengalahkan ketinggian bahasa yang jadi kebanggaan para ahli syair.

Sebagaimana firman-Nya :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya [al-Hijr/15:9]

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?