Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MATauhid

KITAB TAUHID-BAB#59-1: ANCAMAN PENOLAK TAKDIR

Diterbitkan pertama kali pada: 15-Jun-2020 @ 14:25

4 menit membaca

Syarah Kitab Tauhid #Bab59
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
9 Syawal 1441 H

BAB 59 : Ancaman kepada penolak Takdir.
(MENGINGKARI QODAR – KETENTUAN ALLAH TA’ALA)

Ibnu Umar Radhiallahu’anhu berkata :“Demi Allah yang jiwa Ibnu Umar berada di tanganNya, seandainya salah seorang memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu dia infakkan di jalan Allah, niscaya Allah tidak akan menerimanya, sebelum ia beriman kepada qadar (ketentuan Allah)”, dan Ibnu Umar menyitir sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :

الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره ” رواه مسلم.

“Iman yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari akhir, dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.” (HR. Muslim).

Bila ada salah satu dari rukun iman tidak diimani maka hukumnya kafir.

Salah seorang diantara mereka yang datang kepada Ibnu Umar adalah Mahbad Al Juhany.

Diriwayatkan bahwa Ubadah Ibnu Shomit Radhiallahu’anhu berkata kepada anaknya:

“Hai anakku, sungguh kamu tidak akan bisa merasakan lezatnya iman sebelum kamu meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan menimpa dirimu pasti tidak akan meleset, dan apa yang telah ditakdirkan tidak menimpa dirimu pasti tidak akan menimpamu,

aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

إن أول ما خلق الله القلم, فقال له : اكتب، فقال : رب وماذا أكتب ؟ قال : اكتب مقادير كل شيء  حتى تقوم الساعة

“Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan Allah adalah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya : “tulislah”, maka pena itu menjawab : Ya Tuhanku, apa yang mesti aku tulis ?, Allah berfirman : “Tulislah ketentuan segala sesuatu sampai datang hari kiamat”.

Hai anakku, aku juga telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

من مات على غير هذا فليس مني

“Barang siapa yang meninggal dunia tidak dalam keyakinan seperti ini, maka ia tidak tergolong ummatku ”.

Ini juga ancaman, dalam riwayat lain,

Dan dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan :

إن أول ما خلق الله تعالى القلم، فقال له : اكتب، فجرى في تلك الساعة بما هو كائن إلى يوم القيامة

“Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan Allah Subhanahu wata’ala adalah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya : “tulislah !”, maka ditulislah apa yang terjadi sampai hari kiamat”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Wahb bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

فمن لم يؤمن بالقدر خيره وشره أحرقه الله بالنار

“Maka barangsiapa yang tidak beriman kepada qadar (ketentuan Allah) baik dan buruknya, maka Allah pasti akan membakarnya dengan api neraka”.

Diriwayatkan dalam Musnad dan Sunan (kutubu Sunan) , dari Ibnu Dailami ia berkata : “Aku datang kepada Ubay bin Kaab, kemudian aku katakan kepadanya : “Ada sesuatu keraguan dalam hatiku tentang masalah takdir, maka ceritakanlah kepadaku tentang suatu hadits, dengan harapan semoga Allah Subhanahu wata’ala menghilangkan keraguan itu dari hatiku”, maka ia berkata :

لو أنفقت مثل جبل أحد ذهبا ما قبله الله منك حتى تؤمن بالقدر وتعلم أن ما أصابك لم يكن ليخطـئك، وما أخطأك لم يكن ليصيبك، ولو مت على غير هذا لكنت من أهل النار

“Seandainya kamu menginfakkan emas sebesar gunung uhud, Allah tidak akan menerimanya darimu, sebelum kamu beriman kepada qadar, dan kamu meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan mengenai dirimu pasti tidak akan meleset, dan apa yang telah ditakdirkan tidak mengenai dirimu pasti tidak akan menimpamu, dan jika kamu mati tidak dalam keyakinan seperti ini, pasti kamu menjadi penghuni  neraka.

Kata Ibnu Dailami selanjutnya : “Lalu aku mendatangi Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah bin Yaman dan Zaid bin Tsabit, semuanya mengucapkan kepadaku hadits yang sama dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam di atas.” (HR. Al Hakim dan dinyatakan shoheh).

Bab : tentang ancaman kepada orang-orang yang mengingkari takdir.

Muqaddimah.

1. Takdir itu rahasia Allah. Tidak ada yang mengetahui hakikatnya baik Nabi maupun malaikat.
Tidak ada yang tahu isi Lauhul mahfudz kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ali bin Abi Thalib, Takdir itu Rahasia Allah, jangan kau cari-cari.

Allah berfirman:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai” (Al Anbiya’: 23)

Allah tidak ditanya tentang apa yang DIA lakukan namun mereka lah yang ditanya (pertanggungjawaban) tentang apa yang mereka lakukan.
Anda tidak menghisab Allah tetapi Allah yang menghisab anda.

2. AKAL, kemampuan terbatas, sebagaimana indra-indra yang lain juga terbatas.
Logika : jika seseorang ingin mengetahui rahasia takdir Allah, maka dia harus melewati akal Nabi, akal malaikat dan selevel dengan Allah.

Jangankan yang ghaib, bahkan di dunia banyak perkara yang akal kita tidak bisa memikirkannya.

3. *Ada beberapa hal ghaib yang kita dilarang untuk memikirkannya, diantaranya,

A. Hadits, Allah syaitan akan datang dan bertanya, “siapa yang menciptakan Allah.”

B. Memikirkan kaifiat dzat Allah, karena Allah telah berfirman,

C. Tidak boleh memikirkan takdir.
Jika disebutkan tentang takdir maka tahan diri.

Kita harus pasrah dan Husnudzon dengan takdir Allah.

4. semua yang Allah tetapkan pasti ada hikmah dibaliknya.

Sebagian kejadian kita tahu hikmahnya. Dan banyak kejadian yang Allah sembunyikan hikmahnya sebagai ujian bagi hamba.

Contoh..
Kenapa Iblis jadi iblis?
Kenapa Rasulullah dipilih Muhammad bin Abdullah?

5. Apa buah beriman kepada takdir

A. Selalu Husnudzon kepada Allah
Kita melihat alam semesta yang begitu rapi, tentu menunjukkan hebat Pencipta Nya.

B. Sabar tatkala musibah

Sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إحرص على ما ينفعك, واستعن بالله ولا تعجز, فإن أصا بك شيء فلا تقل: لو أني فعلت كذا وكذا لكن كذا وكذا, ولكن قل: قدر الله وما شاء فعل, فإن (لو) تفتح عمل الشيطان

“Berusahalah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan Allah dan janganlah sampai kamu lemah (semangat). Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata ‘seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah ‘Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala (Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya).’ Karena sesungguhnya (kata) ‘seandainya’ itu akan mengawali perbuatan syaithan.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (no. 2664))

C. Menjadikan orang tidak sombong atas prestasinya.

Kita tidak tahu penghujung kehidupan kita, apakah Husnul khatimah atau Suul Khatimah.

Prestasi juga Qadarullah..

D. Qanaah rezeki.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan sahih oleh Syaikh Al Albani).

E. Berusaha dan bertakwal.

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?