Diterbitkan pertama kali pada: 05-Agu-2020 @ 06:19

4 menit membaca

Syarah Kitab Tauhid Bab #64 & 65
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
16 Syawal 1441 H

*TIDAK MENJADIKAN ALLAH SEBAGAI SYAFAAT KEPADA MAKHLUKNYA*

Diriwayatkan dari Jubair bin Mut’im Radhiallahu’anhu bahwa ada seorang badui datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dengan mengatakan : “Ya Rasulullah, orang-orang pada kehabisan tenaga, anak istri kelaparan, dan harta benda pada musnah, maka mintalah siraman hujan untuk kami kepada Rabbmu, sungguh kami menjadikan Allah sebagai syafaat/perantara kepadamu, dan kami menjadikanmu sebagai perantara kepada Allah”.

Maka Nabi bersabda :

سبحان الله، سبحان الله “، فما زال يسبح حتى عرف ذلك في وجوه أصحابه، ثم قال :” ويحك ! أتدري ما الله ؟ إن شأن الله أعظم من ذلك، إنه لا يستشفع بالله على أحد ” وذكر الحديث. رواه أبو داود.

“Maha suci Allah, maha suci Allah” – beliau masih terus bertasbih sampai nampak pada wajah para sahabat (perasaan takut karena kamaranhan beliau), kemudian beliau bersabda :

“Kasihanilah dirimu, tahukah kalian siapa Allah itu ? sungguh kedudukan Allah Subhanahu wata’ala itu jauh lebih Agung dari pada yang demikian itu, sesungguhnya tidak dibenarkan Allah dijadikan sebagai perantara kepada siapapun dari makhlukNya.” (HR. Abu Daud).

BADUI berkata :

Statemen1
Sesungguhnya Kami menjadikan Allah pemberi syafaat kepada mu wahai Rasulullah (terlarang)

Ket: Badui jadikan Allah sebagai syafaat agar Allah menjadikan Nabi mau berdoa minta kepada Allah..
Memberi kesan, Allah lebih rendah.

Statemen2. Boleh..

dan kami menjadikan engkau (Rasulullah) pemberi syafaat bagi kami kepada Allah.
Contoh : badui minta Nabi pemberi syafaat minta hujan, Allah yang beri keputusan..

2 hal berbeda :

A. Aku menjadikan Allah pemberi syafaat bagi ku kepada mu.

Kesan :
1. Allah lebih rendah daripada makhluk-Nya
2. Menjadikan Allah bukan sebagai pemberi keputusan.

Maka ini terlarang..

B. Aku mohon kepada Allah atas nama Allah.
أسالك بلله

1. Allah lebih tinggi
2. Seakan akan dia berkata, wahai fulan, aku ingatkan engkau dengan Allah tuhan mu yang telah memberikan engkau nikmat agar engkau membantu ku.

*Permasalahan.*

1. Hadits ini di perselisihan keshohihahnnya.
Tapi maknanya benar..
Perawi – Muhammad bin Ishak bin Yassar – seorang mudalis.. Bukan Tsiqah.

2. Dalil, bolehnya meminta doa kepada orang sholeh.
Ketika Nabi masih hidup, para sahabat minta kepada Rasulullah mendoakan..

Ketika Nabi sudah wafat, banyak kejadian :
– banyak murtad
– banyak peperangan
– kemarau, wabah dll

Dan sahabat tidak ada yang datang ke kuburan Nabi.

Saat kemarau panjang, jaman Umar, mereka minta kepada Abbas, minta doa dari Abbas bin Abdul Muthalib.

BAB 65:
*PENJAGAAN NABI SHALLALLAHU’ALAIHI WASALLAM DALAM MENJAGA PAGAR SEKITAR TAUHID, DAN MENUTUP PINTU-PINTU SYRIK* (bab diluar tauhid)

Ada bab sebelumnya, penjagaan Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang sisi Tauhid. (bagian tauhid)

Saat itu hadits nya,
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا ، وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا

“jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan, dan jangan jadikan kuburanku sebagai Ied HR Abu Daud.

Dan bab sekitar tauhid… Hadits nya..
Namun kesamaan nya adalah sarana menuju syirik…

Titik perbedaan
1. Hadits rumah sebagai kuburan – hukum nya haram
2. Hukum asalnya boleh..

Abdullah bin Asy Syikhkhir Radhiallahu’anhu berkata : “Ketika aku ikut pergi bersama suatu delegasi Bani Amir menemui Rasulullah, kami berkata :

أنت سيدنا، فقـال : السيد الله تبارك وتعالى، قلنا : وأفضلنا فضلا, وأعظمنا طولا، فقال :” قولوا بقولكم أو بعض قولكم ولا يستجرينكم الشيطان” رواه أبو داود بسند صحيح.

“Engkau adalah sayyiduna (tuan kami), maka beliau bersabda : “Sayyid (Tuan) yang sebenarnya adalah Allah”, kemudian kami berkata : “Engkau adalah yang paling utama dan paling agung kebaikannya di antara kita. Beliau bersabda : “Ucapkanlah semua atau sebagaian kata-kata yang wajar bagi kalian, dan janganlah kalian terseret oleh syetan” (HR. Abu Daud dengan sanad yang shoheh).

Dikatakan oleh Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwa ada sebagian orang berkata :

يا رسول الله، يا خيرنا وابن خيرنا، وسيدنا وابن سيدنا، فقال : يا أيها الناس، قولوا بقولكم ولا يستهوينكم الشيطان، أنا محمد، عبد الله ورسول الله، ما أحب أن ترفعوني فوق منـزلتي التي أنزلني الله . رواه النسائي بسند جيد.

“Ya Rasulullah, wahai orang yang paling baik di antara kami, dan putra orang yang terbaik diantara kami, wahai tuan kami dan putra tuan kami”, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Saudara-saudara sekalian ! ucapkanlah kata-kata yang wajar saja bagi kamu sekalian, dan janganlah sekali-kali kalian terbujuk oleh syetan. Aku adalah Muhammad, hamba Allah dan utusanNya, aku tidak senang kalian mengagungkanku melebihi kedudukanku yang telah diberikan kepadaku oleh Allah.” (HR. An Nasai dengan sanad yang jayyid).

Pujian terbaik kepada Nabi adalah Hamba Allah dan Rasulullâh.

Orang yang terbaik yang mewujudkan peribadatan,penghambaan kepada Allah.
Dan terbaik dari sisi Rasul.

Lantas bagaimana pengucapan sayyidina kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?

Khilaf,
1. Makruh, hadits yang sedang kita bahas.
Terjadi pada tahun 9H.

Mutlak makruh, ada 2.
Ada makruh jika dihadapan orang nya, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam mengingkari mereka ketika mereka memuji di depan Nabi.

2. Boleh, ini lebih kuat.

Ada kata sayyid.

وَٱسْتَبَقَا ٱلْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُۥ مِن دُبُرٍۢ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَا ٱلْبَابِ ۚ
dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Qs Yusuf ayat 25.

Hadits,

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ

Saya adalah sayyid manusia di hari kiamat tanpa kesombongan.

Kemudian, gelar ‘sayyid’ tidak hanya dikhususkan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata sayyid bisa diberikan kepada para tokoh agama, diantaranya adalah para sahabat. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebut beberapa sahabatnya dengan ‘sayyid’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Hasan bin Ali bin Abi Thalib:

إِنَّ ابنِي هَذَا سَيِّدٌ

“Sesungguhnya anakku ini adalah seorang sayyid (pemimpin).” (HR. Bukhari 2704)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda kepada orang Anshar, untuk menghormati pemimpinnya, Sa’d bin Muadz radhiyallahu ‘anhu, ketika Sa’d datang, beliau menyuruh orang Anshar:

قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُم

“Sambutlah pemimpin (sayyid) kalian.” (HR. Bukhari 3073 & Muslim 1768)

Kemudian, para sahabat juga menyebut sahabat lainnya dengan sayyid. Umar bin Khatab pernah mengatakan tentang Abu Bakr dan Bilal:

أَبُو بَكرٍ سَيِّدُنَا وَأَعتَقَ سَيِّدَنَا : يعني بلال بن رباح

“Abu Bakr sayyiduna, dan telah memerdekakan sayyidana, maksud beliau adalah Bilal bin Rabah.” (HR. Bukhari 3754)

Boleh ucapan sayyidina kepada Rasulullah, bahkan kepada selain Nabi.

1. Tidak boleh kepada munafik atau fasik2.
2. Tidak boleh berlebih-lebihan.

Semoga bermanfaat,

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?