Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, LcFaidah

KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH #7 BERTAWAKAL KEPADA ALLAH

Diterbitkan pertama kali pada: 09-Sep-2023 @ 18:25

7 menit membaca

*KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH #7 BERTAWAKAL KEPADA ALLAH*
Ustadz Rizal Yuliar Putrananda
23 Shafar 1444H/09.September.2023
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Ustadz memulai dengan khutbah hajjah. Kita tidak tahu amal sholeh mana yang diterima oleh Allah ﷻ, yang akan memberatkan timbangan kebaikan kita di akhirat kelak.

Duduk di majelis ilmu itu berat walaupun hanya sebentar, karena banyak sekali godaannya. Semoga kesabaran dan kesungguhan kita ditambah keikhlasan kita menjadi pemberat timbangan kebaikan kita kelak.

Rasulullah ﷺ bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya,
1. melainkan akan turun kepada mereka kedamaian/sakinah,
2. mereka akan dinaungi rahmat (kasih sayang) Allah,
3. mereka akan dilingkupi para malaikat (didoakan malaikat) dan
4. Allah akan menyebut-nyebut (memuji) mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim).

Seandainya ada yang tertidur dalam majelis ilmu, semoga masih dapat pahala.

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ

“Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR. Thabrani, hasan shahih)

Dan Allah akan angkat derajat orang-orang yang berilmu,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al Mujadilah : 11).

✅ Orang-orang yang bertawakal

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَا نْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَا عْفُ عَنْهُمْ وَا سْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَ مْرِ ۚ فَاِ ذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) bisa berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 159)

Fokusnya pada

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal

Kalau ditinjau umur kita, ternyata selama ini kita lebih banyak diberi waktu lapang/ kenikmatan dari pada waktu susah.
Allah uji Nabi Ibrahim alaihissalam untuk berpisah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ
“Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 122)

Ingatlah kisah Sarah yang cemburu kepada Hajar. Kecemburuan yang menghasilkan keberkahan bagi Hajar dan Ismail.

Ibnu Abbas Radhiyallahun anhuma meriwayatkan,  Nabi Ibrahim Alaihissalam membawa Hajar dan putranya Ismail –dalam keadaan Hajar menyusuinya- hingga Nabi Ibrahim Alaihissalam meletakkannya di tempat yang nantinya akan dibangun Baitullah; yaitu di dekat pohon besar di atas Zamzam, di atas bagian (yang nantinya berdiri di sana) masjid. Kala itu, di Mekkah tidak ada siapapun, dan tidak ada air. Nabi Ibrahim menempatkan keduanya di sana. Nabi Ibrahim pun meletakkan di dekat mereka sebuah geriba berisi kurma, dan wadah berisi air. Lalu Nabi Ibrahim membalikkan punggungnya untuk meninggalkan tempat tersebut.

Hajar mengikuti Nabi Ibrahim dan berkata, “Wahai Ibrahim! Kemana engkau hendak pergi meninggalkan kami di lembah yang tak berpenghuni dan tak ada apapun di sini?” Hajar mengucapkan kata-katanya berulang kali, namun Nabi Ibrahim tidak juga menolehnya. Akhirnya Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan hal ini kepadamu?”

Nabi Ibrahim menjawab, “Benar.” Hajar menimpali, “Kalau begitu, *Allah tidak akan menyia-nyiakan kami*.” kemudian Hajar kembali ke tempat semula.

Itulah tauhid yang kuat pada diri Hajar.
Dan ditanamkan pada diri Ismail sejak dini.

Hajar bertakwal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi Ibrahim Alaihissalam terus pergi, hingga ketika sudah berada di jalan pegunungan dan tidak terlihat lagi oleh Hajar dan putranya, Nabi Ibrahim menghadapkan wajahnya ke Baitullah, lalu beliau memanjatkan doa berikut dengan mengangkat kedua tangannya:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Rabb kami! sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, wahai Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.[ Ibrahim/ 14: 37]

Setelah itu, Hajar mulai menyusui Ismail. Ia meminum dari air yang ditinggalkan Nabi Ibrahim. Hingga ketika air telah habis, ia mulai merasa kehausan, begitu pula putranya, Ismail. Hajar menatap putranya yang meronta-ronta. Karena tak sanggup melihat keadaan putranya, Hajar berlarian meninggalkan putranya menuju bukit Shafa, bukit terdekat darinya. Ia naik lalu berdiri di sana dan memandangi lembah yang baru saja ia tinggalkan,  berharap ada orang lain di sana. Ternyata tidak ada seorangpun selain mereka berdua. Ia turun dari bukit Shafa dan terus berlari kecil melewati lembah sehingga sampai ke bukit Marwah. Ia berdiri di sana untuk memeriksa, apakah ada seseorang yang terlihat? Namun tidak ada seorang pun. Ia melakukan itu sampai 7 kali.

Ibnu Abbas berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

فَذَلِكَ سَعْيُ النَّاسِ بَيْنَهُمَا

Itulah (asal-mula) sa’i manusia (orang yang berhaji) di antara keduanya (Shafa dan Marwah).”

Tatkala Hajar berada di atas Marwah, ia mendengar suara. Ia berkata kepada dirinya, “Diamlah!” Lalu ia mencari-cari dengar dengan seksama. Ia berkata, “Engkau sudah memperdengarkan suaramu, bila memang engkau bisa menolong (maka tolonglah)”. Ternyata ia dapati sesosok malaikat (Malaikat Jibril) di tempat air zamzam yang sedang mencari dengan kakinya (bagian belakang) – (atau perawi berkata:) dengan sayapnya- hingga muncullah air. Kemudian Hajar membendung air tersebut lalu menciduknya ke dalam wadah airnya, sedangkan air tersebut menyembur setelah diciduk Hajar.

Ibnu Abbas berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

يَرْحَمُ اللَّهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ أَوْ قَالَ لَوْ لَمْ تَغْرِفْ مِنْ الْمَاءِ لَكَانَتْ زَمْزَمُ عَيْنًا مَعِينًا

Semoga Allah merahmati Ibu Ismail. Sekiranya ia membiarkan air Zamzam –atau beliau bersabda: Sekiranya ia tidak membendung air tersebut- tentulah air Zamzam sudah menjadi mata air yang memancar.”

Lalu, Hajar minum dan menyusui anaknya. Malaikat berkata kepadanya, “Janganlah takut binasa! Sesungguhnya di sini ini rumah Allâh (Baitullah). Anak ini dan ayahnya akan membangunnya. Dan sungguh, Allah tidak akan menyia-nyiakan orang-orang dekatnya.”

✅ Belajarlah dari tawakal nya Hajar.

Dalam sebuah hadits,

عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: 

*Jagalah (batasan-batasan) Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.*

Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu.

Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” HR Tirmidzi.

❗❗Perlu ditanamkan tauhid kepada istri dan anak-anak (karena bisanya suami meninggal duluan) – kalau saya meninggal duluan – lanjutkan hidup mu dengan mengabdi kepada Allah. Jagalah batasan – batasan Allah..

✖️ Sungguh keliru besar bila kita tinggalkan harta berlimpah kepada anak-anak, mereka akan hidup bahagia.

Dalam riwayat lain,
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺗَﻌَﺮَّﻑْ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﺧَﺎﺀِ ﻳَﻌْﺮِﻓُﻚ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸِّﺪَّﺓِ

“Kenalilah (ingatlah) Allah di waktu senang pasti Allah akan mengingatmu di waktu sempit.” (HR. Tirmidzi)

Senang = lapang = nikmat.

Yakinlah bahwa setiap solusi akan datang saat ujian semakin berat.

Ayat-ayat Al-Quran sangat banyak yang memerintahkan untuk bertawakal kepada Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِ 
“Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang,”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 217)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَـيِّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهٖ ۗ وَكَفٰى بِهٖ بِذُنُوْبِ عِبَا دِهٖ خَبِيْرًا 
“Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya,”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 58)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ وَكَفٰى بِا للّٰهِ وَكِيْلًا
” dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah yang menjadi pelindung.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 81)

✅ Allah janjikan kecukupan pada orang yang bertawakal.

🔸Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

“Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.””
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 173)

Inilah yang diucapkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat diserang musuh, juga diucapkan oleh Nabi Ibrahim saat dilempar ke dalam api.

Manjanik pertama kali ada di dunia ini saat digunakan untuk melempar Ibrahim alaihissalam dalam keadaan telanjang.

Itulah sebabnya saat di akhirat kelak Nabi Ibrahim yang pertama kali diberi pakaian.

🔹Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً

“Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.” (HR Muslim)

🔹Dan manusia yang pertama kali diberi pakaian adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيْمُ

“Sesungguhnya orang pertama yang diberi pakaian pada hari Kiamat adalah Nabi Ibrahim.” (HR Bukhari, shahih).

Nabi Ibrahim ditelanjangi karena memperjuangan tauhid.

🔸Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا تَوْفِيْقِيْۤ اِلَّا بِا للّٰهِ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَاِ لَيْهِ اُنِيْبُ

“Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.”
(QS. Hud 11: Ayat 88)

❓Apa itu tawakal?

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

ﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺗَﻮَﻛُّﻠِﻪِ ﻟَﺮُﺯِﻗْﺘُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺮْﺯَﻕُ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮُ ﺗَﻐْﺪُﻭ ﺧِﻤَﺎﺻًﺎ ﻭَﺗَﺮُﻭﺡُ ﺑِﻄَﺎﻧًﺎ

“Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang “ (HR.Tirmidzi, hasan shahih)

✅ Tawakal yang benar adalah.

1. Upayakan semua sebab, usaha (seperti Hajar)
2. Kejujuran Qalbu meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ingatlah pada hadits yang menyatakan orang yang bisa masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab,

هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari)

Jadi kalau mau ruqyah gimana? Usahakan untuk ruqyah sendiri.
Karena orang yang meminta ruqyah maka kadar tawakal kepada Allah berkurang.

Semoga bermanfaat..

##$$-aa-$$$$

Digita Template

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?