SALING MENYAYANGI BUKAN SALING MENCACI
*SALING MENYAYANGI BUKAN SALING MENCACI*
Ustadz Armin Akbar, Lc
25 Dzulhijjah 1446H /21 Juni 2025
Ba’da Subuh
Agama kita adalah agama yang rahmat,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ثُمَّ كَا نَ مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَوَا صَوْا بِا لصَّبْرِ وَتَوَا صَوْا بِا لْمَرْحَمَةِ
“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”
(QS. Al-Balad 90: Ayat 17)
Firman Allah Ta’ala,
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)
Nabi ﷺ juga tidak mau mendoakan kehancuran suatu kabilah, malah mendoakan mendapatkan hidayah..
عَمْرٍو إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ دَوْسًا قَدْ هَلَكَتْ عَصَتْ وَأَبَتْ فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِم
Dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata: Tufail dan shahabatnya dari Kabilah Daus datang kepada Rasulullah dan mereka mengatakan: Wahai Rasulullah sesungguhnya Kabilah Daus telah kufur dan enggan (menerima Islam) maka berdoalah agar mereka celaka. Abu Hurairah mengatakan: binasalah Daus (kabilah nya Abu Hurairah) , maka Rasulullah mengatakan: Ya Allah, berilah hidayah kepada Kabilah Daus dan datangkanlah mereka (kepada Rasulullah) HR Bukhari
Agama Islam ini syiar nya adalah mengucapkan salam.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
“Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman. Dan tidak sempurna iman-iman kalian sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan satu amal perbuatan yang jika kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kamu sekalian.” (HR. Muslim)
Maka dari itu ada larangan untuk melaknat orang lain. Doa keburukan juga termasuk melaknat.
Laknat = jauhkan diri dari rahmat Allah.
✅ Ancaman suka melaknat.
1. Disamakan seperti membunuh.
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ
“Mencela seorang muslim adalah seperti membunuhnya.” [Muttafaqun ‘alaih]
2. Menjadikan dia sebagai seorang yang fasik (keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Fasik itu diatas kemaksiatan).
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ
“Mencela seorang muslim adalah fasik dan membunuhnya adalah tindakan kufur.” [Muttafaqun ‘alaih].
3. Penyebab masuk ke dalam neraka.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَنْ يَّقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاۤؤُهٗ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيْهَا وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهٗ وَاَعَدَّ لَهٗ عَذَابًا عَظِيْمًا
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannnya ialah jahannam, Kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. [an-Nisaa`/4 :93]
4. Tidak bisa beri syafaat dan pesaksian di hari kiamat.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا يَكونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَومَ القِيَامَةِ
“Orang-orang yang suka mengutuk tidak akan menjadi pemberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi di hari kiamat.” [HR. Muslim].
5. Tidak panas seorang mukmin untuk melaknat.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لا يكون المؤمن لعاناً
“Seorang mukmin tidak menjadi orang yang suka mengutuk.” [HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani].
6. Laknat bisa kembali kepada dirinya.
Dari Abud Darda’ Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‘Sesungguhnya apabila seorang hamba mengutuk sesuatu, naiklah kutukan itu ke atas langit, lalu ditutup pintu-pintu langit karenanya. Kemudian turun ke bumi, lalu ditutup pintu-pintunya karenanya. Kemudian ia mengambil kanan dan kiri, maka jika ia tidak menemukan tampat, niscaya ia kembali kepada yang dikutuk, jika ia pantas menerimanya, dan jika tidak niscaya ia kembali kepada yang mengucapkannya.’ [HR. Abu Daud dan dinyatakan hasan lighairih oleh al-Albani].
Nabi ﷺ melarang para sahabat melaknat,
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Nuaiman yang masih suka meminum khamr (minuman keras) pada awal-awal Islam. Sahabat yang satu ini biasa duduk bersama Nabi dan bercanda dengan beliau.
Kendati selalu berada dekat dengan Rasulullah, tetapi Nuaiman tidak mampu menghentikan kebiasaan buruk meminum khamr. Para sahabat sampai memukulnya dengan ujung pakaian mereka.
Bahkan Umar bin Al-Khattab pun ikut naik pitam melihat kelakukan tidak terpujinya. “Semoga Allah melaknatmu,” kata Umar kepada Nuaiman. “Mengapa kamu tidak berhenti dari kebiasaanmu minum khamr?”
Melihat hal itu, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Umar,
لا تلعنه فهو يحب الله ورسوله
“Janganlah kamu melaknatnya, karena sesungguhnya dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
7. Laknat termasuk riba.
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
الرِّبَا ثَلاَثٌ وَ سَبْعُوْنَ بَابًا
“Riba itu terdiri dari 73 pintu” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud]
Juga diriwayatkan oleh al-Hakim dengan tambahan
أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ، وَ إِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِم
“Yang paling ringan diantaranya, misalnya seseorang menikahi ibunya. Dan riba yang paling berat ialah merusak kehormatan seorang Muslim”
Kita diperintahkan untuk berkata yang baik kepada sesama termasuk yang kafir.
✅ Ucapan yang baik ada dua hal:
1. Ucapan benar
2. Cara ucapkan juga bagus
Ingatlah akan pelajaran dari ucapan Aisyah radhiyallahu anhaa kepada Yahudi yang ucapkan doa buruk kepada Nabi ﷺ (semoga cepat mati). Nabi ﷺ mencontohkan yang bener dengan balasan yang setimpal.
Dalil lain,
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala..
وَلَا تُجَـٰدِلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنْهُمْ ۖ وَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا بِٱلَّذِىٓ أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَـٰهُنَا وَإِلَـٰهُكُمْ وَٰحِدٌۭ وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ
Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”.
Surat Al-Ankabut (29) Ayat 46
Apalagi ucapan buruk kepada orang tua..
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)
Tahan lisan kita terutama kepada orang-orang terdekat kita. Pasangan, anak dst.
Juga terhadap orang-orang lemah yang kadang buat jengkel.
Mungkin orang yang suka minta-minta, anak-anak yatim.
Jaga lisan akan mendapatkan surga,
Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ
“Barangsiapa yang dapat menjamin bagiku sesuatu yang berada di antara jenggotnya (yaitu lisan) dan di antara kedua kakinya (yaitu kemaluan), maka aku akan menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari)
Cara belajar selalu berucap yang baik.
1. Ikuti petunjuk Rasulullah ﷺ. Hadits beriman hari akhir – diam atau berkata baik.
dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”
2. Hasan Bashri – lisan orang yang berakal itu di belakang hatinya.
Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Ketika ia hendak berbicara, ia berpikir terlebih dahulu. Jika ucapannya bermanfaat baginya, ia mengucapkannya, tetapi jika membahayakan dirinya, ia diam. Sebaliknya, hati orang bodoh berada di belakang lisannya. Jika ia hendak berbicara, ia langsung mengucapkannya, baik itu bermanfaat maupun merugikan dirinya.”
3. Ucapan baik itu bagian ketakwaan.
Surat Al-Ahzab (33) Ayat 70
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًۭا سَدِيدًۭا
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,
Semoga bermanfaat.
#majelisilmu #salaf #sunnah


