Diterbitkan pertama kali pada: 14-Jan-2024 @ 06:25

6 menit membaca

🗒️ *AMALAN PERUSAK QALBU #3 AL GHAFLAH – LALAI BERDZIKIR*
Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary
2 Rajab 1445H/14 Jan 2024
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi

Ustadz memulai dengan Doa Memohon Ilmu

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

Allaahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’an, wa a’uudzu bika min ‘ilmin laa yanfa’.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.HR. Ibnu Hibban.

Tema ini sangat penting.

Al GHAFLAH – adalah masdar dari

غفل – يغفل

bermakna peninggalan sesuatu karena lupa atau sengaja.

Hilangnya sesuatu dari manusia dan tidak ingat. Dan kadang dipakai untuk orang yang tidak mau (dianggap tidak penting).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِقْتَرَبَ لِلنَّا سِ حِسَا بُهُمْ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ مُّعْرِضُوْنَ 

“Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat).”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 1)

Secara istilah – hilangnya rasa atas sesuatu yang harus dirasakan (dilakukan).

Contoh semestinya dia ingat bahwa setelah kematian ada akhirat lalu dia melupakan itu.

🔺Allah mencela GHAFLAH.

🔸Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا ذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَـهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِا لْغُدُوِّ وَا لْاٰ صَا لِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ

“Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah/lalai.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 205)

🔸Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk menjauhi orang-orang yang lalai.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا صْبِرْ نَـفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِا لْغَدٰوةِ وَا لْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْ ۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَ لَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَا تَّبَعَ هَوٰٮهُ وَكَا نَ اَمْرُهٗ فُرُطًا

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya (hawa nafsu) dan keadaannya sudah melewati batas.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 28)

وَا تَّبَعَ هَوٰٮهُ
Mengikuti hawa nafsu, termasuk salah satu pengertian ghaflah.

🔸Allah mencela orang yang lalai

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖ وَهُمْ عَنِ الْاٰ خِرَةِ هُمْ غٰفِلُوْنَ
“Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 7)

📍Hasan Bashri dalam tafsirnya – Sungguh saking mereka perhatian atas dunia bahwa seseorang tahu beratnya Dinar hanya dengan dipegang. Tapi dia lalai (tidak baik dalam mengerjakan sholat).

❗Ancaman neraka bagi ghaflah. Lupa hari setelah kematian.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَ نْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ اِذْ قُضِيَ الْاَ مْرُ ۘ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ وَّهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ
“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman.” (QS. Maryam 19: Ayat 39)

Salah satu bentuk lalai adalah tidak beriman.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan ayat tersebut..

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحٍ فَيُنَادِي بِهِ مُنَادٍ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ ! فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقُولُ: هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ, وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ, ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ : يَا أَهْلَ النَّارِ فَيَشْرَئِبُوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ, فَيَقُوْلُ : هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : نَعَمْ, هَذَا الْمَوْتُ وَكُلُّهْمْ قَدْ رَآهُ فَيُذْبَحُ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يَقُوْلُ : يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ, وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ, ثُمَّ قَرَأَ (وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الأَمْرُ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ وَهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ) وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الدُّنْيَا

“Kematian didatangkan pada bentuk kambing berkulit hitam putih, lalu seorang penyeru memanggil: Wahai penduduk surga! Mereka melongok dan melihat, penyeru itu berkata: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, ini adalah kematian, mereka semua telah melihatnya. Kemudian penyeru memanggil: Wahai penduduk neraka! Mereka menengok dan melihat, penyeru itu berkata: Apakah kalian mengenal ini? Mereka menjawab: Ya, ini adalah kematian, mereka semua telah melihatnya, lalu disembelih diantara surga dan neraka, lalu berkata: Wahai penduduk surga, kekekalan tiada kematian setelahnya, dan hai penduduk neraka, kekekalan dan tiada kematian setelahnya, lalu beliau membaca ayat 39 dari surat Maryam (Dan berilah mereka peringatan tatkala ditetapkan perkara sedangkan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman). Dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke dunia. (HR. Bukhari & Muslim)

➡️ Sifat ghaflah.

🔹1. Kelalaian yang Terpuji adalah lalai dari maksiat

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ الْمُحْصَنٰتِ الْغٰفِلٰتِ الْمُؤْمِنٰتِ لُعِنُوْا فِى الدُّنْيَا وَا لْاٰ خِرَةِ ۖ وَلَهُمْ عَذَا بٌ عَظِيْمٌ 
“Sungguh, orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan baik, yang lalai (dari maksiat) dan beriman (dengan tuduhan berzina), mereka dilaknat di dunia dan di akhirat, dan mereka akan mendapat azab yang besar,”
(QS. An-Nur 24: Ayat 23)

🔹2. Kelalaian yang tercela, lalai dari ketaatan kepada Allah, lalai dari ingat kematian.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖ وَهُمْ عَنِ الْاٰ خِرَةِ هُمْ غٰفِلُوْنَ
“Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 7)

📍Lalai yang tercela ada tiga macam.

🔹1. Datang secara tiba-tiba, biasanya terkena orang-orang sholeh.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰٓئِفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِ ذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَ 
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 201)

🔹2. Lalai yang diulang-ulang.

Ini pada ahli maksiat bahkan sampai pada derajat kefasikan.

Melakukan kemaksiatan tetapi tidak merasa berat.

🔹3. Lalai yang sempurna – yaitu orang kafir atau musyrik. L

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَتَمَتَّعُوْنَ وَيَأْكُلُوْنَ كَمَا تَأْكُلُ الْاَ نْعَا مُ وَا لنَّا رُ مَثْوًى لَّهُمْ

“Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia), dan mereka makan seperti hewan makan; dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka.”
(QS. Muhammad 47: Ayat 12)

➡️ Penyebab lalai

🔸1. Ingin nyaman, santai
🔸2. Ingin kelezatan dunia
🔸3. Matinya Qalbu – tidak malu, takut, saat berdosa.

Ibnul Qayyim – kadang ada orang lakukan dosa kecil dan tidak malu pada Allah. Tidak ada rasa takut pada Allah yang sebabkan dosa kecil itu diangkat jadi dosa besar.

Kadang orang lakukan dosa besar tapi setelah itu dia takut kepada Allah, maka ini semua kembali kepada Qalbu nya.

Sebab melakukan dosa adalah mati rasa saat itu.

🔸4. Mengikuti hawa nafsu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاَ مَّا مَنْ خَا فَ مَقَا مَ رَبِّهٖ وَ نَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى 
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya,”
(QS. An-Nazi’at 79: Ayat 40)

🔸5. Mengejar dunia. Ingin dapat harta dunia.

❗Peringatan Allah pada para pedagang..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

رِجَا لٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَا رَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِ قَا مِ الصَّلٰوةِ وَ اِيْتَآءِ الزَّكٰوةِ ۙ يَخَا فُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَا لْاَ بْصَا رُ 
“orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual-beli dari mengingat Allah, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat),”
(QS. An-Nur 24: Ayat 37)

Salah satu yang lalaikan adalah jual beli dan perdagangan.

🔸6. Terlalu banyak bermain. Terlalu Sibuk dengan olahraga.

Dalam sebuah hadits secara makna disebutkan – orang pedalaman itu keras dan orang yang sibuk berburu akan lalai.

Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ سَكَنَ الْبَادِيَةَ جَفَا وَمَنْ اتَّبَعَ الصَّيْدَ غَفَلَ وَمَنْ أَتَى السُّلْطَانَ افْتَتَنَ

“Barang siapa yang tinggal di pedalaman, maka akan berwatak keras, barang siapa yang membuntuti binatang buruan ia lalai serta barang siapa yang mendatangi penguasa dia akan terkena fitnah.” HR Ahmad.

🔸7. Terlalu banyak permainan. Tempat yang banjak permainan, dan mushola susah.

🔸8. Bercampur dengan orang yang lalai.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَا لَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَ نْسٰٮهُمْ اَنْفُسَهُمْ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lalai kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 19)

✅ Potret orang yang lalai

1️⃣ Lalai dari belajar ilmu agama

2️⃣ Lalai dari berinteraksi dengan Al Qur’an (baca, dengar, pelajari, hafal, amalkan)

3️⃣ Lalai dzikir kepada Allah, ini seperti orang mati.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَثَلُ البَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ ، وَالبَيْتِ الَّذِي لاَ يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ ، مَثَلُ الحَيِّ والمَيِّتِ

  “Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan yang tidak bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari)

4️⃣ Lalai dari dzikir yang bentengi dari keburukan-keburukan.

Misal
– masuk rumah dengan baca Bismillah.
– makan dengan baca Bismillah

5️⃣ Lalai dalam urusan memperhatikan niat.

Ingat selalu pertanyaan.
لما فعلت؟

Untuk apa beramal?

6️⃣ Lalai dari mengingat amal yang paling afdhol.

➡️ Obat dari lalai ❗

1️⃣ Orientasi kan diri akan akhirat

2️⃣ Berdoa kepada Allah agar senantiasa tidak lalai.

🔸Doa Memohon Keteguhan Hati

Doa yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii ‘alaa diinik.

Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.
HR. Tirmidzi.

🔸Doa Memohon Petunjuk Dan Kebenaran

اَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ وَسَدِّدْنِي

Allaahummahdinii wa saddidnii.

Ya Allah, berilah aku hidayah dan keteguhan dalam kebenaran.
HR. Muslim dalam Shahih Muslim.

3️⃣ Berteman dengan orang-orang yang senantiasa tidak lalai. Orang yang ber amar ma’ruf nahi munkar

#salaf #sunnah #lalai #dzikir #ghaflah

Semoga bermanfaat.

##$$-aa-$$##

Digita Template

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?