Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, LcIbadah

KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 30 – AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

This entry is part 25 of 29 in the series 40Karakter
8 menit membaca

*KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 30-AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR*
Ustadz Rizal Yuliar Putrananda
28 Rajab 1447G /18 Januari 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Ustadz memulai dengan beberapa doa meminta ilmu yang bermanfaat, diantaranya,

اَللَّهُمَّ انْفَعْنِيْ بِمَا عَلَّمْتَنِيْ، وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِيْ، وَزِدْنِيْ عِلْماً

Ya Allah, berilah aku manfaat dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku apa yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah ilmu kepadaku. HR Ibnu Majah.

Dalam sebuah hadits,

عَنْ رَجُلٍ مِنْ خَثْعَمَ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟
قَالَ: الإِيمَانُ بِاللَّهِ.
قُلْتُ: ثُمَّ مَاذَا؟
قَالَ: ثُمَّ صِلَةُ الرَّحِمِ.
قُلْتُ: ثُمَّ مَاذَا؟
قَالَ: ثُمَّ الأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

Seorang laki-laki dari Bani Khats‘am berkata:

“Aku bertanya: Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?”

Beliau menjawab:
“Iman kepada Allah.”

Aku bertanya lagi: “Kemudian apa?”
Beliau menjawab:
“Menyambung tali silaturahmi.”

Aku bertanya lagi: “Kemudian apa?”
Beliau menjawab:
“Memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”
HR Al Haitsami

Fokus penanya ini adalah agar si penanya dicintai Allah. Menunjukkan bagai semangat mereka untuk selalu di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diantara amal sholeh yang dikerjakan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ agar dicintai Allah adalah melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً كما بدأ فطوبى للغرباء
“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing”
HR Muslim.

Kata طوبى artinya beruntung, atau sebuah nama pohon di surga, atau sebuah tempat yang indah di surga. Intinya sebuah janji kebaikan.

Asing – berpegang teguh kepada tuntutan Rasulullah ﷺ.

Awal datang Islam aneh karena bertentangan dengan tradisi nenek moyang saat itu. Dakwah meninggalkan kesyirikan menuju ibadah hanya kepada Allah ﷻ.

Orang-orang Quraisy memandang tuhan yang jumlahnya 300 saja masih kurang, apalagi hanya satu. Sehingga orang-orang Quraisy memandang Islam itu aneh lantaran berbeda dengan keyakinan kebanyakan mereka.

Nabi ﷺ ditanya, قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! مَنِ الْغُرَبَاءِ؟  “Siapakah Al Ghouroba itu, Wahai Rasulullah ﷺ ?

Rasulullah ﷺ,

هُمْ أُنَاسٌ صَالِحُوْنَ قَلِيْلٌ فِي أُنَاسِ سُوْءٍ كَثِيْرٍ
“Mereka adalah manusia langka (sedikit) yang sholeh di tengah-tengah kebanyakan manusia yang buruk”.

Dalam riwayat lain,

اَلَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

“Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berusaha melakukan perbaikan-perbaikan ketika orang-orang melakukan kerusakan”.  

Dalam riwayat lain,

 مَنْ أَحْيَا سُنَّتِيْ بَعْدَ فَسَادِ أُمَّتِيْ
Artinya: “Orang yang menghidupkan sunnahku setelah rusaknya umatku”.

Intinya mereka adalah orang yang berusaha untuk menjaga syariat yang dibawa Rasulullah ﷺ, dengan cara amar ma’ruf ahli munkar, dan sedikit jumlahnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110)

Sebaik-baiknya umat karena lakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Predikat kebaikan masih melekat pada umat yang mengaku umat Nabi ﷺ adalah beriman dan ber amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam ayat lain, Allah menegaskan,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. Qs Al Asr 1-3.

Diberi kemudahan saat subuh untuk datang ke Masjid, duduk di majelis ilmu sungguh nikmat yang sangat besar, yang tidak semua orang diberikan. Yang lain mungkin joging, Wisata (walaupun mubah).

Kalimat وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ makna nya amar ma’ruf nahi munkar.

Dan itu perlu effort yang besar dan perlu kesabaran.

وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْۤ اَدْعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ ۗ عَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَاۡ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.””
(QS. Yusuf 12: Ayat 108)

Yaitu di atas jalan Rasulullah ﷺ.

Dai sejati itu mengajak manusia untuk kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan untuk mengajak kepada dirinya (ketenaran, dunia dst).

Sebagai mana, dalam sebuah hadits,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya diniatkan untuk mencari ridha Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” HR Abu Dawud.

Ingatlah pada 3 orang yang pertama di sidang oleh Allah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ   قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. رواه مسلم (1905) وغيره

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’

Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian

Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’

Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’

Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya).

Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’

Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” HR Muslim.

Dakwah harus ikhlas niat karena Allah.

Dakwah harus di atas ilmu, tanpa ilmu bukan hikmah tapi musibah yang di hasilkan.

Contoh nya firqah khawarij yang bermodal semangat tanpa ilmu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

دَعْهُ، فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلاَتَهُ مَعَ صَلاَتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ…. آيَتُهُمْ رَجُلٌ أَسْوَدُ، إِحْدَى عَضُدَيْهِ مِثْلُ ثَدْيِ المَرْأَةِ، أَوْ مِثْلُ البَضْعَةِ تَدَرْدَرُ، وَيَخْرُجُونَ عَلَى حِينِ فُرْقَةٍ مِنَ النَّاسِ

‘Biarkan dia. Dia memiliki kelompok yang ibadah mereka jangan rajin, sehingga kalian akan diremehkan shalat kalian jika dibandingkan dengan shalat mereka atau meremehkan puasa kalian jika dibandingkan puasa mereka. Mereka membaca Al-Quran, namun tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat keluar dari islam sebagaimana anak panah melesat nembus binatang sasarannya… tanda-tanda mereka, orangnya kehitaman, salah satu bahunya seperti payudara wanita atau seperti sepotong daging yang bergerak. Mereka memberontak di waktu terjadinya perpecahan masyarakat.’
Mendengar sabda ini, Abu Said mengatakan ketika menyampaikan hadis ini,

فَأَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ قَاتَلَهُمْ وَأَنَا مَعَهُ، فَأَمَرَ بِذَلِكَ الرَّجُلِ فَالْتُمِسَ فَأُتِيَ بِهِ حَتَّى نَظَرْتُ إِلَيْهِ عَلَى نَعْتِ النَّبِيِّ الَّذِي نَعَتَهُ

Saya bersaksi saya mendengar hadis ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya juga bersaksi bahwa Ali bin Abi Thalib memerangi mereka dan saya ikut bersamanya. Dilakukanlah pencarian model orang tersebut, kemudian dihadapkan kepada pra sahabat, sampai aku melihat persis seperti yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
(HR. Bukhari & Muslim)

Lihatlah bagaimana khawarij membunuh Utsman bin Affan, menantu 2 putri Rasulullah ﷺ dan juga membunuh Ali bin Abi Thalib. Lihatlah peran khawarij dalam perang nahrawan.

Saat itu Abdullah bin Abbas berdialog dengan sekitar 6 ribu kaum khawarij dan meluruskan kekeliruan pemahaman khawarij terhadap ayat-ayat Al Qur’an..

Abdullah bin Abbas membantah khawarij dengan ayat lain.
Kahwarij memahami dalil dengan pemahaman yang benar, inilah ilmu.

1 orang tegar hadapi 6 ribu dengan landasan ilmu. Dan 2 ribu orang kembali kepada Ahlu sunnah wal jamaah.

Jadi modal utama amar ma’ruf nahi munkar adalah niat yang ikhlas dan di atas basirah (Ilmu).

Jangan mudah ikut dalam arus masalah yang viral karena semua akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kewajiban amar ma’ruf nahi munkar itu akan terus tegak. Bagaimana kriteria nya?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 104)

Amar ma’ruf nahi munkar tanpa ilmu akan lebih banyak merusak dari pada memperbaiki.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, (maka ubahlah) dengan lisan. Jika tidak mampu, (maka ubahlah) dengan hati. Itulah iman yang paling lemah.” HR Muslim.

Bukti bahwa kita masih ada iman, kalau ada kemungkaran maka ingkari. Ingkari tidak mesti meninggalkan, kalau mampu ya tinggalkan.

Harus ada filter, cari komunitas yang baik yang ada amar ma’ruf nahi munkar.

Bani Israel di adzab Allah karena mereka meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar.

sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَ عِيسَ ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ . كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُّنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Qs. Al-Ma’idah: 78-79)

Amar ma’ruf nahi munkar dilakukan tanpa menunggu jadi ustadz dulu. Terutama harus dilakukan dalam lingkungan keluarga.

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan tiga nasihat penting yang disampaikan oleh Luqman kepada anaknya  :

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“ Hai anakku,  dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).“ (Luqman : 17)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا وَّقُوْدُهَا النَّا سُ وَا لْحِجَا رَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَا ظٌ شِدَا دٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)

Ali bin Abi Thalib, menafsirkan ayat ini, bagaimana Jaga diri dari api neraka? Ajarkan mereka ilmu dan akhirat tanamkan adab.

Amar ma’ruf nahi munkar itu berat, hasil nya di tangan Allah.
Lihatlah keluarga nabi yang kufur (Istri Nabi Luth, Anak Nabi Nuh dst).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لْمُؤْمِنُوْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۘ يَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اُولٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 71)

Tegakkan Amar ma’ruf nahi munkar, dengan hikmah, sabar, cinta, doa dst.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.”
HR Bukhari dan Muslim.

Semoga bermanfaat.

#salaf #cinta #Allah #beriman #surga #amar #maruf #nahi #munkar #sunnah

##$$-aa-$$##

40Karakter

KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 29- ORANG-ORANG YANG JAGA SILATURAHIM KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 31 – ORANG-ORANG YANG MENGERJAKAN KERINGANAN DARI ALLAH
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?