5 menit membaca

*TAFSIR QS ALI IMRAN ayat 99-102*
Ustadz Muhammad Shoim
22 Rabi’ul Awal 1448H / 5 September 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Kita lanjutkan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ يٰۤـاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ تَبْغُوْنَهَا عِوَجًا وَّاَنْتُمْ شُهَدَآءُ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَا فِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Mengapa kalian menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah, kalian menghendakinya (jalan Allah) bengkok, sedangkan kalian menyaksikan?” Dan Allah tidak lalai terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 99)

Ahli kitab yang kufur, baik Yahudi maupun Nasrani.

Teguran keras dari Allah karena
1. Kufur terhadap ayat-ayat Allah
2. Mereka tahu kebenaran tetapi kufur
3. Menghalangi manusia ikuti kebenaran

Ayat ini menjelaskan bahwa ahli kitab tahu kebenaran tapi mereka ingkari.

Ahli kitab tahu bahwa di kitab mereka (yang Allah turunkan) ada kabar bahwa akan ada Nabi terakhir. Namun kitab Yahudi dan Nasrani saat ini sudah dirubah sehingga berita kedatangan Rasulullah ﷺ tidak ada dalam kitab tersebut.

Namun salah satu kitab mereka Injil Barnabah masih tertulis akan kedatangan Rasulullah terakhir.

Kitabnya para ahli kitab saat ini sudah diterjemahkan ke bahasa asli tempat mereka hidup sehingga berita kedatangan Rasulullah ﷺ tidak mereka akui.

Nasrani – tidak akui Nabi ﷺ sebagai Nabi terakhir. Yahudi – tidak akui Nabi ﷺ dan Nabi Isa alaihi salam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تُطِيْعُوْا فَرِيْقًا مِّنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ يَرُدُّوْكُمْ بَعْدَ اِيْمَا نِكُمْ كٰفِرِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian mengikuti sebagian dari orang yang diberi Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi orang kafir setelah beriman.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 100)

Ayat-ayat yang dimulai dengan kalimat.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا

Adalah perintah dan larangan sebagai syarat untuk menjadi orang yang beriman.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalannya umat-umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk lubang dhab (sejenis kadal), maka kalian akan mengikutinya”. Lalu para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksud umat terdahulu itu adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab: “siapa lagi kalau bukan mereka?” (Muttafaqun ‘alaih).

Ikuti ahli kitab akan menghilangkan izzah kaum muslimin, hilang identitas kaum muslimin.
Akibat mengikuti ahli kitab bisa sampai tingkat kekufuran, mulai ragu dengan kebenaran agama Islam sendiri.

Kenapa ahli kitab ingin kita ikuti mereka dan kembali kufur? Karena hasad.

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ

Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri. (Al-Baqarah: 109)

Salah satu cara adalah mengeluarkan wanita dari rumah, memperluas kesempatan kerja pada wanita, sehingga mempersempit peluang kerja laki-laki.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

﴿وَقَرْنَ ‌فِي ‌بُيُوتِكُنَّ﴾

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” (QS. al-Aḥzab: 33).

Wanita boleh bekerja dengan syarat-syarat tertentu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَكَيْفَ تَكْفُرُوْنَ وَاَ نْـتُمْ تُتْلٰى عَلَيْكُمْ اٰيٰتُ اللّٰهِ وَفِيْكُمْ رَسُوْلُهٗ ۗ وَمَنْ يَّعْتَصِمْ بِا للّٰهِ فَقَدْ هُدِيَ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ

“Dan bagaimana kalian (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan rasul-Nya (Muhammad) pun berada di tengah-tengah kalian? Barang siapa berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh, dia diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 101)

Ini adalah keadaan yang menakjubkan.

Juga sama dengan makna yang terkandung di dalam sebuah hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda kepada para sahabatnya di suatu hari:

أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيمَانًا؟» قَالُوا: الْمَلَائِكَةُ. قَالَ: «وَكَيْفَ لَا يُؤْمِنُونَ وَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ» ؟ وَذَكَرُوا الْأَنْبِيَاءَ، قَالَ «وَكَيْفَ لَا يُؤْمِنُونَ وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِمْ؟» قَالُوا: فَنَحْنُ. قَالَ «وَكَيْفَ لَا تُؤْمِنُونَ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟» قَالُوا: فَأَيُّ النَّاسِ أَعْجَبُ إِيمَانًا؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَجِيئُونَ مِنْ بَعْدِكُمْ يَجِدُونَ صُحُفًا يُؤْمِنُونَ بِمَا فِيهَا

“Orang mukmin manakah yang paling kalian kagumi keimanannya?” Mereka menjawab, “Para malaikat.” Nabi ﷺ bersabda, “Mengapa mereka tidak beriman, padahal wahyu selalu diturunkan kepada mereka.” Mereka berkata, “Kalau demikian, kamilah.” Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Mengapa kalian tidak beriman, padahal aku berada di antara kalian.” Mereka bertanya, “Maka siapakah yang paling dikagumi keimanannya, kalau demikian?” Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab, “Suatu kaum yang datang sesudah kalian. Mereka menjumpai lembaran-lembaran (Al-Qur’an), lalu mereka beriman kepada apa yang terkandung di dalamnya.”
HR Bukhari.

Kita saat ini termasuk yang dimaksud dalam hadits ini, beriman dengan hal ghaib, tapi dengan hanya dengan lembaran Al Qur’an.

Dan landasan utama dapatkan hidayah adalah berpegang teguh kepada agama Allah.

{وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}
Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang benar. (Ali Imran: 101)

Ayat berikut nya,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 102)

Takwa – asalnya bermakna melindungi diri sendiri dari kemurkaan Allah, siksa neraka dst, yaitu dengan melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan Allah dengan cahaya (ilmu) dari Allah, berharap surga dari Allah dan takut siksa dari Allah.

dari Abdullah ibnu Mas’ud sehubungan dengan makna firman-Nya:  

Bertakwalah kalian kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya.(Ali Imran: 102 )

Yaitu dengan taat kepada-Nya dan tidak maksiat terhadapnya, selalu mengingat-Nya dan tidak lupa kepada-Nya, selalu bersyukur kepada-Nya 

Bertakwa dengan sebenar-benar takwa itu berat, maka sebagian ahli tafsir menyatakan ayat ini dimansukh

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian. (At-Taghabun: 16)

Tapi sebagian ulama lain mengatakan pendapat ayat mansukh ini tidak tepat.

اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Karena makna dua ayat tersebut diatas sama.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imran: 102)

Artinya istiqomah dalam keislaman kalian supaya bisa meninggal dalam keadaan Islam.

Manusia akan Dibangkitkan sesuai keadaan seperti saat meninggal dan orang meninggal sesuai kebiasaannya.

Dalam sebuah hadits,

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ »

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap hamba Allah itu akan dibangkitkan dari kuburnya sama seperti keadaan ketika ia meninggal.” (HR. Muslim).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّار وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ، فَلْتُدْرِكْهُ مَنِيَّتُهُ، وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، ويَأْتِي إلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أنْ يُؤتَى إلَيْهِ

Barang siapa yang suka bila dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah di saat kematian menyusulnya ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hendaklah ia memberikan kepada orang lain apa yang ia sukai bila diberikan kepada dirinya sendiri. HR Tirmidzi

Hadits lain, Nabi ﷺ bersabda,

لَا يَمُوتَنَّ أحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian meninggal dunia melainkan ia dalam keadaan berbaik prasangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. HR Muslim.

Diantara doa yang Allah ajarkan agar wafat dalam keadaan beriman.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

رَبَّنَاۤ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ

“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu).””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 126)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 رَبِّ قَدْ اٰتَيْتَنِيْ مِنَ الْمُلْكِ وَ عَلَّمْتَنِيْ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَ حَا دِيْثِ ۚ فَا طِرَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَا لْاٰ خِرَةِ ۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِا لصّٰلِحِيْنَ

“Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.””
(QS. Yusuf 12: Ayat 101)

Semoga bermanfaat.

#tafsir #salaf #sunnah #mati #takwa #iman #ahlikitab #Husnul #khatimah

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?