Diterbitkan pertama kali pada: 29-Jul-2020 @ 08:00

8 menit membaca

*ZAID BIN TSABIT SANG PENULIS WAHYU*
Ustadz Dr Firanda Andirja, M.A
8 Dzulhijjah 1441H

Para Sahabat sering dipuji Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti firman-Nya,

{كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ}

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. (Ali Imran: 110)

Allah juga berfirman,

{وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (100) }

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dari Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik Allah rida kepada mereka dan menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya mereka kekal di dalammnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar.
Qs Taubat ayat 100.

Mereka adalah murid-murid langsung Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Para sahabat cenderung pada amal sholeh sepeti :
– Jihad : Khalid bin Walid, Abu Ubaidah bin Al Jarrah

– sedekah : Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf

– tegas dalam kebenaran : Umar bin Khaththab

– terkenal dengan ilmu seperti Abu Hurairah, Ibnu Abbas

– terkenal dengan Al Qur’an seperti Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit.

– ada sahabat yang mengumpulkan semuanya, misalnya Abu Bakar..

ZAID BIN TSABIT, Terkenal dengan Al Qur’an dan ilmu.

Ayahnya : Tsabit bin Zaid An Najarry Al Khozrojy, wafat dalam perang Buath (perang saudara antara Khozroj dan Aus)

Ibunya : Nuwar binti Malik bin Sirma bin Adi.

Anak mereka ada 2,satunya Yazid bin Tsabit.. Juga banyak ikut perang..

ZAID lahir 11 th sebelum hijrah..

Ketika ayah meninggal umur Zaid 6 th..

Nuwar menikah dengan Umaarah bin Hazm (ikut serta dalam Baiatul Aqibah 2)

Umarah inilah yang merawat Zaid, dan wafat th 11 H dalam perang Al Yamamah (melawan Musailamah Al Khadzab) jaman Abu Bakar.

Zaid bin Tsabit setelah besar menikah dengan 3 istri :

1. Ummu Jamil bintu al Mujalil (Quraisy) – janda yang punya 2 anak dari suami sebelumnya (Hatim bin Haris).
2. Ummu Saad binti Saad bin Rabi’
3. Amrah bintu Muadz bin Anas.

Anak dari,
1. Ummu Jamil : Sa‘id bin Zaid

2. Ummu Saad, anaknya banyak diantaranya Khorija bin Zaid bin Tsabit – 1 diantara 7 ahli fiqih di Madinah

3. Amrah – anaknya juga banyak..

Tsabit bin Tsabit masuk Islam sebelum datang Nabi shallallahu alaihi wasallam.

*Keistimewaan Zaid..*

1. Penulis wahyu untuk catat Al Qur’an,

2. beliau juga sekretaris Nabi untuk menulis surat kepada para raja.

3. Penterjemah Nabi shallallahu alaihi wasallam, jika datang surat kepada Nabi.

Menguasai bahasa Ibrani, Siryani (Bahasa Nabi Isa),

Beliau menguasai bahasa Persia, Romawi,, Qibthi (Mesir) dan Habasya.

4. Ahli Faraid – warisan..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللَّهِ عُمَرُ وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَقْرَؤُهُمْ أُبَيٌّ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ وَأَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ

“Umatku yang paling penyayang terhadap yang lain adalah Abu Bakar. Yang paling kokoh dalam menjalankan perintah Allah adalah Umar. Yang paling jujur dan pemalu adalah Utsman. Yang paling mengetahui halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal. Yang paling mengetahui ilmu fara’idh (pembagian harta warisan) adalah Zaid bin Tsaabit. Yang paling bagus bacaan Alqurannya adalah Ubay. Setiap umat mempunyai orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR. at-Turmudzi 3791).

Ilmu faraid adalah ilmu yang harus sering diulang supaya tidak lupa.

5. Diperintahkan khusus oleh Abu Bakar lalu Umar lalu Utsman untuk mengumpulkan Al Qur’an.

6. Beliau yang mendamaikan para sahabat ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat..

Zaid sudah hafal 17 surat sebelum Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang.

Zaid diminta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam belajar bahasa Ibrani..

Zaid bin Tsabit mengatakan, “Aku dipertemukan dengan Nabi saat beliau tiba di Madinah. Ada yang mengatakan, ‘Ini adalah seorang anak dari Bani Najjar. Ia telah menghafal 17 surat (diriwayat sebelumnya 16)’. Aku pun membacakannya di hadapan beliau. Beliau sangat terkesan. Lalu beliau berkata, ‘Pelajarilah bahasa Yahudi (bahasa Ibrani). Sesungguhnya aku takut akan tipu daya mereka pada kitab ini (Al Qur’an) ’. Aku pun melakukan apa yang beliau minta. Berlalulah waktu tidak lebih dari setengah bulan (15 hari) , aku pun mahir menguasainya. Kemudian aku menulis surat Nabi kepada mereka. Apabila mereka yang mengirimkan surat kepada beliau, akulah yang menerjemah.”

Belajar bahasa Ibrani tersebut saat itu juga untuk menjaga Al Qur’an..

Allah berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya [al-Hijr/15:9]

*Bagaimana cara menjaga Al Qur’an.*

1. Adanya penghafal Al Qur’an.. Allah jadikan Al Qur’an mudah dihafal..

2. Siapkan orang seperti Zaid bin TSABIT Dan para sahabat yang lain..

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga meminta Zaid belajar bahasa Suryani.

Dari Tsabit bin Ubaid dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, Rasulullah berkata kepadaku, “Apakah engkau bisa Bahasa Suryaniyah?” “Tidak,” jawabku. “Pelajarilah. Sungguh nanti akan datang surat-surat kepada kita”, pinta Rasulullah. Aku pun mempelajarinya dalam rentang waktu 17 hari.

Saat itu Zaid bin Tsabit, ikut dalam rombongan perang Uhud namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang ikut perang karena masih kecil, tapi Zaid ada di sekitar lokasi peperangan.

Selesai perang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta Zaid (14 th) untuk mencari Sa’ad bin Rabi, yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam persaudarakan dengan Abdurrahman bin Auf.

ketika itu, Rasulullah berpesan, “Jika engkau berjumpa dengannya sampaikanlah salamku kepadanya. Katakan kepadanya, “Rasulullah menanyakan bagaimana keadaanmu”.

Kemudian, Zaid berkeliling mencari Saad di sekitar jasad-jasad para syuhada. Setelah beberapa waktu, Zaid menemukan Saad bin Rabi yang terluka dengan tujuh puluh luka. Namun ia masih tetap hidup.

Zaid menyampaikan pesan Rasulullah, dengan suara tersendat, Saad berkata, “Tidak lama lagi aku akan meninggal, sampaikan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, aku mendapatkan wewangian surga. Semoga Allah  membalasmu dengan balasan terbaik sebagaimana balasan Allah Subhanahu wa Ta’ala , kepada seorang Nabi atas jasanya terhadap umatnya”.

Selanjutnya, Saad berpesan kepada kaum Anshar, “Sampaikan kepada kaumku, Anshar, ‘Sungguh tak ada alasan  bagi kalian di sisi Allah Ta’ala , seandainya terjadi apa-apa (luka) pada diri Rasulullah, sementara  kalian masih bisa mengedipkan mata, kemudian aku mencium bau surga dari gunung Uhud”.
Setelah berkata demikian, jiwa Saad wafat..

Putri Saad bin Rabi ini akhirnya menikah dengan Zaid bin Tsabit.

Pencatat Wahyu Allah, sesuai prioritas..

1. Utsman bin Affan
2. Ali bin Abi Thalib, bila keduanya gak ada baru ke 3..

3. Ubay bin Ka’ab
4. ZAID BIN TSABIT

Bila 4 tersebut gak ada… Maka yang lain.

5. Muawiyah bin Abi Sofyan
6. Khalid bin Sa’id bin Ash
Dll..yang jumlahnya banyak.

Dan Zaid yang paling banyak mulazamah dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Sehingga Zaid sangat paham ukuran baca ayat Al Qur’an..

“Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahuanhu, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahuanhu beliau berkata: “Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau bangkit untuk shalat. Anas lantas bertanya kepada Zaid, kira-kira berapa jarak waktu antara Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam makan sahur sampai adzan dikumandangkan?,

Zaid berkata: “kira-kira selama seseorang membaca 50 ayat”. [HR. al-Bukhari dan Muslim]

*Proses pencatatan Al Qur’an*

Ketika Abu Bakar jadi Khalifah, terjadi perang dengan Musailamah dan banyak para penghafal Al Qur’an yang gugur.

Saat Nabi masih hidup tidak membukukan karena wahyu masih turun, dan masih ada kemungkinan nasih mansukh..

Dalam kitab Shahih Bukahri disebutkan, bahwa Umar Ibn Khaththab mengemukakan pandangan tersebut kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu setelah selesainya perang Yamamah.

Abu Bakar tidak mau melakukannya karena takut dosa, sehingga Umar terus-menerus mengemukakan pandangannya sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan pintu hati Abu Bakar untuk hal itu, dia lalu memanggil Zaid Ibn Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, di samping Abu Bakar bediri Umar, Abu Bakar mengatakan kepada Zaid : “Sesunguhnya engkau adalah seorang yang masih muda dan berakal cemerlang, kami tidak meragukannmu, engkau dulu pernah menulis wahyu untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sekarang carilah Al-Qur’an dan kumpulkanlah!”,

Zaid sebenarnya merasa sangat berat, lebih berat dari pada memindahkan gunung..
Namun akhirnya Allah buka hatinya..

Zaid berkata : “Maka akupun mencari dan mengumpulkan Al-Qur’an dari pelepah kurma, permukaan batu cadas dan dari hafalan orang-orang. Mushaf tersebut berada di tangan Abu Bakar hingga dia wafat, kemudian dipegang oleh Umar hingga wafatnya, dan kemudian di pegang oleh Hafsah Binti Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Diriwayatkan oleh Bukhari secara panjang lebar.

Pengumpulan Al Qur’an ini bukan tujuan akhir tapi sarana ibadah. Seperti juga adanya mic sound system untuk dakwah..

Pada zaman Utsman, terdapat banyak cara baca Al Qur’an, dan Utsman memerintahkan Zaid bin TSABIT lagi untuk menyusun seusai bacaan yang disepakati oleh Zaid dan timnya seusai arahan Utsman.
Dan jadilah Al Qur’an yang sampai kepada kita.

Jasa Zaid bin TSABIT lainnya.

Saat Rasulullah shallallahu alaihi wafat, kelompok Muhajirin dan Anshar saling orasi dan klaim bahwa mereka yang berhak jadi pemimpin selanjutnya..

Lalu, Zaid bin Tsabit bangkit seraya berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah dari kaum Muhajirin. Pemimpin itu berasal dari Muhajirin. Kamilah yang akan menjadi penolong-penolongnya, sebagaimana kita dahulu menjadi penolong-penolong Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Selanjutnya, Abu Bakar berdiri seraya berkata, Semoga Allah membalas kebaikan untuk kalian, wahai kaum Anshar. Benarlah perkataan salah seorang di antara kalian itu. Ia melanjutkan, Demi Allah, sekiranya kalian tidak melakukan yang demikian, tentu kami tidak akan berdamai dengan kalian.”

ZAID bin TSABIT, adalah ahli ilmu yang disegani..

Asy-Sya’bi berkata : “Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu suatu ketika menshalati ibunya yang telah meninggal. Ketika telah selesai, maka untanya di dekatkan kepadanya agar dinaiki. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma kemudian datang mendekat dan mengambil tali kekang (untuk Zaid Radhiyallahu ‘anhu).

Melihat hal itu, Zaid Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Biarkan, wahai anak paman Rasulullah”.

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma menimpali : “Demikianlah seharusnya kita bersikap kepada ulama”.

Maka Zaid Radhiyallahu ‘anhu mencium tangan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dan membalas : “Demikianlah kita diperintahkan untuk berbuat kepada ahli bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Asy-Sifa 2/608]

Bila ada perselisihan bab Faraid, para sahabat ambil pendapat dari Zaid bin TSABIT.

Wafat tahun 50 H, dan ketika itu Ibnu Abbas datang dan berkata, “Inilah perginya Ilmu (bersama wafatnya ulama)”.

Semoga bermanfaat..

#

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?