Diterbitkan pertama kali pada: 15-Jun-2020 @ 21:25

7 menit membaca

IMAN KEPADA HARI AKHIR
Masjid At Tarbiyah, 12 Syawal 1439H
Ustadz Maududi Abdullah

Yang diberikan Allah setiap hari kepada kita adalah lebih baik daripada dunia dan isinya, bila kita bisa melihat rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita tidak sanggup hitung nikmat Allah,

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34).

Manusia memahami nikmat Allah berbeda dengan yang Allah maksudkan sehingga manusia tidak pandai bersyukur.

Nikmat sehat, nikmat organ tubuh, malah jauh dibawah nikmat turunnya petunjuk Allah, Al Quran..

Dengan Alquran, maka kita Insya Allah selamat dunia dan akhirat, yang mana selamat akhirat, jauh lebih penting..

Orang yang tidak menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup maka di akhirat akan sangat menderita, mereka hanya berharap kematian… Cita2 orang kafir di akhirat kelak..

Allah Ta’ala berfirman,

{وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا}

dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (An-Naba: 40)

Hewan2 juga dibangkitkan di akhirat..

Firman Allah dalam ayat yang mulia,

{وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ}

dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. (At-Takwir: 5)

Yakni dihimpunkan untuk keadilan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ

“Sungguh semua hak akan dikembalikan kepada pemiliknya pada hari kiamat. Sampai diqishas kambing yang tidak bertanduk kepada kambing yang bertanduk.” (HR. Ahmad 7404 & Muslim 6745)

Apa pun yang disampaikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setelah kematian adalah konsep iman kepada hari akhir.

Barsyakh adalah pemisah… Antara dunia dan akhirat..

Umur di alam barsyakh lebih panjang daripada umur di dunia..

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan malaikat Jibril sama tidak tahu kapan kiamat terjadi.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salla pernah bersabda di dalam hadits Jibril:

مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ.

‘Orang yang ditanya tentangnya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya.’

Iman kepada hari akhir adalah masalah ghaib..
Seluruh yang ghaib, disembunyikan Allah dari panca indera kita..

Keterangan tentang hal ghaib termasuk hari akhir hanya dari wahyu, Alquran dan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Hari akhir adalah hari yang sangat berat dan semua kita pasti ke sana,manusia tidak bisa absen di hari akhir.

Kita semua akan dibangkitkan, untuk pembalasan atas apa yang kita kerjakan di muka bumi.

Seiring dengan kuat nya iman seseorang pada Allah dan hari akhir, maka seseorang itu makin bagus menjaga diri dari kemaksiatan..

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Semakin kuat iman kepada hari akhir,maka semakin kuat menjaga lisan..

*Hal yang paling tidak dianggap amalan oleh manusia adalah lisan.*

Nasihat ulama salaf, Sebelum bicara engkau aman, setelah bicara ada 2, aman dan menderita dari yang kita ucapkan.

Mencela manusia berarti juga mencela yang menciptakan manusia..

Dalam sebuah hadits..

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قُلْتُ لِلنَّبِيِّ حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّة كَذَا وَ كَذَا وَ قَالَ بَعْضُ الرُّوَاةُ : تَعْنِيْ قَصِيْرَةٌ, فَقَالَ : لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ

“Dari ‘Aisyah beliau berkata: Aku pernah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Cukup bagimu dari Shofiyah ini dan itu”. Sebagian rawi berkata :”’Aisyah mengatakan Shofiyah pendek”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat, yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya”
HR Tarmidzi.

Allah berfirman,

Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

{فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ}

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Az-Zalzalah: 7-8)

Iman Ahmad sangat hati-hati dalam amalan..

Salah seorang sahabat Imam Ahmad menjenguknya ketika sakit, ia mendapati Imam ahmad mengerang karena sakit.

Maka ia berkata, ‘wahai Abu Abdillah (nama kunyah Imam Ahmad), engkau mengerang? (maksudnya, ahli ilmu seperti engkau kok mengerang ketika sakit), padahal Thawuus telah berkata, ‘sesungguhnya malaikat menulis sampai erangan ketika sakit’, karena Allah berfirman, ‘Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir;
Dan sejak saat itu Imam Ahmad tidak mau mengeluh..

Untuk kita marilah kita perbaiki diri untuk mempersiapkan diri di akhirat kelak.

Ilmu tentang akhirat tidak hanya untuk pengetahuan tapi harus diturunkan ke hati supaya kita memperbaiki amalan kita.

Kalau masih sebagai pengetahuan maka itu hanya hafalan, bukan iman, iman letaknya di hati..

Nasihat Umar bin Khattab, supaya kita hisab diri kita di dunia sebelum Allah menghisab kita di akhirat kelak..

Dalam wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ؛ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ! أَخْبِرْنِـيْ بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِـيْ الْـجَنَّةَ ، وَيُبَاعِدُنِـيْ مِنَ النَّارِ. قَالَ : «لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظِيْمٍ ، وَإِنَّهُ لَيَسِيْرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَـى عَلَيْهِ : تَعْبُدُ اللهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ ، وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ ، وَتَحُجُّ الْبَيْتَ». ثُمَّ قَالَ : «أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَـى أَبْوَابِ الْـخَيْرِ ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْـخَطِيْئَةَ كَمَـا يُطْفِئُ الْـمَـاءُ النَّارَ ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِـيْ جَوْفِ اللَّيْلِ» ، ثُمَّ تَلاَ : تَتَجَافَـى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْـمَضَاجِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّـا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَآ أُخْفِيَ لَــهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءً بِـمَـا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ [السجدة : ١٦-١٧]. ثُمَّ قَالَ : «أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ اْلأَمْرِ ، وَعَمُوْدِهِ ، وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ ؟» قُلْتُ : بَلَـى يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : «رَأْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمُ ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْـجِهَادُ». ثُمَّ قَالَ : «أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَ لِكَ كُلِّهِ ؟». قُلْتُ : بَلَـى يَا رَسُوْلَ اللهِ. فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ ، ثُمَّ قَالَ : «كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا». قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ ! وَإِنَّا لَـمُؤَاخَذُوْنَ بِـمَـا نَتَكَلَّمُ بِهِ ؟ فَقَالَ : «ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ ! وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِـى النَّارِ عَلَـى وُجُوْهِهِمْ – أَوْقَالَ : عَلَـى مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Wahai Rasulullâh! Jelaskan kepadaku amal perbuatan yang memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, engkau telah bertanya tentang sesuatu yang besar, namun itu mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah Azza wa Jalla di dalamnya, yaitu: engkau beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, melaksanakan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.”

Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan?

Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam.”

Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah Azza wa Jalla , “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

Maka, tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (as-Sajdah/32:16-17).

Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah engkau aku jelaskan tentang pokok segala perkara, tiang-tiang, dan puncaknya?”

Aku berkata, “Mau, wahai Rasulullâh.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.”

Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah engkau aku jelaskan mengenai hal yang menjaga itu semua?”

Aku menjawab, “Mau, wahai Rasulullâh.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang lidahnya kemudian bersabda, “Jagalah ini (lidah).”

Aku berkata, “Wahai Nabiyullâh, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita katakan?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla menyayangi ibumu, wahai Mu’adz! bukanlah manusia terjungkir di neraka di atas wajah mereka -atau beliau bersabda: di atas hidung mereka- melainkan dengan sebab lisan mereka.”

[Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Beliau mengatakan, “Hadits ini hasan shahîh]”

Yunus bin Ubaid, kalau sudah menjaga lisan karena iman yang kuat pada hari akhir, maka tidak ada yang salah dengan amalan-amalan yang lain,

Beda dengan yang sudah sering puasa namun masih ada korupsi,
Sudah sering haji , masih ada perbuatan dosa besar…

perkataan Yunus bin Ubaid, “Seseorang yang menganggap bahwa lisannya bisa membawa bencana, umumnya baik amalan-amalannya”.

Maka, tingkatan Penjagaan lisan..

Banyak orang yang percaya surga dan berharap surga namun tidak semangat beramal untuk surga.
Banyak dari kita berinfak dengan sisa harta..

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah memasak kambing dan semua dibagikan kepada tetangga dan hanya kebagian paha atas…

Orang beriman sering ditertawakan.. Dan dituding sesat..

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ (29) وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ (30)

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. QS Muthaffifin 29-30.

{وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلاءِ لَضَالُّون}

Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan, “sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat.” (Al-Muthaffifin:32)

Itu ada masanya dan akan dibalas di akhirat.

{فَالْيَوْمَ}

Maka pada hari ini. (Al-Muthaffifin:34)

Maksudnya, di hari kiamat.

{الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ}

Orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. (Al-Muthaffifin:34)

sebagai pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa karena mereka sewaktu di dunia menertawakannya.

{عَلَى الأرَائِكِ يَنْظُرُونَ}

mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. (Al-Muthaffifin:35)

Yaitu memandang kepada Allah untuk menyanggah dugaan orang-orang berdosa yang menuduh mereka sebagai orang-orang yang sesat.

Di hari itu terbukti bahwa orang-orang mukmin yang mereka tertawakan tidak sesat, bahkan mereka adalah kekasih-kekasih Allah yangdidekatkan kepada-Nya, dan dapat melihat kepada Tuhan mereka di negeri kehormatan-Nya, yaitu surga.

Firman Allah:

{هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ}

Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (Al-Muthaffifin:36)

Diantara yang diadzab adalah orang2 yang menertawakan mukmin yang diadzab di neraka..

Iman kepada hari akhir perlu pengorbanan, karena ada fitnah dunia dan syahwat.. Yang condong kepada maksiat.

Nasihat Ustadz, kita tingkatkan iman kita kepada hari akhir, untuk memperbaiki hidup kita..

Nasihat Umar bin Abdul Aziz,
*Barangsiapa yang di dunia menghisab amalnya di dunia, maka akan mudah hisab nya di akhirat.*

Manfaat iman hari akhir adalah mendidik jiwa kita untuk keberuntungan pada hari akhir.

Maka perlu untuk memeriksa bagaimana kita dapatkan harta kita, halal atau haram…

{وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأولَى}

dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan – dunia. (Adh-Dhuha: 4)

##$$aa$$##

Digita Template

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?