5 menit membaca

🗞️ *ALKABAIR – HATI DAN LISAN#45*
✒️ Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
🎤 Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
🗓️ 30 Rajab 1447H/ 18 Januari 2026
Ba’da Maghrib

➡️ *MENYAKITI ORANG SHOLEH*

Orang sholeh adalah Yang menjalankan hak Allah dan hak manusia.

Terlebih ganggu orang yang terkenal kesholehannya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَا نًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 58)

Dari A’idz bin’Amru bahwa Abu Sufyan pernah mendatangi Salman Al Farisy, Shuhaib Ar Rumi , dan BILAL Al Habisy (ketiga miskin) dalam sekelompok orang sahabat. Setelah itu, mereka berkata kepada Abu Sufyan, “Demi Allah, pedang Allah tidak sampai menebas leher musuh Allah.” (maksud nya Abu Sufyan harusnya sudah mati, saat Abu Sufyan masih kafir)

Mendengar ucapan mereka, (Salman, Shuhaib dan Bilal) maka Abu Bakar berkata, ‘Mengapa kalian berkata seperti itu kepada salah seorang tokoh dan pemimpin Quraisyy hai Salman, Shuhaib, dan Bilal. (maksud Abu Bakar adalah menarik simpati Abu Sufyan supaya mau masuk Islam).

Kemudian Abu Bakar datang kepada Rasulullah ﷺ untuk menceritakan tentang hal itu.

Tetapi, Rasulullah ﷺ malah berkata,

يَا أَبَا بَكْرٍ لَعَلَّكَ أَغْضَبْتَهُمْ لَئِنْ كُنْتَ أَغْضَبْتَهُمْ لَقَدْ أَغْضَبْتَ رَبَّكَ

“Hai Abu Bakar, mungkin kamu sendirilah yang telah membuat mereka marah. Apabila kamu membuat mereka marah, maka berarti kamu juga telah membuat Rabbmu marah.”

Lalu Abu Bakar pergi mendatangi mereka sambil bertanya, ‘Hai saudara-saudaraku, apakah aku telah membuat kalian marah?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Semoga Allah mengampunimu hai saudaraku, Abu Bakar.”
HR Muslim.

Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah para nabi. Allah sebutkan pada surat At Taubah ayat 40…

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِلَّا تَـنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَا نِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَا رِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَا حِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَا ۚ فَاَ نْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَـتَهٗ عَلَيْهِ وَاَ يَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰى ۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَا للّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 40)

Dan dalam riwayat At Tirmidzi (hasan) dari Abu Bakrah radhiyallahu anhu secara marfu’ :

من أهان السلطان أهانه الله

Barangsiapa yang menghinakan penguasa, maka Allah akan menghinakanya.

Hadits ini umum, penguasa sholeh maupun tidak sholeh.

Sebaik-baik jihad adalah omong yang benar di depan penguasa yang dzalim.

Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْجِهَادِ كَلِمَةَ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Sungguh di antara jihad yang paling afdhal adalah mengatakan kalimat yang adil (benar) di depan penguasa yang zalim.
HR Tirmidzi.

Jadi hati-hati menghina penguasa karena bisa provokasi orang banyak dan timbul kekacauan.

➡️ *PENJELASAN TENTANG AMANAH, KHIANAT TERHADAP AMANAH, DAN PENAFSIRAN AMANAH.*

Lawan dari amanah adalah khianat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَ مٰنٰتِ اِلٰۤى اَهْلِهَا

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 58)

Khianat adalah menipu ketika dipercayai.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَ مَا نَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا لْجِبَا لِ فَاَ بَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَ شْفَقْنَ مِنْهَا وَ حَمَلَهَا الْاِ نْسَا نُ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا 

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat dzalim dan sangat bodoh,” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 72)

Al Baihaqi meriwayatkan (atsar – mauquf) dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu, dia berkata,” Terbunuh di jalan Allah akan menghapuskan segala sesuatu kecuali amanah dan hutang. Seorang hamba akan di datangkan pada hari kiamat, meskipun dia terbunuh di jalan Allah. Kemudian dikatakan kepadanya,” Tunaikan amanahmu!” kemudian dia berkata, ‘Wahai Rabbku, bagaimana (aku bisa menunaikannya), padahal dunia telah pergi? ” kemudian dikatakan,” Bawalah orang itu ke Neraka Hawiyah”.

Kemudian mereka membawanya ke Neraka Hawiyah, Lalu amanah nya diserupakan baginya seperti pada hari saat diberikan kepadanya. Sehingga orang itu melihat dan mengetahuinya. Orang itu pun mengikuti jejak amanah itu,hingga dia bisa menyusulnya. Kemudian orang itu membawa amanah di pundaknya. Hingga ketika dia mengira telah keluar, amanah itu jatuh dari pundaknya. Kemudian orang itu mengikuti jejak amanah itu selama berabad-abad.

Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Shalat adalah amanah, wudhu adalah amanah, timbangan adalah amanah, dan takaran adalah amanah.”

Dia juga menyebutkan banyak hal, dan yang paling berat adalah titipan – titipan. Kemudian perawi berkata: Kemudian aku mendatangi Al Bara ‘, aku berkata,” Tidakkah engkau melihat kepada apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud? Ibnu Mas’ud berkata demikian dan demikian.” Al Bara menjawab :”Benar, tidakkah engkau mendengar Allah berfirman :

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَ مٰنٰتِ اِلٰۤى اَهْلِهَا

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 58)

Dalil bahwa Ibnu Mas’ud memandang amanah itu umum. Antara manusia dengan Rabb nya.

Kalau tidak mampu jangan ambil amanah.

Zaid bin Aslam berkata, “Amanah itu adalah puasa mandi Junub, dan perkara-perkara syariat yang tersembunyi.”

➡️ *KEKUASAAN TERMASUK AMANAH*

Kalau tidak mampu pegang amanah, jangan jadi penguasa.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (setelah ada pertanyaan dari seorang badui kapan kiamat terjadi):

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

‘Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat,’ dia (Abu Hurairah) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?’ Beliau menjawab, ‘Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!’” HR Bukhari.

➡️ *LARANGAN MENCARI KEKUASAAN*

Larangan minta jabatan.

Dalam sebuah hadits,

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ لِيْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ وَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ

Dari Abdurrahman bin Samurah dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kepadaku, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan! Karena sesungguhnya jika diberikan jabatan itu kepadamu dengan sebab permintaan, pasti jabatan itu (sepenuhnya) akan diserahkan kepadamu (tanpa pertolongan dari Allâh).

Dan jika jabatan itu diberikan kepadamu bukan dengan permintaan, pasti kamu akan ditolong (oleh Allâh Azza wa Jalla) dalam melaksanakan jabatan itu. Dan apabila kamu bersumpah dengan satu sumpah kemudian kamu melihat selainnya lebih baik darinya (dan kamu ingin membatalkan sumpahmu), maka bayarlah kaffarah (tebusan) dari sumpahmu itu dan kerjakanlah yang lebih baik (darinya)”.
HR Bukhari dan Muslim

Kita ini hidup di jaman yang banyak sekali orang menyalahi amanah.

Kafarah ini :
1. Beri makan 10 orang miskin. Dengan nilai tengah yang pernah kita makan.
2. Atau beli baju buat mereka.
3. Memerdekakan budak.

Kalau gak mampu harus puasa.

Dari Abu Dzarr pula, ia berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberiku kekuasaan?” Lalu beliau memegang pundakku dengan tangannya, kemudian bersabda,

يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا

“Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah. Dan kekuasaan itu adalah amanah, dan kekuasaan tersebut pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.” HR Muslim

sesungguhnya hukum asal jabatan adalah penyesalan.
1. Orang yang tidak berhak.
2. Orang berhak, tapi tidak tunaikan dengan baik.
Hukum asal jabatan adalah hina dan terhinakan.

Semoga bermanfaat.

#alkabaair #sunnah #salaf #dosabesar #amanah #khianat #penguasa #sholeh #hina

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?