Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, LcIbadah

KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 32 – ORANG-ORANG YANG SUKA MEMAAFKAN

This entry is part 27 of 28 in the series 40Karakter
6 menit membaca

*KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 32 – ORANG-ORANG YANG SUKA MEMAAFKAN*
Ustadz Rizal Yuliar Putrananda
23 Syawal 1447G /11 April 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Ustadz memulai dengan beberapa doa meminta ilmu yang bermanfaat, diantaranya,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Ramadhan telah lewat, kita harus mulai introspeksi apakah amalan Ramadhan kita diterima atau tidak. Tanda diterima amalan seseorang adalah bahwa amal sholeh akan mendatangkan amal sholeh selanjut nya.

Selepas Ramadhan kita masuk pada bulan agung lainnya, bulan Haji yaitu Syawal, Dzulqaidah dan Dzulhijjah.

Karena kita tidak bisa tahu umur kita,
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ash-Shoodiqul Masduuq (yang jujur dan disaksikan kejujurannya) bersabda :

مِنَ اقترابِ الساعةِ …. وأنْ يَظهَرَ موتُ الفَجأةِ

“Diantara tanda dekatnya kiamat …. adalah banyaknya kematian mendadak.” HR Thabrani.

Istiqomah itu susah dan kita harus berusaha untuk istiqomah,harus berusaha untuk menjaga kualitas keimanan.

Allah ta’ala berfirman ,

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)

Duduk majelis ilmu adalah salah satu sarana untuk menjaga keimanan.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدكُم كَمَا يَخْلَقُ الثَّوبَ الْخَلِق، فَاسْأَلوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيَمَانَ فِي قُلُوبِكُم

Sesungguhnya keimanan di rongga tubuh (hati) kalian benar-benar akan menjadi usang, sebagaimana usangnya pakaian. Maka mintalah kepada Allah untuk memperbaharui keimanan dalam hati kalian

(H.R al-Hakim, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan bahwa orang yang tidak pernah rugi adalah orang yang duduk di majelis ilmu.

➡️ HAMBA ALLAH YANG MUDAH MEMAAFKAN.

Asalnya memaafkan itu tidak mudah tapi berat. Maka dari itu Allah mencintai orang-orang yang suka memaafkan. Dan balasannya adalah surga.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى:  وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ . ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. [al-Imraan/3: 133-134].

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Wahai Rasulullah, jika aku menjumpai satu malam merupakan lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan di malam itu? Beliau menjawab: Ucapkanlah: ALLAHUMMA INNAKA ‘Afuwwun Tuhibbul ‘afwan fa’ fu’anni… HR Tirmidzi.

Ini adalah salah satu doa dengan tawasul nama dan sifat Allah.

Hadits ini menjelaskan bahwa Allah mencintai karakteristik orang yang suka memaafkan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

 إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجالِ وَالنِّساءِ وَالْوِلْدانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلا يَهْتَدُونَ سَبِيلاً (98) فَأُولئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُوراً (99) 

kecuali mereka yang tertindas, baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hij’rah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.  QS An Nisa 98-99.

Al-‘Afw (Memaafkan) berarti menghapus dosa dan menghilangkan bekasnya, sering dianggap lebih tinggi karena dosa seolah tidak pernah ada. 

Al-Maghfirah (Mengampuni) berarti menutupi dosa dan tidak menyiksanya, sering dikaitkan dengan kasih sayang

Bagaimana dengan sikap mau memaafkan tapi tidak ingin jumpa lagi?

Ambillah pelajaran, dari terbunuhnya paman Nabi Hamzah bin Abdul Muthalib yang wafat saat perang Uhud oleh Wahsy.

Pada akhirnya Wahsy juga masuk Islam, dan Rasulullah ﷺ menghindar bertemu Wahsy. Ini bukan karena hati Rasulullah ﷺ yang tidak lapang, tapi karena beliau xx tidak ingin teringat pamannya dan timbul kesedihan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنْ تُبْدُوْا خَيْرًا اَوْ تُخْفُوْهُ اَوْ تَعْفُوْا عَنْ سُوْٓءٍ فَاِ نَّ اللّٰهَ كَا نَ عَفُوًّا قَدِيْرًا

“Jika kamu menyatakan sesuatu kebajikan, menyembunyikannya, atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Kuasa.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 149)

Bolehkah seseorang tidak memaafkan dan akan ditagih di akhirat? Jawab nya boleh tapi ada dua kerugian..

1. Hilang kesempatan mendapatkan surga
2. Akan terus dibebani perasaan benci. Gelisah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ يُظٰهِرُوْنَ مِنْكُمْ مِّنْ نِّسَآئِهِمْ مَّا هُنَّ اُمَّهٰتِهِمْ ۗ اِنْ اُمَّهٰتُهُمْ اِلَّا الّۤـٰـئِـيْ وَلَدْنَهُمْ ۗ وَاِ نَّهُمْ لَيَقُوْلُوْنَ مُنْكَرًا مِّنَ الْقَوْلِ وَزُوْرًا ۗ وَ اِنَّ اللّٰهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ

“Orang-orang di antara kamu yang menzihar istrinya, (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) istri mereka itu bukanlah ibunya. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkannya. Dan sesungguhnya mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang munkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.”
(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 2)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاُ ولٰٓئِكَ عَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّعْفُوَ عَنْهُمْ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ عَفُوًّا غَفُوْرًا

“maka mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 99)

Membalas keburukan yang sama itu boleh tapi yang setimpal, jangan lebih.

Contoh.

A. kamu Kutu
B. Kamu kutu juga, jangan ditambah kamu kutu busuk.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَ لَا السَّيِّئَةُ ۗ اِدْفَعْ بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِ ذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَ نَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.”
(QS. Fussilat 41: Ayat 34).

Jadi memaafkan itu jauh lebih baik.

Ketika Allah beri seseorang anugerah kesabaran, maka ini jauh lebih baik dari apapun. Inilah kunci surga.

وَجَزَٰٓؤُا۟ سَيِّئَةٍۢ سَيِّئَةٌۭ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. Surat Asy-Syura (42) Ayat 40

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنَّ مِنْ اَزْوَا جِكُمْ وَاَ وْلَا دِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَا حْذَرُوْهُمْ ۚ وَاِ نْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِ نَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. At-Taghabun 64: Ayat 14)

Jadi bila ada istri salah maka maafkan dan nasihati…

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ

Bersikaplah yang baik kepada wanita, karena wanita diciptakan dari rulang rusuk. Dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian paling atas. Jika kalian luruskan dengan keras, akan patah. Sebaliknya, jika kalian biarkan akan selalu bengkok. Karena itu, bersikaplah yang baik kepada wanita. (HR. Bukhar & Muslim)

Patah dalam hadits ini, menurut sebagian ulama adalah cerai.

Ambillah ibrah dari kisah Nabi ﷺ yang dakwah sampai di Thaif, yang disambut dengan hinaan dan siksaan berupa anak-anak yang lempar batu kepada beliau ﷺ.

Namun Nabi ﷺ memaafkan perlakuan mereka.

Dari Aisyah Radhiyallahu anhu :

هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ عَلَيْكَ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Apakah pernah datang kepadamu satu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalîl bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarnust-Tsa’âlib, lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril Alaihissallam , lalu ia memanggilku dan berseru: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’.” 
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. (HR Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim).

Demikian juga kisah Nabi ﷺ saat selendang nya ditarik seorang Badui dengan kasar. Para sahabat marah namun Nabi ﷺ memaafkan orang Badui tersebut.

Juga kisah Abu Bakar saat fitnah zina dari kaum munafik terhadap Aisyah binti Abu Bakar. Karena kerabat Abu Bakar yang bernama Mistah ikut memfitnah Aisyah.

Allah turunkan ayat dalam surat An Nur untuk membersihkan nama Aisyah.

Dan turun ayat khusus Untuk Abu Bakar supaya memaafkan Mistah.

Nabi shollalahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Ada tiga perkara yang aku bersumpah atas ketiganya yaitu..

⚉ tidaklah berkurang harta karena sedekah, maka bersedekahlah..
⚉ tidaklah seseorang yang memaafkan perbuatan orang yang zholim kepada dirinya, melainkan akan Allah tambah dengan kemuliaan.. dan
⚉ tidaklah seseorang yang membuka pintu atas dirinya untuk meminta-minta kepada manusia, melainkan akan Allah buka untuknya pintu menuju kefakiran..”
[ HR. Ahmad ]

Poin 2 adalah sesuai pembahasan karakteristik memaafkan.

Semoga bermanfaat.

#salaf #cinta #Allah #beriman #surga #karakteristik #maaf #ampun #salaf #sunnah #surga #sabar

##$$-aa-$$##

Digita Template

40Karakter

KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 31 – ORANG-ORANG YANG MENGERJAKAN KERINGANAN DARI ALLAH
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?