Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MATauhid

KITAB TAUHID #47- BERSENDA GURAU DENGAN MENYEBUT NAMA ALLAH, ALQUR’AN ATAU RASULULLAH

Diterbitkan pertama kali pada: 10-Jul-2020 @ 21:34

5 menit membaca

Kitab Tauhid BAB 47 BERSENDA GURAU DENGAN MENYEBUT NAMA ALLAH, ALQUR’AN ATAU RASULULLAH
Ustadz Dr Firanda Andirja,Lc MA
16 Jumadil Akhir 1441 H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Bab ini membahas candaan dengan menyebut nama Allah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Dan Al Qur’an. Hukumannya adalah keluar dari Islam, tauhidnya batal..

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ لِلّٰهِ وَقَارًا ۚ ﴿نوح : ۱۳

Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah?

(Qs Nuh ayat 13)

Ini adalah kebiasaan orang-orang musyrikin dan munafik yang suka mengejek syariat…

” اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَا نُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَ ۖ ”

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 29- 31)

وَاِ ذَا لَقُوْا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَا لُوْاۤ اٰمَنَّا ۚ وَاِ ذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ ۙ قَا لُوْاۤ اِنَّا مَعَكُمْ ۙ اِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, Kami telah beriman. Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 14)

Penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) membawakan dalil sebagai berikut:

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

ولئن سألتهم ليقولن إنما كنا نخوض ونلعب قل أبالله وأياته ورسوله كنتم تستهزؤون لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم

“Dan jika kamu tanyakan kepada orang-orang munafik (tentang apa yang mereka lakukan) tentulah mereka akan menjawab : “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”, katakanlah : “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kalian selalu berolok-olok ?”, tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman…” (QS. At Taubah, 65 – 66).

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Muhammad bin Kaab, Zaid bin Aslam, dan Qatadah, suatu hadits dengan rangkuman sebagai berikut : “Bahwasanya ketika dalam peperangan tabuk, ada seseorang (munafik) yang berkata : “Belum pernah kami melihat seperti para ahli membaca Alqur’an (qurra’) ini, orang yang lebih buncit perutnya, dan lebih dusta mulutnya, dan lebih pengecut dalam peperangan”, maksudnya adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabat yang ahli membaca Al Qur’an.

Maka berkatalah Auf bin Malik kepadanya: “kau pendusta, kau munafik, aku beritahukan hal ini kepada Rasulullah”, lalu berangkatlah Auf bin Malik kepada Rasulullah ﷺ untuk memberitahukan hal ini kepada beliau, akan tetapi sebelum ia sampai, telah turun wahyu kepada beliau.

Dan ketika orang (munafik) itu datang kepada Rasulullah ﷺ, beliau sudah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya, maka berkatalah ia kepada Rasulullah : “Ya Rasulullah, sebenarnya kami hanya bersenda gurau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang yang mengadakan perjalanan untuk menghilangkan penatnya perjalanan”, kata Ibnu Umar : “sepertinya aku melihat orang tadi berpegangan sabuk pelana unta Rasulullah, sedang kedua kakinya tersandung-sandung batu, sambil berkata : “kami hanyalah bersenda gurau dan bermain main saja”, kemudian Rasulullah bersabda kepadanya :

أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزؤون

“Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya, dan RasulNya kamu selalu berolok olok”.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengatakan seperti itu tanpa menengok, dan tidak bersabda kepadanya lebih dari pada itu.

Kalau ada orang yang becanda/olok-olok Allah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ayat-ayat, syariat, maka kita harus tegur orang tersebut atau kita tinggalkan majelis tersebut.

Ayat ini berkaitan dengan orang-orang munafik, bukan para shahabat.

Kata Sebagian Ulama Orang Munafiq sedang menggambarkan dirinya sendiri…

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى الْـكِتٰبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَاُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۤ ‏ ۖ اِنَّكُمْ اِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ جَا مِعُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَا لْكٰفِرِيْنَ فِيْ جَهَـنَّمَ جَمِيْعَا ۙ

“Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir) maka janganlah kamu duduk bersama mereka sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di Neraka Jahanam,”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 140)

Mereka kafir secara batin dan setelah ucapan ejekan itu mereka menjadi kafir secara dhahir.

ولئن سألتهم ليقولن إنما كنا نخوض ونلعب قل أبالله وأياته ورسوله كنتم تستهزؤون لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم

Jika Engkau bertanya kepada mereka (munafik), mereka akan menjawab sedang bercanda.
Allah tidak membantah mereka dari pengakuan mereka yang bersenda gurau karenanya mengejek ayat-ayat Allah baik serius atau bercanda sama saja hukumnya, yaitu kafir.

Katakankah (Wahai Muhammad), bercanda dengan mengolok-olok:
1. Allah
2. Ayat-ayat
3. Rasul-Nya

berarti Kalian telah kafir setelah beriman (iman yang dhahir karena munafik imannya pada dhahirnya). Maksudnya kalian sekarang dhahir nya telah kafir setelah sebelumnya dhahir kalian adalah iman.

Bagaimana bila yang diejek bukan Allah, Rasul-Nya, ayat-ayat?

Misalnya ulama? Bila yang diejek kembali kepada syariat maka hukumnya kafir.
Jangankan Mengejek Allah dan Rosul-Nya, mengangkat suara dihadapan Nabi Saja gak boleh maka orang yang mengejek Allah dan Rasul-Nya maka dia telah Kafir…

Bila ejekan kembali kepada personal maka tidak kafir.

Catatan :

1. Mengenai sesuatu perbuatan atau perkataan merupakan ejekan atau bukan maka kembali kepada urf masyarakat.

Contoh
+ sebagian urf bila buka lembaran Al Qur’an dengan air liur.. Maka ini bukan ejekan
+ shalat dengan mushaf di lantai..

Keduanya kita kembalikan kepada kebiasaan masyarakat (urf) setempat.

+ kejadian Nabi Musa yang sempat marah dan lembaran Taurat…

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰ إِلَىٰ قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي ۖ أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ ۖ وَأَلْقَى الْأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ ۚ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْدَاءَ وَلَا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”

dalam kejadian ini Nabi Musa tidak menghina Taurat…

2. Hukum orang yang mengejek/menghina syariat Apakah bisa bertaubat?

Terjadi khilaf.

2.1 tidak diterima, harus ditegakkan hukum had.

لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانك

tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman…

2.2 bisa diterima mutlak

Orang munafik yang ejek itu tidak dibunuh oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Namun dibantah oleh pendapat pertama, tidak dibunuh untuk jaga citra Islam. Tidak membunuh orang yang dhahir nya Islam. karena orang munafiq yg menghina Nabi ﷺ tdk dibunuh, Nabi memang tdk membunuh orang² munafik dikuatirkan Nabi dikira telah Membunuh Sahabat”

Nabi Ingin Menjaga “CITRA ISLAM”

Bahwasanya orang yg mengejek Nabi ( Ibnu Muhayyir) itu bertobat, ingin diganti namanya Abdurrohman, dan Taubatnya bisa diterima… dan akhirnya mati syahid.
Dalam perang yamamah.

Dan lanjutan ayat tersebut adalah..

إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (66) }

Jika Kami memaafkan segolongan dari kalian (lantaran mereka bertobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.

Dalil bahwa orang yang bertaubat dari mengejek Allah, Rasul-Nya, syariat bisa diterima.

2.3 dimaafkan kalau indikasi menunjukkan dia serius bertaubat. (pendapat terkuat)

2.4 diperinci

Jika yang diejek Allah maka diterima (Allah Maha Pengampun)
Jika yang diejek Nabi shallallahu alaihi wasallam maka tidak diterima (karena Nabi shallallahu alaihi wasallam sudah wafat).
Ada budak wanita ( Ummul Walad) yang selalu mengejek Rasulullaoh ﷺ dan sudah diperingatkan agar tidak mengejek akan tetapi tetap mengejek Nabi ﷺ hingga ada seseorang yang menusuk budak hingga meninggal dunia dan di laporkan kepada Rasulullah ﷺ dan Rasulullah ﷺ mendiamkannya kasusnya. “
Hendaklah kita Hati² dalam berkata apalagi di zaman Medsos maka jangan pernah bercanda dalam syariat Nabi ﷺ kalau ada yg mengejek maka segera keluar dari Majelis atau Group yg mengejek syariat Allah dan Rosul-Nya. “

Semoga Bermanfaat…. ditutup dengan doa kafaratul Majelis..

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ

SUBHAANAKALLOHUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAHA ILLA ANTA, AS-TAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIK

(Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu)

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?