Diterbitkan pertama kali pada: 20-Jul-2020 @ 13:11

8 menit membaca

24 Jumadil Awal 1439 H
Dr. Firanda Andirja MA @Al Ikhlas
Kitabul Jami’

Mukadimah..

Al Jami’ = mengumpulkan,
Kitab ini bagian akhir dari Bulughul Maram.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Kitab Bulūghul Marām min Adillatil Ahkām adalah kitab yang mengumpulkan hadits-hadits Nabi tentang fiqih, mulai dari Bab Thaharah, Bab Shalat, Bab Haji, Bab Zakat, Bab Jihad, dan seterusnya.

Namun, yang menakjubkan dari Al-Haafizh Ibnu Hajar adalah, beliau meletakkan Kitābul Jāmi’ di ujung Kitab Bulūghul Marām. Padahal, Kitābul Jāmi’ ini tidak ada hubungannya dengan masalah fiqih, tetapi lebih cenderung berhubungan dengan masalah adab dan akhlak, yaitu tentang akhlak yang baik yang harus dibiasakan, tentang akhlak yang buruk yang harus dijauhi, serta tentang dzikir dan do’a.

Ibnu Hajar rahimahulloh ingin agar penuntut ilmu menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak.

Sombong bisa karena : harta, jabatan, ilmu, keturunan.

Akhlak yang mulia adalah sebab utama masuk surga setelah tauhid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ اِلَيَّ أَحْسَنُكُمْ أَخْلاَقاً

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah yang paling bagus akhlaqnya”. (HR. Al-Bukhari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَاناً ، أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً ، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

“Yang paling sempurna keimanan seseorang mu’min adalah yang paling bagus akhlaqnya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya”. (HR. At-Tirmidzi dan beliau berkata hasan shahih).

Hadits lainnya
Rasulullah shallallahu alaihi wassalam hidup :

خَيْرُ الأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُم لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيْرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

“Sebaik-baik sahabat di sisi Allah, adalah yang terbaik bagi sahabatnya. Sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah yang terbaik bagi tetangganya”

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda :

خَيْرُ الْمُسْلِمِيْنَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Sebaik-baik muslim adalah yang kaum muslimin selamat dari keburukan lisan dan tangannya”

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda :
خَيْرُ النَّاسِ خَيْرُهُمْ قَضَاءً

“Sebaik-baik manusia adalah yang terbaik dalam melunasi hutangnya”

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda :

خَيْرُ النَّاسِ ذُو الْقَلْبِ الْمَحْمُوْمِ وَاللِّسَانِ الصَّادِقِ، قِيْلَ: مَا الْقَلْبُ الْمَحْمُوْمُ؟ قَالَ: هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ الَّذِي لاَ إِثْمَ فِيْهِ وَلا بَغْيَ وَلاَ حَسَدَ

“Sebaik-baik manusia adalah yang memliki hati yang tersapu (bersih) dan lisan yang jujur”.

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda :

Ditanyakan kepada Nabi, apa maksud hati yang tersapu (bersih)?. Nabi menjawab : “Yaitu hati yang bertakwa dan bersih, tiada dosa padanya, tiada kezoliman dan tidak hasad”

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda :
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda :
خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ وَرَدَّ السَّلاَمَ

“Sebaik-baik kalian adalah yang memberi makanan dan menjawab salam”

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda :
خَيْرُ مَا أُعْطِيَ النَّاسَ خُلُقٌ حَسَنٌ

“Pemberian terbaik yang diberikan kepada manusia adalah akhlak yang baik”

Akhlaq mulia adalah ibadah yang sangat agung, bisa menyamai pahalanya orang yang istiqomah puasa sunnah dan sholat malam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ القَائِمِ

“Sesungguhnya seorang hamba itu benar-benar mencapai derajat orang yang berpuasa dan sholat malam dengan sebab akhlaknya yang baik” (HR Abu Dawud no 4798)

Dan diantara keutamaan akhlak yang terbaik sebagaimana perkataan Abdurrahman bin Nashir as-Si’diy :

وَإِنَّهُ فِي نَفْسِهِ عِبَادَةٌ عَظِيْمَةٌ تَتَنَاوَلُ مِنْ زَمَانِ الْعَبْدِ وَقْتًا طَوِيْلاً، وَهُوَ فِي رَاحَةٍ وَنَعِيْمٍ، مَعَ حُصُوْلِ الأَجْرِ الْعَظِيْمِ

“Dan sesungguhnya akhlak mulia itu sendiri pada dasarnya merupakan ibadah yang agung yang mencakup waktu yang panjang dari seorang hamba, sementara sang hamba dalam ketenteraman dan kebahagian, disertai memperoleh pahala yang besar” (risalah “Husnul Khuluq”)

Sungguh benar perkataan beliau, karena seorang hamba hampir terus menerus dalam kondisi berinteraksi dengan orang lain, jika ia berhias dengan akhlak yang mulia maka pahala akan terus menerus mengalir kepadanya. Di luar rumah ia bertemu dengan teman kerjanya, atau bosnya, di rumah ia bertemu dengan istrinya dan anak-anaknya, demikian juga bertemu dengan orang tuanya, di pasar ia bertemu dengan para penjual, dan seterusnya. Jika akhlak yang mulia telah terpatri dalam dirinya maka sungguh pahala terus akan mengalir kepadanya tatkala ia bermuamalah dengan orang-orang tersebut.

Babul Adab..
Hadits pertama.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam:

«حق المسلم على المسلم ست : إذا لقيته فسلم عليه، وإذا دعاك فأجبه، وإذا استنصحك فانصح له، وإذا عطس فحمد الله فسمته، وإذا مرض فعده وإذا مات فاتبعه »

“Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam:
– Jika engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam,
– jika dia mengundangmu maka datanglah,
– jika dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat,
– jika dia bersin lalu mengucapkan Alhamdulillah maka doakanlah,
– jika dia sakit maka jenguklah,
dan jika ia meninggal maka iringilah jenazahnya “ (HR. Muslim).

Amalkan hak – hak ini ke setiap muslim, bukan yang hanya kita kenal.

Makna hak ini adalah perkara yang hendak nya tidak ditinggalkan, tidak menjadi wajib.

Kata 6, tidak berarti tidak ada hak selain 6 hak tersebut, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam hanya memberi tekanan..

1. Tentang salam, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam

لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا، ولا تؤمنوا حتى تحابوا، أولا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم؟ أفشوا السلام بينكم

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian kerjakan kalian akan saling mencinta? Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah).

Abdullah bin Salam radhiyallahu’anhu menyatakan diri menjadi muslim tatkala Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam hijrah ke kota Madinah. Beliau berkisah,
“Tatkala Rasulullah shallallahu’alaihiw asallam tiba di Madinah, manusia berjejalan menemui beliau dan saya termasuk diantara mereka. Setelah saya mengamati Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, saya langsung mengetahui melalui sinar wajahnya yang menunjukkan beliau bukan seorang pendusta. Ucapan pertama kali yang aku dengar langsung dari lisan Rasulullah shallallahu’alaihi wasllam kala itu beliau mengucapkan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

‘Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makanan (sedekah), sambunglah tali silaturrahmi, shalatlah di malam hari tatkala manusia terlelap tidur maka kalian akan masuk surga dengan selamat.’ (HR.Ibnu Majah no.1334. Hadis shahih dalam Al-Irwa 3:239)

Salah satu tanda kiamat adalah menebarkan salam hanya pada yang dikenal saja.

Ibnu Umar, memberi salam kepada setiap orang, bahkan pernah ke pasar hanya untuk memberi salam..

2. Memenuhi undangan
Jumhur ulama, hukumnya sunnah kecuali undangan walimah yang wajib..

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Apabila seseorang di antara kalian diundang untuk menghadiri walimatul ’ursy (resepsi pernikahan, pen), penuhilah.” (HR. Muslim) dan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya,”Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan walimah/pernikahan, sungguh dia telah durhaka pada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Muslim).

Undangan yang masih umum masih sunnah , namun bila khusus untuk kita maka menjadi wajib.

Undangan saat ada maksiat maka jangan datang, datanya setelah atau sebelum kemaksiatan atau kemungkaran berlangsung.

Walimah yang khusus orang-orang kaya atau nampak berbangga atau sombong maka jangan datang..

Bagaimana dengan Walimah yang ada ikhtilat/musik? Boleh karena hal ini sudah tersebar asal tidak ada fitnah.

Bila Walimah yang butuh safar maka tidak wajib.
Kalau yang undang kerabat maka ada pahala Silaturahim.

3. Menasihati
an-Nawawi rahimahullah berkata:

فَمَعْنَاهُ طَلَبَ مِنْك النَّصِيحَة ، فَعَلَيْك أَنْ تَنْصَحهُ ، وَلَا تُدَاهِنهُ ، وَلَا تَغُشّهُ ، وَلَا تُمْسِك عَنْ بَيَان النَّصِيحَة

“Maknanya: -apabila- dia meminta nasehat darimu, maka wajib bagimu untuk menasehatinya, jangan hanya mencari muka di hadapannya, jangan pula menipunya, dan janganlah kamu menahan diri untuk menerangkan nasehat –kepadanya-.” (Syarh Muslim [7/295] asy-Syamilah)

عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ قَالَتْ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ فَقُلْتُ : إِنَّ أَبَا الْجَهْمِ وَ مُعَاوِيَةَ خَطَبَانِ, فَقَالَ رَسُوْلُ الله : أَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوْكٌ لاَ مَالَ لَهُ. وَأَمَّا أَبُوْا الْجَهْمِ فَلاَ يَضَعُ الْعَصَا عَنْ عَاتِقِهِ. وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : وَأَمَّا أَبُوْا الْجَهْمِ فَضَرَّابُ لِلنِّسَاءِ

Dan dari Fathimah binti Qais radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Saya mendatangi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, maka aku berkata, “Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah, keduanya telah meminangku?” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Adapun Mu’awiyah dia seorang faqir tidak memiliki harta, sedangkan Abul Jahm, tongkatnya tidak pernah lepas dari bahunya.” Dan dalam riwayat Muslim (lainnya), “Sedangkan Abul Jahm sering memukul wanita.” Kalimat tersebut merupakan penjelasan dari riwayat “Ia tidak melepaskan tongkat dari bahunya.” Dan dikatakan bahwa maknanya: sering mengadakan bepergian (safar).”

Itu ghibah yang diperbolehkan.

4. Jika dia bersin dan ucapkan Alhamdulillah maka doakan Yarhamukallahu..

5. Dia sakit maka jenguk..
Hukum nya fardhu kifayah.
Pahalanya sangat besar..

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:

إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِيْ خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ.

“Apabila seseorang menjenguk saudaranya yang muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).

Jadi dalam perjalanan menuju ke yang sakit sampai pulang maka pahala mengalir terus..

6. Kalau meninggal maka ikuti jenazah.

Dalam sebuah hadits..

عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : مَنْ شَهِدَ اْلجِنَازَةَ (مِنْ بَيْتِهَا) (و فى رواية: مَنِ اتَّبَعَ جِنَازَةَ مُسْلِمٍ ِإيمَانًا وَ احْتِسَابًا) حَتىَّ يُصَلِّيَ فَلَهُ قِيْرَاطٌ وَ مَنْ شَهِدَ حَتىَّ تُدْفَنَ (و فى الرواية الأخرى: يُفْرَغَ مِنْهَا) كَانَ لَهُ قِيْرَاطَانِ (مِنَ اْلأَجْرِ) قِيْلَ: (يَا رَسُوْلَ اللهِ) وَ مَا اْلقِيْرَاطَانِ؟ قَالَ: مِثْلُ اْلجَبَلَيْنِ اْلعَظِيْمَيْنِ (و فى الرواية الأخرى: كُلُّ قِيْرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ)

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, telah bersabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa menyaksikan jenazah (dari rumahnya). (Di dalam satu riwayat), “Barangsiapa yang mengiringi jenazah seorang muslim dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala sampai disholatkan maka ia akan mendapatkan pahala satu qirath. Dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikuburkan, (di dalam riwayat yang lain, sampai selesai semua kepengurusannya) maka ia mendapatkan pahala dua qirath”. Ditanyakan, “Apakah pahala dua qirath itu?”. Beliau menjawab, “Yaitu sebesar dua gunung yang besar”.

(Di dalam riwayat yang lain), “Setiap satu qirath ukurannya itu sebesar gunung Uhud”.

[HR al-Bukhoriy: 1325, Muslim: 945 (52), 946, Abu Dawud: 3168, 3169, an-Nasa’iy: IV/ 54-55, 76, 76-77, 77, at-Turmudziy: 1040, Ibnu Majah: 1539, ath-Thayalisiy dan Ahmad].

عن علي قال: َلمـَّا تُوُفِّيَ أَبُوْ طَالِبٍ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم فَقُلْتُ: إِنَّ عَمَّكَ الشَّيْخَ الضَّالَّ قَدْ مَاتَ فَمَنْ يُوَارِيْهِ قَالَ: اذْهَبْ فَوَارِهِ ثُمَّ لاَ تُحْدِثْ شَيْئًا حَتىَّ تَأْتِيَنىِ فَقاَلَ: إِنَّهُ مَاتَ مُشْرِكًا فَقَالَ: اذْهَبْ فَوَارِهِ قَالَ: فَوَارَيْتُهُ ثُمَّ أَتَيْتُهُ قَالَ: اذْهَبْ فَاْغتَسِلْ ثُمَّ لاَ تُحْدِثْ شَيْئًا حَتىَّ تَأْتِيَنىِ قَالَ: فَاْغَتَسَلْتُ ثُمَّ أَتَيْتُهُ قَالَ: فَدَعَا لىِ بِدَعَوَاتٍ مَا يَسُرُّنىِ أَنَّ لىِ بِهَا حُمُرَ النَّعَمِ وَ سُوْدَهَا قَالَ: وَ كَانَ عَلِيٌّ إِذَا غَسَلَ اْلمـَيِّتَ اغْتَسَلَ

Dari Ali radliyallahu anhu bercerita, ketika Abu Thalib mati, aku mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu aku berkata, “Sesungguhnya pamanmu yang tua renta lagi sesat itu telah mati, maka siapakah yang akan menguburkannya?”. Beliau bersabda, “Pergi dan kuburkanlah!, lalu janganlah engkau mengerjakan apapun sampai engkau mendatangiku”. Dia (yaitu Ali) berkata, “Sesungguhnya ia meninggal dunia masih dalam keadaan musyrik”. Beliau bersabda, “Pergi dan kuburkanlah!”. Lalu ia berkata, maka akupun menguburkannya lalu mendatangi Beliau. Beliau bersabda, “Pergi dan mandilah!, lalu janganlah engkau melakukan apapun sehingga engkau mendatangiku”. Ia berkata, maka akupun mandi lalu mendatangi Beliau. Ia berkata, “Lalu Beliau mendoakanku dengan beberapa doa yang menyenangkanku bahwa seakan aku memiliki unta yang paling bagus”. Berkata (perawi hadits), Ali adliyallahu anhu biasanya setelah memandikan jenazah beliau segera mandi. [HR Ahmad: I/ 97, 103, 130, Abu Dawud: 3214, an-Nasa’iy: IV/ 79-80 dan al-Baihaqiy]

Hadits itu hanya berkaitan dengan muslim tidak untuk non muslim, kecuali ada maslahat.

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam pernah menjenguk bekas pembantu yang masih Yahudi..

Anas bin Malik meriwayatkan, “Bahwasanya ada seorang anak muda Yahudi yang pernah menjadi pembantu Rasulullah shallallahu alaihi wassalam . Dia sakit, lalu Rasulullah shallallahu alaihi wassalam datang menjenguknya. Kemudian Beliau bersabda (artinya) , ‘Masuklah Islam!’ Maka dia pun masuk Islam.” (HR. Bukhari).

Bagaimana bila ada kafir yang meninggal dunia?

Boleh datang sekedar nya, tidak mendoakan keberkahan pada jenazah.

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?