Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MATauhid

KITAB TAUHID ,BAB#59-3 : Sikap kelompok terhadap takdir

Diterbitkan pertama kali pada: 08-Agu-2020 @ 17:35

3 menit membaca

Syarah Kitab Tauhid #Bab59-3
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
11 Syawal 1441 H

Sikap kelompok terhadap takdir

1. Penolak Takdir (Qadariyyah) dan 2 Al Jabariyyah.

Qodariyyah :

A. Ghulath Qodariyyah ekstrim (contoh Mu’tazilah)
1. Mengingkari Ilmu Allah azali (shaabiq).
Mengingkari tingkatan yang pertama dan kedua (ilmu Allah dan Pencatatan) , diwakili oleh Ma’bad Al Juhany. Dan dihukum i kafir oleh para ulama, karena mengingkari ilmu Allah.
Menurut mereka, tugas Allah hanya menciptakan lalu membiarkan ciptaan nya dan tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh ciptaan nya.

B. Qodariyyah tidak ekstrem, diwakili oleh Mu’tazilah.

Mereka menetapkan Ilmu Allah Azali (shaabiq).
Mereka menetapkan Pencatatan.
Mereka mengingkari tingkatan ketiga yaitu Al Masyiah dan tingkatan ke empat (Penciptaan).

Allah tidak berkehendak keburukan sehingga Allah tidak menciptakan keburukan karena perbuatan manusia ada yang baik dan ada yang buruk, berarti Allah tidak menciptakan perbuatan manusia.

Konsekuensi, berarti
1. Ada kejadian di alam semesta di luar kehendak Allah (selain kehendak Allah)
2. Ada kejadian /makhluk di alam semesta bukan ciptaan Allah. (ada Tuhan lain selain Allah)

Karenanya mereka dikatakan oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam, Al Qadariyyah adalah majusi umat ini.

Hukum mereka, ada khilaf
A. Kafir
B. Tidak kafir, meskipun kelaziman mereka ada tuhan lain, namun mereka tidak menyatakan kelaziman tersebut.

Kehendak Allah
Ahlu Sunnah, menetapkan Allah menghendaki kebaikan dan keburukan.

Makhluk punya kehendak namun dibawah kehendak Allah.

Penciptaan, semua selain Allah diciptakan, termasuk manusia, kehendaknya dan perbuatannya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
Kalau ada yang meninggal diantara mereka jangan ada yang melayat.

Kesimpulanmya, menurut mereka, Allah hanya sekedar mengetahui. Namun tidak mengeksekusi.

Sepintas masuk akal tetapi kelaziman nya tidak benar.

JABARIYYAH.

A. JABARIYYAH Ekstrem, seluruh gerakan kita adalah terpaksa, ini pendapat Jahmiyah.
Seperti bulu yang terombang ambing oleh angin kencang.

B. JABARIYYAH yang tidak ekstrem, Asyairah.
Mereka mengatakan, punya kudroh tetapi tidak punya pengaruh.

Contoh pemahaman mereka,
Motong roti, pisau hanya tanda akan terpotongnya roti itu. Yang Motong tetap Allah..

Dibantah oleh Al Juwaini.

Tiga contoh analogi yang keliru tentang takdir.

1. Perumpamaan guru dan murid2 nya

Guru telah mengetahui kemampuan masing-masing murid, lalu sang guru membuat ujian kepada murid2 nya.
Sebelum para murid menjalankan ujian, sang guru sudah tahu hasilnya.

Guru analogi Allah
Murid analogi para hamba.

Ini aqidah qadariyah, guru hanya sekedar mengetahui,
Guru tidak berkehendak
Guru tidak eksekusi.

2. Perumpamaan pelatih dan pemain bola

Pelatih berkata kepada kapten kesebelasan, di depanmu ada 3 kemungkinan yang bisa kau lakukan.

Taktik 1,kemungkinan hasil nya begini
Taktik 2, hasil begini
Taktik 3,hasil begini

Akhirnya yang memilih Taktik adalah sang kapten.

Kesalahan : sang pelatih tidak punya andil.

3. Perumpamaan grafik.
Misalnya

Y = x2, Y adalah takdir, x = usaha hamba.

Kesalahan : lebih dulu x dari pada y, atau x bersamaan dengan y, padahal takdir mendahului perbuatan hamba.

Contoh nya aqidah Falasifah.

Ingin melogikakan takdir tapi tidak logik.

Ringkasan sikap kelompok-kelompok terhadap perbuatan hamba :

1. Ahlussunnah, perbuatan hamba adalah makhluk, diciptakan oleh Allah, namun makhluk mempunyai kehendak dan kemampuan yang berpengaruh.

2. Al Qadariyyah, perbuatan hamba bukan ciptaan Allah

3. Al JABARIYYAH, perbuatan hamba adalah makhluk dan manusia tidak berkehendak dan tidak berkuasa, semuanya terpaksa.

4. Asyairah, perbuatan hamba adalah makhluk Allah, dan hamba memiliki kehendak dan kemampuan namun tidak berpengaruh.

Pencatatan takdir

1. Di Al Lauh Al Mahfudz
Semua takdir dengan detail
Yang tahu hanya Allah

A. TAKDIR UMUR, yang catat malaikat, data dari Lauhil Mahfudz atas perintah Allah.

Ketika di janin
Ketika Allah menciptakan Adam

B. TAKDIR TAHUNAN, ketika malam Lailatul Qadr.

C. Takdir harian,

Perbedaan antara Al Lauh Al Mahfudz dengan catatan malaikat.

LAUH AL MAHFUDZ
1. takdir yang sebelumnya
2. Yang catat Al Qolam
3. Yang tahu hanya Allah
4. Tidak berubah.

Catatan Malaikat
1. Takdir belakangan
2. Yang catat malaikat
3. Malaikat tahu
4. Bisa berubah, perubahan tersebut ada di Lauh Al Mahfudz.
Perubahan serta hasil perubahan sudah ada di Lauh Al Mahfudz. (Hadits tidak ada yang merubah takdir kecuali doa).

Cukup kita imani, tidak perlu dalam 2 lagi..

Semoga bermanfaat,

 

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?