This entry is part 2 of 2 in the series Al-Qawa'idul Arba'

Diterbitkan pertama kali pada: 13-Okt-2020 @ 06:53

9 menit membaca

4 KAIDAH MEMAHAMI TAUHID #2
Ustadz Dr Firanda Andirja, M.A

4 kaidah secara global,

1. Dalam Al Qur’an Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrikin dulu mengakui tauhid Rububiyah (Maha Pencipta,Maha Pengatur alam semesta).

2. Penjelasan sebab kenapa kenapa kenapa mereka menyembah selain Allah, intinya adalah sesembahan tersebut dianggap menjadi syafaat bagi mereka di sisi Allah.

3. Kaum musyrikin yang didakwahi oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam bervariasi,
saat itu manusia ada yang menyembah malaikat, ada yang sembah Nabi dan orang sholeh, ada yang sembah jin, pohon, matahari atau bulan, namun dianggap sama oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, yaitu kesyirikan yang harus diperingatkan akan bahayanya.

4. Orang-orang musyrikin pada jaman sekarang pada sebagian sisi lebih buruk daripada orang-orang musyrikin di jaman dahulu.
Orang-orang musyrikin dahulu pada kondisi genting/sulit mereka Ikhlas kepada Allah dan berbuat syirik pada kondisi lapang.

{فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ}

Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] berbuat syirik. [QS.Al- Ankabut: 65].

Kaidah 2..

Mereka (musyrikin) berkata “Kami tidaklah berdoa dan tidak menuju kepada sembahan-sembahan kami (sembahan selain Allah) kecuali 2 perkara, untuk mencari qurbah (supaya mereka mendekatkan diri kami  dengan Allah) dan Agar kami bisa menjadikan mereka sebagai pemberi syafaat bagi kami.

Adapun dalil mereka dalam menjadikan sesembahan mereka sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, adalah.

{وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ}

“Dan orang-orang yang mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah (berkata):”Kami tidak menyembah wali-wali kami ini melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”

Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan kafir.” (QS. Az-Zumar: 3).

Adapun dalil mereka tentang syafa’at adalah firman Allah Ta’ala,

{وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ}

“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka (musyrikin) berkata: “Mereka (sembahan selain Allah) itu adalah pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah” (QS. Yunus: 18).

{قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ}

Katakanlah, “Apakah kalian mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” (Yunus: 18)

Allah tutup ayat nya dengan x
{سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ}

Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu). (Yunus: 18)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab melanjutkan,

Syafa’at itu ada 2 macam:
1. Syafa’at manfiyah (yang ditolak oleh Allah).
2. Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan keberadaannya).

Syafa’at manfiyah (ditolak) adalah syafa’at yang diminta kepada selain Allah, dalam perkara yang tidak satupun yang mampu memberikannya kecuali Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ}

“Hai orang-orang yang beriman, berinfaklah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Baqarah: 254).

Syafa’at mutsbatah (ditetapkan) adalah syafa’at yang diminta dari Allah. Orang yang mensyafa’ati (memperantarai dengan cara mendo’akan) itu dimuliakan (oleh Allah) dengan syafa’at tersebut, sedangkan yang mendapatkan syafa’at adalah orang yang Allah ridhai, baik ucapan maupun perbuatannya, sesudah Allah mengizinkannya. (Hal ini) sebagaimana firman Allah Ta’ala,

{مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ}

“Siapakah yang mampu memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya?” (QS. Al- Baqarah: 255).

Intinya ada 2 sebab,

1. Mendekatkan mereka kepada Allah..
Mereka berkata,

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Kami tidak menyembah mereka kecuali untuk mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.

2. Agar sesembahan-sesembahan tersebut memberi syafaat bagi mereka di sisi Allah.

وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

Mereka berkata, sesembahan-sesembahan tersebut bagi kami adalah pemberi syafa’at bagi kami di sisi Allah.

Sejarah menunjukkan bahwa mereka menyembah orang-orang shaleh. Latta yang mereka sembah adalah orang sholeh.

Orang-orang musyrikin beranggapan bahwa mereka tidak pantas minta langsung kepada Allah, tetapi melalui orang-orang sholeh yang mereka sembah itu.

Syafaat itu maksudnya agar dipermudah kepada Allah.

Ibarat kita mau ke presiden tapi gak bisa dan hanya lewat menteri. Dan presiden butuh menteri, padahal Allah tidak butuh siapapun.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖفَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186)

Patung2 orang sholeh mereka anggap perantara kepada Allah, sama dengan yang dilakukan oleh orang-orang yang meminta bantuan para wali.

Syafaat ada 2 model :

1. Yang ditetapkan, jika memenuhi syarat.
A. Izin bagi yang beri syafaat
B. Yang diberi syafaat diridhai oleh Allah.

Seperti saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat meminta syafaat di hari kiamat, beliau shallallahu alaihi wasallam sujud dan memuji Allah dan minta izin dari Allah.

2. Yang ditolak, tidak memenuhi syarat.

Jangan sampai kita datang ke kuburan wali untuk minta-minta kepada wali. Wali tersebut belum tentu dapat izin Allah.

Minta syafaat hanya kepada Allah. Misalnya mengharap syafaat Nabi maka kita ucapkan, Yaa Allah, berikanlah syafaat Nabi…..

Bukan minta kepada malaikat, anak kecil yang sudah mati dan makhluk lainnya.

Sebab 3..ada variasi.
1. Sembah Nabi – Isa dan Uzair.
2. Pohon dan batu
3. Dll.

Kaidah ketiga

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada ditengah-tengah manusia yang bermacam-macam bentuk peribadahan (dan sesembahan) mereka.

Di antara mereka ada yang menyembah para Malaikat, ada yang menyembah para Nabi dan orang-orang shalih, ada yang menyembah pepohonan dan bebatuan serta ada pula yang menyembah matahari dan bulan.

Namun mereka semua diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau tidak membeda-bedakan di antara mereka. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

{وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ}

Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah (syirik) , dan Dien ini untuk Allah semata. [QS.Al-Baqarah: 193].

Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak membedakan mereka, semua sama yaitu kesyirikan.

Dalil (penyembahan mereka kepada) matahari dan bulan adalah firman Allah Ta’ala,

{وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ}

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan. [QS.Fushshilat: 37].

Berarti matahari dan bulan di ibadahi oleh kaum musyrikin, dan itulah sebabnya ada larangan waktu sholat terkait matahari….

Seperti dalam sebuah hadits,

“Ada tiga waktu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat atau untuk menguburkan orang yang mati di antara kami yaitu: (1) ketika matahari terbit (menyembur) sampai meninggi, (2) ketika matahari di atas kepala hingga tergelincir ke barat, (3) ketika matahari  akan tenggelam hingga tenggelam sempurna.”  (HR. Muslim, no. 831)

Dalil (penyembahan mereka kepada) para Malaikat adalah firman Allah Ta’ala,

{وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا}

Dan dia (Nabi Muhammad) tidak pernah memerintahkan kalian untuk menjadikan para Malaikat dan para Nabi sebagai sembahan-sembahan. [QS. Ali ‘Imran: 80]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada para malaikat:

{أَهَؤُلاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ}

Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu? (Saba: 40)

Maka malaikat pun menjawab,

{سُبْحَانَكَ}

Mahasuci Engkau. (Saba: 41)

Yakni Mahatinggi lagi Mahasuci Engkau, bila dikatakan ada tuhan lain selain Engkau.

{أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ}

Engkaulah Pelindung kami, bukan mereka. (Saba: 41)

{بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ}

bahkan mereka telah menyembah jin. (Saba: 41)

{أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ}

kebanyakan mereka beriman kepada jin itu. (Saba: 41)

Mereka menganggap malaikat adalah putri-putri Allah.

Dalil (penyembahan mereka kepada) para Nabi adalah firman Allah Ta’ala,

{وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ}

Dan [ingatlah] ketika Allah berkata kepada Nabi Isa:”Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang sesembahan selain Allah?”. ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib. [QS.Al-Maidah: 116]

Nabi shallallahu alaihi wasallam banyak bertemu kaum nasrani yang menyembah Nabi Isa dan juga kaum yang menyembah Uzair.

Dalil (penyembahan mereka kepada) orang-orang shalih adalah firman Allah Ta’ala,

{قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلا تَحْوِيلا (56) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا (57) }

Katakanlah, “berdoalah kepada mereka yang kalian anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari kalian dan tidak pula memindahkannya.”

Orang-orang yang mereka sembah itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan mereka takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.
 [QS.Al-Israa`:56- 57].

Yang mereka sembah diantaranya Lata, yang menurut Ibnu Abbas dalam shahih Bukhari, Lata adalah yang dulunya orang sholeh yang suka membagi makanan gratis kepada jamaah haji di Thaif.

Harusnya mereka langsung menyembah Allah.

Penyembahan terhadap orang-orang sholeh sudah ada sejak dulu, makanya Nabi Musa dahulu minta kuburan nya tersembunyi supaya tidak disembah.

Dalil (penyembahan mereka kepada) pepohonan dan bebatuan adalah firman Allah Ta’ala,

{أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى(19)وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى}

Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap al-lata (Thaif) dan al-‘uzza (Madinah) , dan manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? [QS.An-Najm: 19-20].

Dan hadits Abi Waqid Al-Laitsi, dia berkata:

“Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju (perang) Hunain, dan ketika itu kami baru saja terbebas dari kemusryikan. Sementara itu, orang-orang musyrik mempunyai sebuah pohon bidara yang mereka berdiam diri (dalam bentuk beribadah) di sisinya dan mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di situ (untuk cari berkah, pent.). Pohon itu dikenal dengan nama Dzatu Anwath (yang mempunyai tempat menggantung). Kami kemudian melalui pohon bidara itu, lalu kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, pilihkanlah bagi kami pohon untuk menggantungkan senjata dalam rangka mencari berkah, sebagaimana mereka (musyrikin) mempunyai pohon yang seperti itu.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Allahu akbar! Ini adalah kebiasaan turun temurun! Demi Allah, yang jiwaku berada di tangan-Nya (Allah), kalian telah mengatakan sesuatu sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Isra`il (kepada Nabi Musa ‘alaihis salam), ‘jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.’ Dia (Nabi Musa ‘alaihis salam) berkata, ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bertindak bodoh’ (QS. Al-A’raaf: 138). Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian’” (HR. Tirmidzi dan beliau mensahihkannya, disahihkan juga oleh Syaikh al-Albani).

Dan orang-orang yang menyembah jin, dalilnya ada di surat Al Jin.

Dan orang-orang yang sembah bintang, dalil nya adalah..

{وَأَنَّهُ هُوَ رَبُّ الشِّعْرَى}

dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang syi’ra. (An-Najm: 49)

Kaidah ke 4

Sesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita lebih parah kesyirikannya dibandingkan (kesyirikan) kaum musyrikin zaman dahulu (yaitu: pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pent.). Karena kaum musyrikin zaman dahulu mereka berbuat syirik pada saat lapang Sesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita lebih parah kesyirikannya dibandingkan (kesyirikan) kaum musyrikin zaman dahulu . Karena kaum musyrikin zaman dahulu mereka berbuat syirik pada saat lapang (bergelimang kenikmatan) dan mereka mengikhlaskan (ibadah kepada Allah semata) ketika berada dalam keadaan sempit (tertimpa musibah).

Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita, kesyirikan mereka terjadi dalam setiap keadaan, baik ketika lapang maupun sempit.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

{فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ}

Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdo’a kepada Allah dengan ikhlas, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah]. [QS.Al- Ankabut: 65].

Juga dalam firman-Nya x

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu dalam kondisi sulit, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. Qs An Nahl ayat 53.

Beberapa tulisan ulama tentang hal ini.

1. Kitab Ruhul Maani, tafsir qs An Nahl ayat 53,jilid 7 hal 405m, Imam Al Alusi:

Ayat ini menunjukkan perbuatan kebanyakan orang-orang awam pada jaman ini, mereka justru bersandar kepada selain Allah yang tidak bisa berbuat apapun.
Ini kesesatan yang lebih parah daripada orang musyrikin terdahulu.

Beliau melanjutkan bahwa beliau sedih saat ada orang yang dianggap ulama mengajak orang-orang minta pertolongan kepada wali-wali (kuburan).

2. Syaikh Muhammad Basymil..

Kata beliau.. Bahwa beliau melihat orang yang dalam kesulitan di laut minta bantuan kepada wali (Syaikh Ibn Isa) yang sudah meninggal tahunan lalu dan bernadzar kepadanya. Bukan kepada Allah. Ibn Isa berusaha menasihati mereka namun mereka malah marah.

##$$-aa-$$##

Al-Qawa'idul Arba'

4 KAIDAH MEMAHAMI TAUHID-#1
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?