6 menit membaca

*TAFSIR QS ALI IMRAN ayat 64-72*
Ustadz Muhammad Shoim
19 Sya’ban 1447H / 7 Februari 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Kita lanjutkan QS Ali Imran mulai ayat 64.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (64) }

Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka), ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah)’.”

Ahli kitab : Nasrani, Yahudi dan orang-orang yang sejalan dengan mereka.

Kita sepakat dengan satu kalimat, Yakni kalimat yang adil, pertengahan, dan tidak ada perselisihan di antara kami dan kalian mengenainya. Kemudian diperjelas lagi oleh firman selanjutnya:

{أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا}

bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun. (Ali Imran: 64).

Hal ini merupakan seruan yang dilakukan oleh semua rasul, yaitu dakwah tauhid.

Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

وَما أَرْسَلْنا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami mewahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku.” (Al-Anbiya: 25)

وَلَقَدْ بَعَثْنا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagut itu.” (An-Nahl: 36)

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنا بَعْضاً أَرْباباً مِنْ دُونِ اللَّهِ

dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah. (Ali Imran: 64)

Jaman sekarang, ada yang menyembah raja-raja mereka.
Atau taat pada ulama atau ahli ibadah mereka tetapi dengan maksiat kepada Allah. Yaitu halalkan apa yang Allah haramkan, atau haramkan apa yang Allah halalkan.

Syirik bisa dalam bentuk 4 hal..

Berdoa, menyembah, ketaatan, kecintaan.

Seperti dalam sebuah hadits,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَتَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَتَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ، وَتَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيلَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian mewah (khamishah), celakalah hamba pakaian indah (khamilah). Jika diberi ia ridha, jika tidak diberi ia marah. Celakalah dia dan tersungkur, dan jika ia tertusuk duri maka tidak ada yang dapat mencabutnya.”
HR Bukhari.

Tugas kita hanyalah menyampaikan, hidayah ada di sisi Allah.

{فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ}

Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan did (kepada Allah).” (Ali Imran: 64)

Kita bisa lihat pada surat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam disampaikan kepada kaisar yang isinya adalah seperti berikut:

“بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيم، مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللهِ إلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ، سَلامٌ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى. أَمَّا بَعْدُ، فَأَسْلِمْ تَسْلَمْ، وَأَسْلِمْ يُؤْتِكَ اللهُ أَجْرَك مَرَّتَيْنِ فَإِن تَوَلَّيْتَ فإنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأريسيِّين، وَ {يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ}

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, dari Muhammad Rasulullah, ditujukan kepada Heraklius, pembesar kerajaan Romawi, semoga keselamatan terlimpah kepada orang yang mengikuti petunjuk. Amma Ba’du: Maka masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat; dan masuk Islamlah, niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali. Tetapi jika engkau berpaling, maka sesungguhnya engkau menanggung dosa kaum arisin (para petani). Dan di dalamnya disebutkan pula firman-Nya: Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah).” (Ali Imran: 64)

Menulis surat, juga boleh menyampaikan salam.

Bismillah,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Rasulullah ﷺ, kirim surat ini kepada Heraklius tahun 6H.

Ahli sejarah, mengatakan Surat Ali Imran ayat 1-80 terkait orang-orang Nasrani di negri Najran. Setelah perjanjian Hudaibiyah.

Namun delegasi Najran datang pada tahun 10 H.

Dua hal yang tidak seusai antara isi surat dan kedatangan delegasi Najran.

Beberapa penjelasan.

1. Ayat belum turun tapi Nabi sudah menyampaikan, dan dikonfirmasi dengan turun ayat ini pada 10 H.

2. Dalam sejarah, Jizyah pertama kali dibayarkan delegasi Najran. Qs At Taubah ayat 29 (yang turun tahun 9 H).

Jadi yang dibayar tahun 6H adalah Jizyah perdamaian. Firman Allah,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنزلَتِ التَّوْرَاةُ وَالإنْجِيلُ إِلا مِنْ بَعْدِهِ أَفَلا تَعْقِلُونَ (65)

Hai Ahli Kitab, mengapa kalian bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kalian tidak berpikir?

Yakni mengapa kalian mengakui, hai orang-orang Yahudi, bahwa dia (Nabi Ibrahim) adalah seorang Yahudi; padahal masa Nabi Ibrahim jauh sebelum Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa. Bagaimana pula kalian, hai orang-orang Nasrani, mengakui bahwa dia adalah seorang Nasrani; padahal Nasrani baru ada jauh sesudah Nabi Ibrahim dalam jarak zaman yang jauh sekali.

Karena itulah dalam akhir ayat ini disebutkan:

{أَفَلا تَعْقِلُونَ}

Apakah kalian tidak berpikir? (Ali Imran: 65)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هٰۤاَ نْـتُمْ هٰۤؤُلَآ ءِ حٰجَجْتُمْ فِيْمَا لَـكُمْ بِهٖ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَآ جُّوْنَ فِيْمَا لَـيْسَ لَـكُمْ بِهٖ عِلْمٌ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ وَاَ نْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Begitulah kamu! Kamu berbantah-bantahan tentang apa yang kamu ketahui, tetapi mengapa kamu berbantah-bantahan juga tentang apa yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 66)

Jadi berbantahan dalam hal tanpa ilmu itu adalah kebiasaan orang-orang ahli kitab.
Atau ada ilmu tapi untuk membantah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَا كَا نَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَا نِيًّا وَّ لٰكِنْ كَا نَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًا ۗ وَمَا كَا نَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim, dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 67)

Hanif secara bahasa artinya bengkok.
Tapi maksud hanif di ayat ini, saat itu kebanyakan orang aqidah nya bengkok, jadi hanif bengkok dari orang yang bengkok adalah lurus…

Muslim = berserah diri.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ}

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman. (Ali Imran: 68)

Ini adalah penegasan Allah, pengikut Ibrahim adalah orang-orang yang sungguh-sungguh ikuti Nabi Ibrahim dengan kebenaran.

Jadi yang penting itu amal, bukan nasab.

Nabi Muhammad ﷺ ikuti Nabi Ibrahim secara nasab dan aqidah.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman. (Ali Imran: 68)
Yakni Pelindung semua orang yang beriman kepada rasul-rasul-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَدَّتْ طَّآئِفَةٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يُضِلُّوْنَكُمْ ۗ  وَمَا يُضِلُّوْنَ اِلَّاۤ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ

“Segolongan Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu. Padahal (sesungguhnya), mereka tidak menyesatkan melainkan diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak menyadari.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 69)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan perihal kedengkian/hasad orang-orang Yahudi kepada kaum mukmin dan mereka selalu menginginkan agar kaum mukmin menjadi sesat

Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ}

Hai Ahli Kitab, mengapa kalian mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kalian menyaksikan. (Ali Imran: 70).

Yakni kalian mengetahui kebenarannya dan menyaksikan bahwa itu adalah perkara yang hak.

{يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ}

Hai Ahli Kitab, mengapa kalian mencampuradukkan yang hak dengan yang batil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kalian mengetahui? (Ali Imran: 71).

Mereka campur aduk kebenaran dan kebatilan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا لَتْ طَّآئِفَةٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اٰمِنُوْا بِا لَّذِيْۤ اُنْزِلَ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَجْهَ النَّهَا رِ وَا كْفُرُوْۤا اٰخِرَهٗ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ 

“Dan segolongan Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya), “Berimanlah kamu kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman pada awal siang dan ingkarilah di akhir siang, agar mereka kembali (kepada kekafiran).”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 72)

Hal ini merupakan tipu daya yang mereka lancarkan untuk mengelabui kalangan du’afa (orang-orang yang lemah) dari kalangan kaum muslim terhadap perkara agama mereka. Mereka melakukan musyawarah di antara sesamanya dan memutuskan agar menyusup ke dalam tubuh kaum muslim dengan menampakkan seakan-akan mereka beriman pada permulaan siang harinya dan salat Subuh bersama-sama kaum muslim. Tetapi apabila hari telah petang, mereka harus kembali kepada agama mereka sendiri. Tujuannya ialah agar orang-orang yang lemah akalnya dari kalangan kaum muslim mengatakan bahwa sesungguhnya mereka kembali lagi ke agamanya tiada lain karena mereka telah melihat adanya suatu kekurangan atau suatu keaiban pada agama kaum muslim.

Karena itu, disebutkan di dalam akhir ayat ini:

{لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ} .

supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). (Ali Imran: 72)

Siasat mereka adalah pura-pura beriman kemudian kafir lagi. Hati hati dengan mereka yang pura-pura mualaf..

Semoga bermanfaat.

#tafsir #salaf #sunnah #yahudi #ahlikitab #Ibrahim #hanif

##$$-aa-$$##

Digita Template

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?