TAFSIR QS ALI IMRAN ayat 28-31
*TAFSIR QS ALI IMRAN ayat 28-31*
Ustadz Muhammad Shoim
13 Rabi’ul Awal 1447H / 6 September 2025
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَآءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّٰهِ فِيْ شَيْءٍ اِلَّاۤ اَنْ تَتَّقُوْا مِنْهُمْ تُقٰٮةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ ۗ وَاِ لَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ
“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai wali/teman setia/pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barangsiapa yang berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti/mudhorot dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah tempat kembali.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 28)
Wali secara bahasa tidak lepas dari makna cinta/kasih sayang/menolong /kedekatan.
Akan ada rahasia-rahasia yang dititipkan.
Dan ada ancaman Allah bagi orang-orang yang melakukan itu, Allah berlepas diri darinya, dan dia lepas diri dari Allah.
Artinya bisa jatuh pada kekufuran.
{وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ}
Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.
Ini semakna dengan ayat-ayat lain.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِياءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ- إِلَى أَنْ قَالَ-: وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَواءَ السَّبِيلِ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang. (Al-Mumtahanah: 1) sampai dengan firman-Nya: Dan barang siapa di antara kalian yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Mumtahanah: 1)
Jadi tidak hanya secara dhahir tetapi juga secara batin.
Demikian pula dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatakan:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا}
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian menjadikan hujjah yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)? (An-Nisa: 144)
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ [إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ] }
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian), sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Al-Maidah: 51), hingga akhir ayat.
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman sesudah menyebutkan masalah kasih sayang dan hubungan yang akrab di antara orang-orang mukmin dari kalangan kaum Muhajirin, kaum Ansar, dan orang-orang Arab/badui, yaitu:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِياءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسادٌ كَبِيرٌ
Adapun orang-orang kafir, sebagian dari mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (hai kaum muslim) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Al-Anfal: 73)
Dan kita ada ada aqidah Al Wala wal bara.
Al Wala kepada orang-orang yang beriman
Al Bara – lepas diri dari orang-orang kafir
Al Wala, bila ditegakkan ada 3 unsur.
1. Adanya kecintaan (bukan cinta yang fitrah – hubungan darah).
2. Menolong dan membantu – dilarang bantu orang-orang kafir memerangi kaum muslimin.
Kisah ini bukan karena Hatib bantu kaum musyrikin.
Kisah secara singkat
Saat Rasulullah ﷺ hendak menaklukkan Makkah (tahun 8 H), berita penting tentang operasi militer itu tersebar karena surat rahasia ditulis oleh Hatib bin Abi Baltaʿah kepada kaum Quraisy di Makkah, meminta perlindungan untuk keluarganya yang masih di sana .
Ketika diketahui, sejumlah sahabat seperti Umar bin Khattab meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk mengeksekusi Hatib karena dianggap pengkhianat. Namun Rasulullah mengingatkan bahwa Hatib pernah ikut Perang Badar, sehingga Allah telah mengampuni pasukan Badar dalam firman-Nya: “Berbuatlah sesuka kalian, karena Aku telah mengampuni kalian” .
Nabi ﷺ akhirnya memaafkan Hatib, menolak hukuman mati. Alasan utama adalah niat Hatib yang memang ingin melindungi keluarganya—bukan karena ingin berkhianat secara mendalam—dan statusnya sebagai Ahlu Badr yang memiliki keistimewaan maghfiroh Allah .
3. Ada sifat mengikuti.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَتَبِعْتُمُوهُمْ
قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟
قَالَ: فَمَنْ؟
“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga apabila mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian pasti akan mengikuti mereka.”
Kami bertanya, “Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka.” HR Muslim.
Apa yang dilakukan oleh Amar bin Yasir yang dipaksa untuk kafir kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dengan siasat ber taqiyah.
Ketika ‘Ammar ditangkap oleh kaum Musyrikin Quraisy, beliau dipaksa untuk mencela Nabi ﷺ dan menyebut nama berhala seperti Lāṭta dan ‘Uzzā. Meski beliau terpaksa mengucapkannya dengan lisannya, hatinya tetap tenang berpegang pada iman. Setelah dibebaskan, beliau menemui Nabi ﷺ dan menceritakan apa yang dialaminya.
Nabi ﷺ bertanya: “Bagaimana hatimu?” Ammar menjawab: “Hatiku tenang dengan iman.” Lalu Nabi bersabda: “Jika mereka mengulangi siksaan itu, maka katakanlah kembali (kalimat itu).”
Kisah ini dijadikan dasar turunnya Surah An-Nahl, ayat 106.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَنْ كَفَرَ بِا للّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَا نِهٖۤ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهٗ مُطْمَئِنٌّ بِۢا لْاِ يْمَا نِ وَلٰـكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِا لْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّٰهِ ۚ وَلَهُمْ عَذَا بٌ عَظِيْمٌ
“Barang siapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan mereka akan mendapat azab yang besar.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 106)
Aqidah Al Wala wal Bara tidak berarti kita dalam bermuamalah dengan orang kafir boleh curang tapi tetap harus jujur, profesional.
Rahasia kaum muslimin tidak boleh bocor kepada kaum kafir. Aurat wanita muslim terhadap kafir berbeda terhadap kaum muslimat. Ini dalam rangka menjaga rahasia kaum muslimat.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ
Dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri (siksa)-Nya. (Ali Imran: 28)
Yakni Allah memperingatkan kalian terhadap pembalasan-Nya bila Dia ditentang dalam perintah-Nya, dan siksa serta adzab Allah akan menimpa orang yang memihak kepada musuh-Nya dan memusuhi kekasih-kekasih-Nya.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
Dan hanya kepada Allah kembali (kalian). (Ali Imran: 28)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنْ تُخْفُوْا مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ اَوْ تُبْدُوْهُ يَعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ وَا للّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Katakanlah, “Jika kamu sembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu nyatakan, Allah pasti mengetahuinya.” Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 29)
Tidak ada apapun yang tersembunyi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ilmu Allah sangat luas.
Sehingga mengajarkan kita untuk selalu muroqobatullah – merasa selalu diawasi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Suatu hari, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sedang berjalan di suatu tempat dan melihat seorang penggembala yang sedang menjaga kambing-kambing milik tuannya.
Umar ingin menguji kejujuran dan amanah si penggembala. Maka ia berkata:
“Juallah kepadaku seekor kambing dari kambing-kambing itu!”
Penggembala menjawab:
“Ini bukan milikku, ini milik tuanku (majikan).”
Umar mencoba menguji lebih jauh:
“Katakan saja kepada tuanmu bahwa kambing itu dimakan serigala.”
Maka si penggembala menjawab:
“Kalau begitu, di mana Allah?”
Umar pun menangis, lalu berkata:
“Kalimat ini telah engkau ucapkan, dan aku akan memerdekakanmu karena takutmu kepada Allah.”
Demikian juga kisah seorang gadis yang menolak mencampur susu dengan air merasa diawasi oleh Allah. Gadis ini akhirnya melahirkan keturunan sekelas Umar bin Abdul Aziz.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا ۛ وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْٓءٍ ۛ تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗۤ اَمَدًاۢ بَعِيْدًا ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ ۗ وَا للّٰهُ رَءُوْفٌ بِۢا لْعِبَا دِ
“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (hari) itu (waktu yang lama) . Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 30)
Yakni pada hari kiamat nanti dihadapkan kepada setiap hamba semua amal perbuatannya, yang baik dan yang buruknya. Seperti yang disebutkan di dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَوُضِعَ الْكِتٰبُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَ يَقُوْلُوْنَ يٰوَيْلَـتَـنَا مَا لِ هٰذَا الْـكِتٰبِ لَا يُغَا دِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّاۤ اَحْصٰٮهَا ۚ وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَا ضِرًا ۗ وَ لَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا
“Dan diletakkanlah Kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, Kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 49)
يُنَبَّؤُا الْإِنْسانُ يَوْمَئِذٍ بِما قَدَّمَ وَأَخَّرَ
Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. (Al-Qiyamah: 13)
Di akhirat kelak, kita akan di qishash. Bisa jadi karena kedzaliman kita, pahala yang kita punya diberikan kepada orang lain yang kita dzalimi.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)
Allah akan menguji setiap orang yang mengaku mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ harus dibuktikan dengan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Bukti mengikuti itu dengan taat.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami (Rasulullah ﷺ), maka amalan itu tertolak.”
HR Muslim.
Ulama adalah hanya jembatan, bukan tujuan akhir.
Imam Malik berkata :
كُلٌّ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُرَدُّ إِلَّا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ
“Setiap orang bisa diambil (diterima) pendapatnya dan bisa juga ditolak, kecuali penghuni kubur ini.”
Ikuti mahdzab itu boleh, yang dilarang adalah fanatik madzhab.
Dengan ikuti petunjuk Rasulullah ﷺ maka Allah akan mengampuni dosa-dosa kita.
Semoga bermanfaat.
#tafsir #salaf #sunnah #islam #tauhid #mahabbah #hisab #cinta #jujur #alwala #walbara
##$$-aa-$$##


