RIYADHUS SHALIHIN # BAB 17 – Mengikuti Hukum Allah
Diterbitkan pertama kali pada: 28-Jun-2020 @ 16:15
4 menit membacaSYARAH KITAB RIYADHUS SHALIHIN bab 17 Mengikuti Hukum Allah
Ustadz Luthfi Abdul Jabbar
11 Muharam 1441H
Yang paling membahagiakan hati adalah pendekatan diri kepada Allah, bukan materi.
Orang yang salah dalam memahami konsep rezeki Maka Dia juga akan salah dalam kehidupan sehari-hari.
Kita harus mengutamakan rezeki akhirat, rezeki terbaik adalah rezeki terbaik. Sehingga yang Allah ajarin doa minta rezeki ilmu, tingkat rezeki paling tinggi.
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Wahai Rabb-ku, tambahkanlah ilmu kepadaku. (Thaha [20]: 114).
Doa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ajarkan adalah m
رَبِّ زدْنيِ عِلْماً وَ رْزُقْنيِ فَهْماً
“Yaa Rabb, tambahkanlah ilmu bagiku, dan berilah aku kefahaman”
Islam, ada 2..
1. Islam Kauny – tunduk yang tidak ada pilihan.
Contoh = kita lahir tidak bisa memilih.
2. ISLAM syariah, Islam yang tunduk kepada Syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan pasrah” (QS. An Nisaa’ [4]:65)
Semakin menerima hukum Allah, maka orang tersesat sempurna keimanan.
Banyak terjadi perselisihan rumah tangga karena tidak menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai penengah.
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. An Nuur [24]:51)
Kalau ada putusan dari Allah dan Rasul-Nya, maka orang beriman harus tunduk dan taat.
Pedoman yang Allah berikan pada hamba-hamba-Nya adalah untuk menjaga makhluk itu sendiri.
Dan pedoman yang benar adalah Al Qur’an.
Kalau akal kita tidak membenarkan isi Al Qur’an dan as sunnah maka sebenarnya akalnya salah.
Dari Abu Hurairah r.a.katanya: “Ketika ayat ini turun pada Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam yaitu-yang artinya: Bagi Allah adalah apa-apa yang ada di dalam langit dan apa yang ada di bumi. Jikalau engkau semua terangkan apa-apa yang dalam hatimu alau jikalau engkau semua sembunyikan itu, niscayalah Allah akan memperhitungkan semuanya,” sampai akhir ayat.
Di kala itu, maka hal yang sedemikian tadi dirasa amat beratoleh para sahabat Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam Mereka lalu mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam . kemudian mereka berjongkok di atas lutut mereka lalu berkata: “Ya Rasulullah, kita telah dipaksakan untuk melakukan amalan-amalan yang kita semua juga kuat melaksanakannya, yaitu shalat, puasa, jihad dan sedekah. Tetapi kini telah diturunkan kepada Tuan sebuah ayat dan kita rasanya tidak kuat melaksanakannya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Adakah engkau semua hendak mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh dua golongan ahlul kitab-kaum Nasrani dan Yahudi -yang hidup sebelummu semua ini, yaitu ucapan: “Kita mendengar tetapi kita menyalahi.” Tidak boleh sedemikian itu, tetapi ucapkanlah: “Kita mendengar dan kita mentaati. Kita memohonkan pengampunan padaMu, ya Tuhan kami , dan kepadaMulah tempat kembali.”
Setelah kaum – sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca itu, lagi pula lidah-lidah mereka telah tunduk – tidak bisa bercakap sesuatu, lalu Allah Ta’ala menurunkan lagi sesudah itu ayat – yang artinya:
“Rasul itu mempercayai apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, begitu pula orang-orang yang beriman. Semuanya percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitabkitabNya, dan rasul-rasulNya. Mereka berkata: “Kita tidak membeda-bedakan seorangpun di antara rasul-rasul Allah itu.” Mereka berkata lagi: “Kita mendengar dan kita mentaati. Kita memohonkan pengampunan daripadaMu, ya Tuhan kita dan kepadaMulah tempat kembali.”
Selanjutnya setelah mereka telah melaksanakan sebagaimana isi ayat di atas itu, lalu Allah ‘Azzawajalla menurunkan lagi ayat – yang artinya:
“Allah tidak melaksanakan kewajiban kepada seseorang, hanyalah sekedar kekuatannya belaka, bermanfaat untuknya apa-apa yang ia lakukan dan berbahaya pula atasnya apa-apa yang ia lakukan. Ya Tuhan kita, janganlah Engkau menghukum kita atas sesuatu yang kita lakukan karena kelupaan atau kekhilafan – yang tidak disengaja.”
Beliau Rasulullah shallallahu alaihi wasallam . bersabda:
“Benar, kita telah melaksanakan.”
“Ya Tuhan kita, janganlah Engkau pikulkan kepada kita beban yang berat, sebagaimana yang telah Engkau pikulkan kepada orang-orang yang terdahulu sebelum kita.”
Beliau bersabda:
“Benar.”
“Ya Tuhan kita, janganlah Engkau bebankan kepada kita sesuatu yang kita tidak kuat melaksanakannya.”
Beliau bersabda:
“Benar.”
“Dan berilah maaf dan pengampunan, belas kasihanlah kita. Engkau pelindung kita, maka tolonglah kita terhadap kaum kafirin itu.”
Beliau bersabda:
“Benar.”
(Ayat di atas dari surat QS. Al Baqarah [2]:286)
(HR. Muslim)
Mengapa Imam Nabawi membawa ayat-ayat tersebut?
Karena para sahabat adalah orang-orang yang tidak pernah membangkang perintah Allah dan Rasul-Nya.
Faidah bab ini.
1. Orang Islam harus tunduk dan patuh pada Allah dan Rasul-Nya.
2. Hukum Allah kepada kita pasti baik.
3. Ciri orang beriman, ketika mendapatkan hukum Allah dan Rasul-Nya baik perintah ataupun larangan, maka akan diterima dengan ikhlas.
Ketika kita belum melihat hikmah dari hukum Allah, bukan berarti tidak ada hikmah. Tetapi kita yang belum mampu melihat hikmah tersebut.
4. Kita wajib beramal sesuai kemampuan kita.
$$$#-aa-#$$$


