SYARAH KITAB KAIDAH FIQH- 18
Diterbitkan pertama kali pada: 06-Agu-2023 @ 06:09
3 menit membaca*SYARAH KITAB KAIDAH FIQH- 18* (Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa’di) Ustadz Dr Musyaffa Ad Dariny, Lc MA
Ahad, 17 Muharam 1445H /06.07. 2023 (Ba’da Subuh)
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
⚫ *KAIDAH 16* : melakukan yang adil itu diwajibkan atas segala sesuatu, sedangkan melakukan yang selebihnya (lebih dari adil) adalah dianjurkan.
🔸Adil adalah ketika engkau memberikan sesuatu yang diwajibkan kepadamu sebagaimana engkau ingin mendapatkan hak engkau.
🔸Sedangkan Al fadhl (lebih dari adil) adalah perbuatan kebaikan yang disunnahkan yang asli (bukan timbal balik). Atau sesuatu yang sifatnya tambahan dari sesuatu yang wajib.
🔹 Dalil
✅1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاَ قْسِطُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
“dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 9)
✅2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ نْ عَا قَبْتُمْ فَعَا قِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖ ۚ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ
“Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 126)
Tidak membalas itu fadhl.
✅3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَجَزٰٓ ؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚ فَمَنْ عَفَا وَاَ صْلَحَ فَاَ جْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya terserah Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 40)
Ini berat, tidak membalas kalau kita didzalimi.
Terserah = tidak ada kadarnya =sangat banyak.
Ini sama dengan yang disebutkan pahala puasa yang juga terserah Allah.
Tapi tidak semua orang pantas dimaafkan.
Ibnu Taimiyyah : memperbaiki (orang) itu wajib sedangkan memaafkan itu sunnah. Bila memaafkan itu menyebabkan orang itu semakin buruk maka tidak perlu dilakukan.
✔️Kaidah ini berlaku pada hak-hak yang berlaku pada Allah dan hak manusia.
Contohnya
✅ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ نْ كَا نَ ذُوْ عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ اِلٰى مَيْسَرَةٍ ۗ وَاَ نْ تَصَدَّقُوْا خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 280)
Wajib = menunggu
✅ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَإِخْوَانُكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ
Dan jika kamu mempergauli mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu. dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan.
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 220)
Saat turun ancaman untuk tidak makan harta anak yatim, padahal sahabat sangat gemar memberi nafkah anak yatim. Sahabat sempat membedakan piring makanan. Dan turun ayat ini untuk menjelaskannya.
✅ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيْهَاۤ اَنَّ النَّفْسَ بِا لنَّفْسِ ۙ وَا لْعَيْنَ بِا لْعَيْنِ وَا لْاَ نْفَ بِا لْاَ نْفِ وَا لْاُ ذُنَ بِا لْاُ ذُنِ وَا لسِّنَّ بِا لسِّنِّ ۙ وَا لْجُرُوْحَ قِصَا صٌ ۗ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهٖ فَهُوَ كَفَّا رَةٌ لَّهٗ ۗ وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
“Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qisasnya (balasan yang sama). Barang siapa melepaskan (hak qisas)nya, maka itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 45)
Tidak wajib memaafkan kesalahan orang lain, boleh balas tapi wajib adil.
✔️ Ketika memaafkan kedzaliman orang lain, dari pada menuntut hak..
Pahala
Kecintaan Allah
Ketenangan hati
Balasan yang lebih banyak dari hak kita saat di akhirat nanti.
✅ Perkataan buruk yang terang-terangan itu tidak disukai Allah kecuali kepada orang-orang yang berbuat dzalim.
Allah ta’ala berfirman;
لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا
“Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya (terdzolimi), dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
(QS An-Nisa 148)
Contoh dalam kaidah ini.
1. Bila kita hutang, maka saat kita kembalikan boleh memberi kelebihan saat kita kembalikan..
Namun bila sudah sering maka jadi riba.
⚫ *KAIDAH 17 :* barangsiapa yang tergesa-gesa mendapatkan sesuatu sebelum waktunya maka dia dihukum dengan tidak mendapatkannya
Para ulama membatasi ini dengan mendapatkan sesuatu dengan cara yang haram, bukan cara yang ma’ruf.
Sekolah akselerasi adalah contoh tergesa-gesa dengan cara yang dibolehkan.
✔️Contoh.
1. Pembunuh tidak mendapatkan warisan sama sekali.
Misal anak bunuh ayahnya.
2. Wasiat – ingin buat Fulan 1/3 bagian.
Tetapi Fulan tergesa-gesa dengan membunuh pemilik harta. Maka wasiat ini batal.
3. Orang yang menalak istri saat akhir hayat.
Karena ada perasan terpendam tidak suka pada istrinya. Talak bain… Maka istri nya tetap dapat warisan.
4. Orang lelaki yang memakai sutra nanti di akhirat tidak bisa memakai sutra.
Demikian juga orang yang minum khamr
5. Orang yang korupsi – akan dipecat dan hartanya disita.
Semoga bermanfaat.
##$$-aa-$$##

