This entry is part 2 of 2 in the series Ushul-Tsalatsah
4 menit membaca

*USHUL TSALATSAH-02*
Syarah oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Ustadz Musa Mulyadi, Lc
25 Dzulhijjah 1446H/22 Juni 2025
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Penulis kitab ini adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Telah berlalu pembahasan yang 1️⃣ma’rifatullah

(الأُولَى) الْعِلْمُ وَهُوَ مَعْرِفَةُ اللهِ، وَمَعْرِفَةُ نَبِيِّهِ، وَمَعْرِفَةُ دِيْنِ الْإِسْلَامِ بِالْأَدِلَّة.

Syaikh berkata –

(الثَّانِيَة) الْعَمَلُ بِهِ.

2️⃣ Beramal dengannya.

Mengamalkan konsekuensi-konsekuensi yang ada dari ilmu tersebut.
Yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi ﷺ, mengenal perintah dan larangan.

Intinya adalah beramal berdasarkan ilmu.
Karena Beramal tanpa ilmu itu seperti kaum Nashara dan enggan beramal tapi berilmu itu seperti yahudi.

Dalam hadits – dulu Rasulullah ﷺ memberi waktu jeda dalam pengajaran – nasihat (mauidah), supaya tidak bosan.

(الثَّالِثَة) الدَّعْوَةُ إِلَيْهِ

3️⃣ Berdakwah kepada apa yang Rasulullah ﷺ ajarkan.

Ada tiga level dalam dakwah. . Qs An Nahl 125.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِا لْحِكْمَةِ وَا لْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَا دِلْهُمْ بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِا لْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 125)

1. Dengan hikmah
2. Peringatan yang baik
3. Berdebat

✅ Manusia ada tiga keadaan. Ini seperti penjelasan Syaikhul Islam Taimiyyah.

1. Tahu kebenaran dan mengamalkannya.
2. Tahu kebenaran tapi tidak mengamalkannya. Takut mengamalkannya, mungkin ada faktor lain. Didakwahi dengan peringatan yang baik.
3. Tidak tahu kebenaran dan menolak kebenaran.

Hikmah sesungguhnya adalah pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya. Dalam prakteknya lebih kepada adab, sopan santun.
Jadi hikmah bukan cara tapi sampaikan kebenaran.

Ibnu Taimiyah – semua orang membutuhkan dakwah yang hikmah dan peringatan yang baik.

Debat – ini level emergency. Jiddal yaitu dengan kalimat yang baik.

وَجَا دِلْهُمْ بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ

Disebut kan أَحْسَنُ yang lebih baik (paling baik), dan tidak semua orang mampu untuk Jiddal.

Jiddal dibutuhkan bila kebenaran yang nyata ditolak.

Selain ilmu yang mumpuni juga diperlukan pengendalian emosi yang bagus, tenang..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تُجَا دِلُوْۤا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ   ۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 46)

Dakwah ini harus diajak kepada Allah. Sesuai landasan yang Rasulullah ﷺ bawa dan ajarkan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْۤ اَدْعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ ۗ عَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَاۡ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah (tauhid) dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.””
(QS. Yusuf 12: Ayat 108)

Dan bashirah ini meliputi perkara yang akan dia dakwahkan, harus paham konten yang akan disampaikan. (Ibnu Utsaimin).

Jadi harus alim akan konten dan alim dalam hal cara penyampaian, dan paham keadaan orang yang Didakwahi.

Obyek dakwah itu banyak cara – misal ceramah, halaqah, menulis, muhadarah dst.

Dakwah yang paling utama adalah dakwah kepada keluarga sendiri. Ayah kepada keluarga, anak kepada orang tua.

Dakwah yang terbaik adalah dengan cara memberi contoh, ini juga yang paling berat.

Siapa yang ajak kebaikan maka pahala seperti yang berbuat (Hadits).

(الرَّابِعَةُ) الصَّبْرُ عَلَى الأَذَى فِيهِ، وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

4️⃣ Bersabar diatas kesusahan (di atas ilmu dan saat dakwah).

Ini maksudnya menghadapi/tanggulangi resiko.

Jadi perlu managemen resiko.

Ibnu Utsaimin, sabar ada tiga.

1. Sabar di atas taat kepada Allah. Tahan jiwa untuk terus taat.
2. Sabar tidak lakukan pelanggaran kepada Allah
3. Sabar atas takdir Allah. Misalnya sakit, usaha bangkrut. Sesuatu yang kita tidak inginkan. Sabar ketiga ini pasti terjadi karena faktor external.

Sabar di atas ketaatan, itu lebih berat karena jiwa itu menyuruh pada keburukan.

Firman Allah,

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Yusuf: 53)

🔹 Dalil dari 4 bahasan (pertama mengenal Allah).

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. QS Al-‘Asr, ayat 1-3

Al-a’ Sar waktu tempat kejadian terjadi.

Ibnul Qayyim, terkait jiwa rabbani.

1. Jiwa kita tundukkan di atas petunjuk, yaitu ilmu.
2. Mengekang jiwa untuk beramal.
3. Memaksa jiwa untuk berdakwah
4. Hendaknya berjihad untuk bersabar.

Bila seseorang sempurna dalam 4 hal akan menjadi rabbani.

Muhammad bin Idris Al Hasyimi Al Quraisy. (Imam Syafi’i).
Termasuk generasi Salaf..

Sangat penting untuk mengenal level ulama.

قال الشافعي رحمه اله تَعَالَى: لَوْ مَا أَنْزَلَ اللهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلا هَذِهِ السُّورَةَ لَكَفَتْهُمْ.

Syaikh menulis – Imam Syafi’i berkata –

Seandainya Allah tidak menurunkan bagi manusia satu argumentasi pun selain ayat ini, maka sudah cukup bagi mereka’.

وَقَالَ البُخَارِيُّ رحمه الله تعالى (بَابُ) ” العِلْمُ قَبْلَ القَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ}

Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata, ‘Bab tentang ilmu sebelum berkata dan beramal’ dan dalilnya adalah firman Allah ﷻ,

“Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan yang patut untuk disembah kecuali Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19)

Maka, Allah ﷻ memulai dengan ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.”

Semoga bermanfaat.

#salaf #sunnah #ushul #syariat #ridha #syahadat #iman #ilmu #dakwah

##$$-aa-$$##

Ushul-Tsalatsah

USHUL TSALATSAH-01
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?