10 PRINSIP dalam MENUNTUT ILMU
*10 PRINSIP dalam MENUNTUT ILMU*
Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi
16 Rabi’ul Awal 1448H / 30 Agustus 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi
Jika kita awali pagi dengan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ini adalah tanda kebaikan.
Ibadah adalah setiap ucapan dan perbuatan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala baik yang tampak maupun tidak tampak.
Dan ibadah hanya diterima Allah dengan dua syarat.
1. Ikhlas
2. Ittiba, sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.
Nabi ﷺ bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” HR Muslim.
Ibadah bisa benar perlu ilmu. Dan menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”
HR Ibnu Majah.
Nabi ﷺ ajarkan doa yang setiap hari beliau panjat kan.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Yang pertama adalah ilmu yang bermanfaat.
Keutamaan menuntut ilmu.
1. Tanda kebaikan bagi seorang hamba.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).
2. Jalan menuju surga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu maka akan Allah mudahkan jalannya menuju surga.” HR Muslim
3. Meraih pahala yang besar.
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
مَن دخَل مسجِدَنا هذا لِيتعلَّمَ خيرًا أو يُعلِّمَه كان كالمُجاهِدِ في سبيلِ اللهِ ومَن دخَله لغيرِ ذلكَ كان كالنَّاظرِ إلى ما ليس له
“Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarinya, maka ia seperti mujahid fi sabilillah. Dan barangsiapa yang memasukinya bukan dengan tujuan tersebut, maka ia seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya.”
HR Ibnu Hibban
Dalam riwayat lain – pahala haji sempurna yaitu surga.
4. Ilmu adalah warisan para nabi.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا
وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.”
HR Tirmidzi
5. Ilmu angkat derajat pemiliknya.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
QS. Al-Mujādilah (58): ayat 11
Arab:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Seorang yang berilmu memiliki kedudukan yang tinggi sekalipun secara harta ia termasuk orang yang kurang. Dikisahkan bahwa dulu ada seorang ulama yang cacat dan sering jadi bahan tertawaan. Akhirnya, ibunya berkata kepadanya: “Belajarlah ilmu niscaya Allah akan mengangkat derajatmu”. Akhirnya dia belajar ilmu sehingga menjadi alim dan diangkat sebagai hakim di Mekkah selama 20 tahun lamanya. Apabila ada yang berperkara duduk di hadapannya maka dia akan gemetar.
Al kisah juga, ketika Harun ar-Rasyid datang ke kota Raqqah, orang-orang pun berbondong-bondong mengikuti (ulama besar) Abdullah bin al-Mubarak رَحِمَهُ اللَّه, hingga terputuslah sandal-sandal mereka dan debu pun membubung tinggi ke udara. Lalu, seorang selir Amirul Mukminin Harun ar-Rasyid mengintip dari atas menara Istana Kayu, dan ketika ia melihat kerumunan orang itu, ia pun bertanya: “Siapa ini?” Orang-orang menjawab: “Itu seorang alim dari Khurasan yang baru tiba di Raqqah, namanya Abdullah bin al-Mubarak.” Maka ia pun berkata:
هَذَا وَاللَّهِ الْمُلْكُ، لَا مُلْكُ هَارُونَ، الَّذِي لَا يَجْمَعُ النَّاسَ إِلَّا بِشُرَطٍ وَأَعْوَانٍ.
“Inilah, demi Allah, kerajaan yang sejati — bukan kerajaannya Harun, yang tidak bisa mengumpulkan manusia kecuali dengan polisi dan para pembantu.”
🔹 Ilmu ada dua.
1. Ilmu yang bermanfaat : bersumber dari Al Quran dan Sunnah dan diamalkan
2. Ilmu yang tidak bermanfaat, ilmu yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah, atau ilmu yang tidak diamalkan.
➡️ Tanda-tanda ilmu yang bermanfaat.
1. Ilmu membuahkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, merasa diawasi Allah.
Imam Ahmad – intinya ilmu adalah rasa takut pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Membuahkan amal, bukan sekedar hafalan dan wawasan.
Sufyan Ats-Tsauri – Ilmu dicari supaya lebih bertakwa kepada Allah.
3. Ilmu ingatkan pada akhirat dan kematian.
Bukan yang jadikan tamak dan terlena dengan dunia.
Ketika ditanya – Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak ingat mati dan paling baik persiapan setelah kematian.
4. Semakin baik akhlak nya.
Curigai ilmu kita bila kita belajar dan punya ilmu tapi akhlak kita buruk.
➡️ Prinsip/kiat menuntut ilmu yang bermanfaat.
1. Niat yang ikhlas.
Menuntut ilmu adalah ibadah.
Niatkan dengan 4 hal.
A. Melaksanakan perintah Allah
B. Menjaga Syariat Allah
C. Membela agama Allah
D. Meneladani Nabi ﷺ
Nasihat penting Imam Ahmad pada anaknya,
يَا بُنَيَّ: انْوِ الْخَيْرَ، فَإِنَّكَ لَا تَزَالُ بِخَيْرٍ مَا نَوَيْتَ الْخَيْرَ.
“Wahai anakku, niatkanlah kebaikan, karena engkau akan senantiasa berada dalam kebaikan selama engkau berniat baik.”
2. Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Laksanakan perintah Allah dan jauhi larangan Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّـكُمْ فُرْقَا نًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil). ”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 29)
Kunci menuntut ilmu adalah bertakwa.
Imam Malik – ilmu adalah cahaya yang tidak akan betah di tempat yang lama kecuali di hati hamba-hamba yang bertakwa.
Hati adalah wadah ilmu, maka bersihkan hati agar mampu menampung ilmu yang bermanfaat.
3. Sabar dalam menuntut ilmu.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا لَ سَتَجِدُنِيْۤ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ صَا بِرًا وَّلَاۤ اَعْصِيْ لَكَ اَمْرًا
“Dia (Musa) berkata, “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 69)
Sabar untuk duduk, menghafal, menyebarkan dst.
Imam Syafi’i : penyakit yang sering ganggu Penuntut Ilmu adalah kurangnya kesabaran dan ingin cepat mampu.
Ilmu itu butuh proses yang panjang.
Imam Ahmad perlu waktu 9 tahun untuk menguasai ilmu fikih darah haid.
4. Semangat dalam menuntut ilmu.
Nabi ﷺ bersabda,
اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ
“Bersemangatlah kamu melakukan hal-hal yang bermanfaat, dan mintalah pertolongan kepada Allah, serta jangan menyerah.” HR Muslim.
Kisah yang menarik, Hisyam bin Ammar رحمه الله disebutkan bahwa dia pernah masuk kepada Imam Malik رحمه الله tanpa izin seraya mengatakan: “Ceritakanlah kepadaku hadits”.
Dia mengatakan: “Bacalah”. Saya berkata: “Tidak, yang saya ingin adalah engkau menceritakan kepadaku hadits”. Tatkala aku sering mengulang-ngulang hal itu, maka dia mengatakan: “Wahai pelayan, pukulah dia sebanyak lima belas kali”.
Akhirnya, diapun memukul saya lima belas kali lalu membawaku kepada Imam Malik. Aku katakan padanya: Kenapa engkau mendzalimiku? Engkau telah memukulku tanpa dosa yang kuperbuat. Aku tidak menghalalkanmu.
Malik berkata: Terus apa tebusannya? Saya jawab: Tebusannya adalah engkau menceritakan kepadaku lima belas hadits. Maka beliaupun menceritakan lima belas hadits padanya. Lalu saya katakan padanya: “Tolong tambahi lagi pukulannya sehingga anda menambahi lagi hadits untukku”. Mendengar itu, Imam Malik tertawa seraya mengatakan: “Pergilah kamu”.
5. Menjaga ilmu, yaitu mencatat, menghafal, murojaah, mengulang..
Nabi ﷺ bersabda:
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابَةِ.
“Ikatlah ilmu dengan menulisnya
Seorang yang hadir dalam majelis ilmu hendaknya membawa alat untuk menulis, jika tidak maka dia akan rugi.
Imam Az-Zuhri berkata:
حُضُورُ الْمَجْلِسِ بِلَا كِتَابٍ ذُلٌّ.
“Hadir di majelis (ilmu) tanpa membawa buku adalah kehinaan.”
Ilmu bagaikan binatang buruan, dia butuh untuk diikat agar tidak hilang.
Imam Syafi’i berkata:
الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ … قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ
فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً … وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلَائِقِ طَالِقَهْ
“Ilmu itu bagaikan buruan, dan tulisan adalah talinya.
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat dan kokoh.
Termasuk kebodohan adalah jika engkau berhasil menangkap seekor kijang,
lalu engkau melepaskannya begitu saja di tengah khalayak ramai.”
6. Memperhatikan adab.
Dengan adab kita akan mendapatkan ilmu.
Diantaranya dengan memberi kelonggaran.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قِيْلَ لَـكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَا فْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَـكُمْ ۚ وَاِ ذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَا نْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11)
Maka para ulama menasihati untuk belajar adab dulu baru belajar ilmu.
Hadits Musalsal bil Awwaliyyah :
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian.”
Diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Al-As, antara lain dalam Sunan Abi Dawud dan Jami’ at-Tirmidzi dengan lafaz yang semakna.
7. Berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Merengeklah kepada Allah dengan berdoa, terutama di waktu-waktu mustajab.
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Wahai Rabb-ku, tambahkanlah ilmu kepadaku. (Thaha [20]: 114).
Mintalah orang tua mendoakan kita.
Ada kisah menarik, Ketika Sulaim masih sekitar 10 tahun, beliau menghadiri majelis seorang syaikh. Sang guru berkata kepadanya, “Maju dan bacalah.” Sulaim berusaha membaca Al-Fatihah, tetapi lisannya terasa berat sehingga tidak mampu membacanya dengan baik.
Sang guru kemudian bertanya:
“Apakah engkau mempunyai ibu?”
Sulaim menjawab, “Ya.”
Guru itu berkata:
“Mintalah kepada ibumu agar dia mendoakanmu supaya Allah memberikan kepadamu kemampuan membaca Al-Qur’an dan ilmu.”
Sulaim pulang dan meminta ibunya mendoakannya. Ibunya kemudian mendoakannya.
Setelah itu Sulaim Ar Razy – mudah belajar dan menjadi ulama besar.
Semoga bermanfaat.
#menuntut #ilmu #sabar #Ikhlas #adab #akhlak
##$$-aa-$$##

