Diterbitkan pertama kali pada: 15-Jun-2020 @ 21:18

5 menit membaca

*Muslim SEJATI*
Ustadz Maududi Abdullah,Lc
18 Jumadil Akhir 1440H

Kita harus senantiasa bersyukur karena hari-hari kita bergelombang rahmat dan nikmat Allah yang sangat banyak.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).

Kalau kita tidak bisa merasakan nikmat Allah, berarti kesalahan ada pada diri manusia, karena Allah pasti haq, tidak mungkin salah.

Sehingga manusia harus diperbaiki, supaya bisa melihat alangkah besarnya nikmat dan rahmat Allah.

Manusia kebanyakan tidak bisa merasakan nikmat Allah karena dia terlalu fokus pada kekayaan duniawi. Padahal masih banyak nikmat yang jauh lebih besar dari pada nikmat kekayaan, misalnya nikmat mata, nikmat kaki yang bisa berjalan, nikmat lisan dst.

Allah berfirman,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16)

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku menghinakanku.”
كَلَّا

Sekali-kali tidak (demikian),
Qs Al Fajar 15-17.

Sifat syukur datangnya dari kemampuan melihat rahmat dan nikmat Allah..

Padahal Allah mengancam orang yang tidak bisa bersyukur..

Sebagaimana dalam firman Nya :

وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“… dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7)

Hadirkan rasa nikmat dan rahmat Allah yang sangat banyak sehingga kita mudah bersyukur.

Pagi ini kita akan bahas hadits.

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال : قلتُ يَا رَسُولَ اللهِ أيُّ الإِسْلاَمِ أَفْضَل؟ قَالَ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ. رواه البخاري

Dari Abi Musa Al Asy’ari رضي الله عنه berkata: “Saya bertanya: Wahai Rasulullah, gerangan apa Islam yang paling utama?

Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

*“Siapa yang kaum muslimin selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya”* (HR Bukhari).

Disebutkan lisan lebih awal dari tangan karena keburukan manusia dengan lisan lebih banyak dari pada keburukan tangan.

Manusia juga tidak lebih peduli dengan lisan dari pada peduli dengan tangan.

Hadits ini maksudnya seseorang telah melakukan apa yang Allah wajibkan dan melarang apa yang Allah haramkan, dilanjutkan dengan hubungan dengan manusia (dengan hadits ini).

Hadits ini bila diamalkan di seluruh dunia maka habislah seluruh kriminal di dunia ini.

Perdamaian itu mustahil tanpa mengamalkan hadits ini, tanpa dikembalikan kepada syariat.

Hadits ini akan menghadirkan nikmat aman.

Nikmat dunia sebenarnya ada 3, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan

[1] sehat badannya,
[2] aman dimana dia berada,
[3] memiliki makanan pada hari itu,

maka seolah-olah seluruh (nikmat) dunia dikumpulkan untuknya.” (HR. Ibnu Majah, no: 4141, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir no. 5918)

Nikmat harta tidak disebutkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam pada hadits tersebut..

Orang yang hidupnya dijaga oleh bodigad, maka dia telah kehilangan nikmat keamanan.

Menjelang wafatnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta sahabat melakukan qisas terhadap beliau shallallahu alaihi wasallam bila Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berbuat salah kepada sahabat, namun tidak ada sahabat yang meminta qisas karena memang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah menyakiti sahabat.

Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya hadits no. 1739 ; begitu juga Muslim [4] dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah pernah berkhutbah pada hara nahar (Idul Adha).

Dalam khutbah tersebut beliau bertanya kepada manusia yang hadir waktu itu, “Hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Hari yang haram”. Beliau bertanya lagi, “Negeri apakah ini?” Mereka menjawab, “Negeri Haram”. Beliau bertanya lagi, “Bulan apakah ini ?” Mereka menjawab, “Bulan yang haram”. Selanjutnya beliau bersabda.

فَإِنَّ دِمَا ئَكُمْ وَ أَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُم حَرَامٌ، كَحُرمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِ كُمْ هَذَا في شَهْرِ كُمْ هَذَا، فَأَعَادَهَا مِرَارًا، ثُمّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ : اللَّهُمَ هَلْ بَلَّغْتُ؟ اللَّهُمَ هَلْ بَلَّغْتُ؟

“Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram bagi masing-masing kalian (merampasnya) sebagaimana haramnya ; hari, bulan dan negeri ini. Beliau mengulangi ucapan tersebut beberapa kali, lalu berkata, “Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan (perintah-Mu)? Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan (perintah-Mu) ?”

Yang paling banyak menjerumuskan orang ke dalam neraka adalah lisan.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya”.

Mu’az bin Jabal ra bertanya tentang perbuatan yang dapat memasukkan ke surga dan menjauhkan dari neraka. Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda: …beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya sedikitpun, shalat, zakat, puasa Ramadhan dan haji. Pintu-pintu surga adajah puasa, sodaqoh dan shalat malam. Pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah Jihad. Sesuatu dapatmembuat kalian memiliki semua itu.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memegang lidahnya lalu bersabda: Jagalah ini.

Muadz bertanya: Ya Nabi, apakah kita akan dihukum atas apa yang kita ucapkan?

Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: …adakah yang menyebabkan seseorang terjungkal wajahnya di neraka selain buah dari lisan mereka (HR Tirmizi)

Abu Hurairah radhiyallahu anhu pernah menyampaikan:

قيل للنبي صلى الله عليه و سلم : يا رسول الله ! إن فلانة تقوم الليل وتصوم النهار وتفعل وتصدق وتؤذي جيرانها بلسانها ! فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : لا خير فيها ؛ هي من أهل النار . قال : وفلانة تصلي المكتوبة وتصدق بأثوار ( من الأقط ) ولا تؤذي أحدا . فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : هي من أهل الجنة .

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah sering melakukan shalat malam, berpuasa di siang harinya, mengerjakan (berbagai amal kebaikan), dan bersedekah, namun ia juga suka mengganggu tetangganya dengan lisannya.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda, “Tiada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka.” Ditanyakan lagi kepada beliau, “Sesungguhnya si Fulanah lainnya (hanya) mengerjakan shalat wajib dan bersedekah (hanya) dengan sepotong keju, dan ia pun tidak pernah mengganggu seorangpun.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Dia termasuk penghuni surga.” (HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, hadits no. 119)

Di akhirat yang paling berat adalah pengadilan dengan antar manusia, maka minta halal lah sekarang selama di dunia.

Mintalah segera dimaafkan dari orang-orang yang pernah kita ghibah atau lisan buruk kita kepadanya..

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda.

” من كانت عنده مظلمة لأخيه من مال أو عرض فليأته فليستحلها منه قبل أن يُؤخذ وليس عنده درهم ولا دينار فإن كانت له حسنات أخذ من حسناته فأعطيها هذا والإ أُخذ من سيئات هذا فألقيت عليه”.

“Barangsiapa yang mempunyai kezaliman ke atas saudaranya sama ada harta atau maruah,maka datanglah kepadanya meminta halal (maaf) darinya sebelum sebelum akan diambil padanya dan tidak memiliki dirham dan dinar .Maka sesungguhnya jika baginya kebaikan,maka akan diambil kebaikannya dan jika tiada kebaikan padanya maka kejahatan akan diberikan padanya”
HR Bukhari dan Muslim

Kunci muamamalah yang baik..

*Perlakuan orang lain sebagaimana anda ingin orang lain memperlakukan diri anda.*

Umar Bin Abdul Aziz : *Barang siapa yang selalu menganggap kata yang keluar dari lisannya adalah amalan, maka kata yang keluar darinya adalah sedikit kecuali untuk hal yang bermanfaat.*

Lisan itu surga atau neraka kita..
$$##-aa-##$$

Digita Template

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?