Diterbitkan pertama kali pada: 27-Nov-2022 @ 19:07

8 menit membaca

*SYARAH AQIDAH ATH-THAHAWIYYAH* Bagian 1
Penulis : Imam Abu Ja’far ath-Thahawi
Ustadz Dr Sufyan Basweidan, Lc MA
3 Jumadil Awal 1444H/27 Nop 2022
Masjid Al Fattah Jatinegara

1️⃣. Muqaddimah

Ini adalah salah satu matan yang membahas aqidah Ahlussunnah Wal jamaah. Madzhab Hanafi.

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata:

Inilah penjelasan tentang aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah menurut madzhab ahli fiqih agama ini, yaitu Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit al-Kufi, Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim al-Anshari, dan Abu ‘Abdillah Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani —semoga Allah merahmati mereka semuanya— dan apa yang mereka yakini tentang dasar-dasar agama yang dengannya mereka beragama kepada Rabb Semesta Alam:

Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani  adalah gurunya Imam Syafi’i.
Guru Imam Syafi’i juga Imam Malik.
Murid Imam Syafi’i adalah Imam Ahmad.

Jadi 4 mahdzab itu nyambung, yang beda hanya fikih.

2️⃣. Tentang Allah

[1] نَقُولُ في تَوحِيدِ اللهِ مُعْتَقِدِينَ بِتَوفِيقِ اللهِ: إنَّ اللهَ وَاحِدٌ لَا شَرِيكَ لَهُ.

[1] Kami meyakini tentang mentauhidkan Allah, dengan taufik dari Allah, bahwa: Allah itu satu, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Kami maksudnya bukan hanya Imam Abu Hanifah dan dua murid senior nya. Tetapi Ahlussunnah Wal jamaah.

Salah satu dalilnya adalah surat Al Ikhlas.
Pijakan Islam adalah tauhid, dan Rasul ﷺ diutus untuk memerangi kesyirikan..

Banyak ayat yang mengandung makna Laailaha illallah.

[2] وَلَا شَيْءَ مِثْلُهُ.

[2] Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.

Makna tauhid – pengesaan Allah pada semua yang merupakan kerjasama kekhususan Allah.

Bila tidak khusus maka bukan kekhususan Allah. Yang khusus adalah sifat sempurnanya Allah.

Yang sekedar mendengar, banyak yang mendengar
Yang sekedar melihat banyak.. Tetapi yang sempurna Allah.

Yang diibadahi hanya Allah.. Hak prerogatif Allah.

[3] وَلَا شَيْءَ يُعْجِزُهُ.

[3] Tidak ada sesuatu pun yang bisa melemahkan-Nya.

{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ}

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. (Asy-Syura: 11)

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ

Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah, baik di langit maupun di bumi.

Sifat Allah tidak bisa ketahui hakikatnya, baik dzat maupun perbuatan.
Dengan tiga alasan.

1. Allah tidak kelihatan (tidak terdeteksi pancaindera)
2. Allah tidak ada yang mirip dengan-Nya
3. Allah tidak menceritakan hakikat sifat-sifat Nya.

Ini tidak sesuai dengan keyakinan Yahudi dan Nasrani yang Allah punya kelemahan.

[4] وَلَا إِلٰهَ غَيْرُهُ.

[4] Tidak ada yang berhak diibadahi selain-Nya.

Ini adalah poin terpenting dakwah Rasulullah ﷺ.
Kaum Quraisy sangat keberatan dengan Tauhid uluhiyah dan hari akhirat (hari kebangkitan).

Dan dalam Al Qur’an dan hadits banyak dijumpai gabungan dari tauhid uluhiyah dan hari akhirat.

Lihatlah reaksi musyrikin Quraisy, Allah berfirman..

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ (35) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ (36)

Sesungguh­ nya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka,   La illaha ilallah” , mereka menyombongkan diri dan mereka berkata, “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kita karena seorang penyair gila?” qs As Shaffat ayat 34-36.

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ (4) أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ (5)

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengheran­kan.”  QS Shad 4-5.

[5] قَدِيمٌ بِلاَ ابتِدَاءٍ، دَائِمٌ بِلَا انْتِهَاءٍ.

[5] Maha Terdahulu tanpa permulaan, Maha Abadi tanpa akhir.

Kata Qadim ini tidak tepat bila ditujukan kepada Allah, karena ada konotasi negatif.

Allah gunakan kata Awal..

{هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ}

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan YangBatin. (Al-Hadid: 3)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadits mengatakan – Yaa Allah Kaulah Yang Pertama sebelum ada sesuatu dan Engkaulah Yang Terakhir.

[6] لَا يَفْنَى وَلَا يَبِيْدُ.

[6] Dia tidak akan fana dan tidak akan binasa.

[7] وَلاَ يَكُونُ إِلَّا مَا يُرِيدُ.

[7] Tidak ada yang terjadi kecuali apa yang Dia kehendaki.

Ini berkaitan berbeda dengan aqidah Mu’tazilah (manusia kehendak yang bebas).

Misalnya – mu’tazilah berkata – Hamzah terbunuh di perang Uhud itu tidak dikehendaki oleh Allah.

Konsekuensi nya Allah punya kehendak tapi tidak terjadi – ada kelemahan.

Ahlussunnah Wal jamaah – amalan disandarkan pada Allah dan pada kita.

Allah ciptakan kalian dan apa yang kalian amalan.
Perbuatan kita ini termasuk sesuatu.
Dan Allah menciptakan segala sesuatu.

ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ

Kementrian AgamaAllah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.

Dan ayat-ayat lain yang menjelaskan.

Definisi Sesuatu : apa saja yang pernah terjadi, sedang terjadi maupun yang akan terjadi.

Perbuatan manusia, Disandarkan pada Allah dari sisi
1. Modal manusia – ada keinginan untuk berbuat.
2. Dan Allah beri kemampuan.

Allah hanya siapkan prasarana… Bisa untuk baik dan bisa untuk keburukan.

Amalan disandarkan pada manusia
1. Kita yang memilih
2. Kita yang terlibat langsung

Allah akan membalas perbuatan atau amalan bila hanya sesuatu telah terjadi dengan sempurna.
Inilah keadilan dari Allah.

[8] لَا تَبلُغُهُ الأَوْهَامُ، وَلَا تُدْرِكُهُ الأَفْهَامُ.

[8] Allah tidak bisa dijangkau oleh perenungan dan tidak bisa dijangkau nalar pikiran.

Kaifiat sifat Allah tidak bisa dibayangkan. Kalau makna bisa dipahami.

Hakikat itu ikuti pemiliknya.

Misalnya tangan..
Tangan monyet beda dengan tangan manusia.

[9] وَلَا يُشْبِهُ الأنَامَ.

[9] Dia tidak menyerupai makhluk.

[10] حَيٌّ لَا يَمُوتُ، قَيُّومٌ لَا يَنَامُ.

[10] Dia Maha Hidup tidak akan mati, Maha Berdiri (mengurus makhluk-Nya terus-menerus) tidak pernah tidur.

Allah tidak ngantuk.. Lihat ayat Kursi.
Dan sifat sempurna dari Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَسْئَـلُهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَأْنٍ 
“Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 29)

[11] خَاِلقٌ بِلاَ حَاجَةٍ، رَازِقٌ بِلاَ مُؤْنَةٍ.

[11] Dia Maha Pencipta tanpa membutuhkan (ciptaan-Nya), Maha Pemberi rezeki tanpa berkurang (kerajaan-Nya).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 وَمَنْ كَفَرَ فَاِ نَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ

“Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 97)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ جَاهَدَ فَاِ نَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَـغَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ
“Dan barang siapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sungguh, Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 6)

Kita ini bagian dari alam semesta.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَا فُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 54)

Mukmin itu gak minder dengan orang kafir, gak takut celaan orang.

Allah gak butuh dengan kita tetapi Allah ciptakan kita dengan hikmah – untuk beribadah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنْ تَكْفُرُوْا فَاِ نَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ ۗ وَلَا يَرْضٰى لِعِبَا دِهِ الْـكُفْرَ ۚ وَاِ نْ تَشْكُرُوْا يَرْضَهُ لَـكُمْ ۗ وَلَا تَزِرُ وَا زِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى ۗ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ بِۢذَا تِ الصُّدُوْرِ
“Jika kamu kafir (ketahuilah) maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak meridai kekafiran hamba-hambanya. Jika kamu bersyukur, Dia meridai kesyukuranmu itu. Seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sungguh, Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam dada(mu).”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 7)

Jangan sekali-kali merasa kita ini sudah baik.

{إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا}

Jika kalian berbuat baik, (berarti) kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri; dan jika kalian berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi diri kalian sendiri. (Al-Isra: 7)

Allah tidak bakal keteteran dalam memberi rezeki kepada makhluk-Nya.

[12] مُمِيتٌ بِلَا مَخَافَةٍ، بَاعِثٌ بِلاَ مَشَقَّةٍ.

[12] Dia Maha Mematikan tanpa takut, Maha Membangkitkan tanpa ada kesulitan.

[13] مَا زَالَ بِصِفَاتِهِ قَدِيمًا قَبْلَ خَلْقِهِ، لَمْ يَزْدَدْ بِكَوْنِهِم شَيْئًا لَمْ يَكُنْ قَبلَهُم مِنْ صِفَتِهِ، وَكَمَا كَانَ بِصِفَاتِهِ أَزَلِيًّا؛ كَذَلِكَ لَا يَزَالُ عَلَيْهَا أَبَدِيًّا.

[13] Dia telah memiliki sifat-sifat itu semenjak dahulu, sebelum ada makhluk-Nya. Dengan terciptanya para makhluk yang sebelumnya tidak ada, tak bertambah sedikitpun sifat-sifat-Nya. Sebagaimana sifat-sifat-Nya azali (ada sebelum selainnya ada), begitu pula Dia abadi selama-lamanya.

Kata Qadim ini juga kurang tepat.

🖍️Sifat Allah ada dua.
Sifat Dzat iyah (yang senantiasa melekat)
Sifat Fi’liyah yang terkait Masyi’ah (contoh sifat turun, sifat menolong, sifat ijabah)

[14] لَيْسَ مُنْذُ خَلَقَ الخَلْقَ اسْتَفَادَ اسْمَ «الخَالِقِ»، وَلاَ بِإِحْدَاثِهِ البَرِيَّةَ اسْتَفَادَ اسْمَ «البَارِي».

[14] Bukan semenjak Dia menciptakan para makhluk disandangkan pada-Nya nama al-Khaliq (Pencipta), dan bukan pula karena baru menciptakan makhluk disandangkan pada-Nya nama al-Bari (Pencipta).

Allah tidak digelari Maha Pencipta hanya harena hasil ciptaan sudah jadi.

[15] لَهُ مَعْنَى الرُّبُوبِيَّةِ وَلَا مَرْبُوبٍ، وَمَعْنَى الخَالِقِ وَلَا مَخْلُوقٍ.

[15] Dia memiliki sifat Rububiyah (Pencipta, Pemilik, Pengatur, Pemberi rezeki) bukan marbub (dicipta, dimiliki, diatur), dan juga memiliki sifat al-Khaliq bukan makhluk.

Allah itu Rabb walaupun belum ada yang lain.

[16] وَكَمَا أَنَّهُ مُحْيِ المَوْتَى بَعْدَمَا أَحْيَا، اسْتَحَقَّ هَذَا الِاسْمَ قَبْلَ إِحْيَائِهم؛ كَذلِكَ اسْتَحَقَّ اسْمَ الخَالِق قَبْلَ إنْشَائِهِمْ.

[16] Sebagaimana Dia yang menghidupkan segala yang mati (Al-Muhyi) setelah sebelumnya menghidupkannya, Dia-pun berhak atas sebutan itu sebelum menghidupkan mereka, demikian juga Dia berhak menyandang sebutan Al-Khaliq sebelum menciptakan mereka.

Sifat-sifat Allah berbeda dengan manusia – yang manusia dikenal bisa menciptakan kalau sudah terjadi.

[17] ذَلِكَ بِأَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَكُلُّ شَيْءٍ إِلَيهِ فَقِيرٌ، وَكُلُّ أَمْرٍ عَلَيْهِ يَسِيرٌ، لاَ يَحْتَاجُ إِلَى شَيْءٍ، {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} [الشورى: 11].

[17] Hal itu karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, sementara segala sesuatu itu sangat butuh kepada-Nya. Segala urusan bagi-Nya mudah dan Dia tidak membutuhkan sesuatu. “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11)

[18] خَلَقَ الخَلْقَ بِعِلْمِهِ.

[18] Dia menciptakan semua makhluk dengan ilmu-Nya.

Allah tahu seluk beluk makhluk yang akan diciptakan.
Ada makhluk yang Allah ciptakan dengan kalimat. Dan ada yang dengan tangan (Nabi Adam)

[19] وَقَدَّرَ لَهُمْ أَقْدَارًا.

[19] Dan menentukan takdir-takdir mereka.

Umur – rezeki – dst.
Allah hanya akan membalas perbuatan setelah terjadi.

🖍️ Maka tidak boleh sandarkan pada takdir.

KECUALI – 1. yang sudah taubat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سَيَـقُوْلُ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا لَوْ شَآءَ اللّٰهُ مَاۤ اَشْرَكْنَا وَلَاۤ اٰبَآ ؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۗ كَذٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتّٰى ذَا قُوْا بَأْسَنَا ۗ قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوْهُ لَـنَا ۗ اِنْ تَتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِ نْ اَنْـتُمْ اِلَّا تَخْرُصُوْنَ

“Orang-orang musyrik akan berkata, “Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.” Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan azab Kami. Katakanlah (Muhammad), “Apakah kalian mempunyai pengetahuan yang dapat kalian kemukakan kepada kami? Yang kalian ikuti hanya persangkaan belaka, dan kalian hanya mengira.””
(QS. Al-An’am 6: Ayat 148)

Orang-orang musyrikin itu hanya mengira-ira, gak ada dalil.

[20] وَضَرَبَ لَهُمْ آجَالًا.

[20] Dan menentukan ajal-ajal mereka.

Ketika janin 120 hari.

[21] لَمْ يَخْفَ عَلَيهِ شَيْءٌ مِنْ أَفْعَالِهِمْ قَبْلَ أَنْ خَلَقَهُمْ، وَعَلِمَ مَا هُمْ عَامِلُونَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَهُمْ.

[21] Tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya sebelum Dia menciptakan mereka. Bahkan Dia mengetahui apa yang akan mereka kerjakan, sebelum menciptakan mereka.

Ilmu Allah sudah sempurna dari awal.

[22] وَأَمَرَهُمْ بِطَاعَتِهِ، وَنَهَاهُمْ عَنْ مَعْصِيَتِهِ.

[22] Dia memerintahkan mereka mentaati-Nya dan melarang mereka bermaksiat kepada-Nya.

[23] وَكُلُّ شَيْءٍ يَجْرِي بِتَقْدِيرِهِ ومَشِيئَتِهِ، وَمَشِيئَتُهُ تَنْفُذُ، لاَ مَشِيئَةَ لِلْعِبَادِ إِلَّا مَا شَاءَ لَهُمْ، فَمَا شَاءَ لَهُمْ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ.

[23] Dan segala sesuatu berjalan dengan takdir dan kehendak-Nya. Kehendaknya pasti terjadi. Tidak ada kehendak bagi para hamba kecuali apa yang Dia kehendaki bagi mereka. Maka, apa yang Dia kehendaki bagi mereka akan terjadi dan apa yang tidak Dia tidak kehendaki tidak akan terjadi.

🖍️ Orang banyak terjatuh pada kesalahan, jangan kira-kira, jangan fanatik dengan orang tapi ikuti dalil.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَ لَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُ مِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰٮةِ وَا لْاِ نْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰٮهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَا لْاَ غْلٰلَ الَّتِيْ كَا نَتْ عَلَيْهِمْ ۗ فَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَ اتَّبَـعُوا النُّوْرَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ مَعَهٗۤ ۙ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 157)

Allah meridhoi hanya yang Allah cintai.

[24] يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ، وَيَعْصِمُ ويُعَافِي فَضْلًا، ويُضِلُّ مَنْ يَشاءُ، ويَخْذَلُ وَيَبْتَلِي عَدْلًا.

[24] Dia memberi petunjuk siapa saja yang Dia kehendaki, juga melindungi dan 
menjaganya dengan keutamaan-Nya. Dia membiarkan sesat siapa yang Dia kehendaki, membiarkannya hina, dan mengujinya berdasarkan keadilan-Nya.

Afiah itu Allah hindarkan dari musibah.
Allah tidak berbuat dzalim karena Allah tidak memaksa, sudah dijelaskan dengan urusan Allah.

[25] وَكُلُّهُم يَتَقَلَّبُونَ فِي مَشِيئَتِهِ بَيْنَ فَضْلِهِ وَعَدْلِهِ.

[25] Seluruh makhluk berada di bawah kendali kehendak-Nya di antara karunia dan keadilan-Nya.

[26] [وَهُوَ مُتَعَالٍ عَنِ الأَضْدَادِ وَالأَنْدَادِ].

[26] [Dia mengalahkan semua musuh dan tandingan]

[27] لَا رَادَّ لِقَضَائِهِ، وَلَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ، وَلاَ غَالِبَ لِأَمْرِهِ.

[27] Tak seorang pun mampu menolak takdir-Nya, menolak ketetapan hukum-Nya, atau mengungguli urusan-Nya.

[28] آمَنَّا بِذَلِكَ كُلِّهِ، وأَيْقَنَّا أَنَّ كُلًا مِنْ عِنْدِهِ.

[28] Kita mengimani semua itu, dan kita pun meyakini bahwa segalanya datang dari-Nya (terjadi karena takdir-Nya).

Ini adalah bahasan sifat Allah.

Bersambung

Sumber matan : https://www.terjemahmatan.com/2015/11/aqidah-ath-thahawiyah-matan-dan-terjemah.html.

Semoga bermanfaat.

##$$-aa-$$##.

Digita Template

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?