5 menit membaca

*TAFSIR QS ALI IMRAN ayat 86-92*
Ustadz Muhammad Shoim
20 Dzulhijjah 1447H / 6 Juni 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Kita lanjutkan.
Surat Ali Imran, ayat 86-89

{كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْمًا كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (86) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ أَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللَّهِ وَالْمَلائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (87) خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلا هُمْ يُنْظَرُونَ (88) إِلا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (89) }

Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan bukti-bukti nyata pun telah datang kepada mereka?

Allah tidak memberi hidayah kepada orang-orang yang dzalim. Mereka itu balasannya ialah bahwa laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya; mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh, kecuali orang-orang yang tobat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Bazi’ Al-Basri, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai,’ telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Abu Hindun dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ada seorang dari kalangan Ansar murtad sesudah masuk Islam, lalu ia bergabung dengan orang-orang musyrik, tetapi setelah itu ia menyesal.

Kemudian ia mengirimkan utusan kepada kaumnya agar mereka menanyakan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, apakah masih ada jalan tobat baginya. Lalu turunlah firman-Nya: Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman. (Ali Imran: 86) sampai dengan firman-Nya: Karena  sesungguhnya  Allah   Maha  Pengampun   lagi  Maha Penyayang. (Ali Imran: 89). Lalu kaumnya memanggilnya dan ia masuk Islam kembali.

Kekal di dalamnya – kekal dalam keadaan terkutuk.

Sahabat yang sempat murtad tersebut adalah Al Haris bin Suwaid.

Taubat walaupun berulang akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ali Imran, ayat 90-91

{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ (90) إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الأرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (91) }

Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima tobatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati, sedangkan mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.

Taubat tidak diterima bila sudah akan meninggal,nyawa sudah sampai kerongkongan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengancam dan memperingatkan orang yang kafir sesudah imannya, kemudian kekafirannya makin bertambah, yakni terus-menerus dalam kekafirannya hingga mati, bahwa taubat mereka tidak diterima di saat matinya.

Makna ayat ini sama dengan ayat lain, yaitu firman-Nya:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئاتِ حَتَّى إِذا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka. (An-Nisa: 18), hingga akhir ayat.

Karena itulah maka dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ}

sekali-kali tidak akan diterima tobatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat. (Ali Imran: 90)

Hal ini sesuai dengan hadits yang Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ia belum mengalami ghargharah (nyawa belum sampai di tenggorokan).”
— HR. At-Tirmidzi.

Inilah batasan taubat diterima atau tidak. Bukan maksimal 3x.

Firaun pun bertaubat tapi terlambat, itulah sebabnya Allah tidak terima taubatnya.

Amalan yang dilakukan saat keadaan kafir, tidak Allah terima. Walaupun dengan emas sepenuh bumi. Inilah makna mahalnya nilai keimanan.

Hadits yang menjelaskan keadaan ini adalah tentang Abdullah bin Jud’an.

Abdullah bin Jud’an dikenal sebagai salah satu tokoh Quraisy yang sangat dermawan dan pernah terlibat dalam Hilf al-Fudul, sebuah perjanjian untuk membela orang yang dizalimi di Makkah. Namun, kebaikan-kebaikan tersebut tidak menggugurkan syarat utama keselamatan di akhirat, yaitu iman kepada Allah dan Rasul-Nya.

dari riwayat dari Aisyah binti Abu Bakar:

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ ابْنَ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟
قَالَ: «لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ»

Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibnu Jud’an pada masa jahiliah suka menyambung silaturahmi dan memberi makan orang miskin.

Apakah hal itu bermanfaat baginya?”
Beliau menjawab, “Tidak bermanfaat baginya, karena ia tidak pernah sekali pun mengatakan: ‘Wahai Rabbku, ampunilah dosaku pada hari pembalasan.'”
Hadits ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim

Demikian pula seandainya dia menebus dirinya dengan emas sepenuh bumi, niscaya hal itu tidak akan diterima darinya.

Seperti yang dinyatakan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

وَلا يُقْبَلُ مِنْها عَدْلٌ وَلا تَنْفَعُها شَفاعَةٌ

dan tidak akan diterima suatu tebusan pun darinya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya. (Al-Baqarah: 123)

لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلا خِلالٌ

Yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. (Ibrahim: 31)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذابِ يَوْمِ الْقِيامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih. (Al-Maidah: 36)

Ali Imran, ayat 92

{لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (92) }

Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan apa saja yang kalian nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengtahuinya.

Infak itu ada tingkatannya.
Infak baju bekas itu biasa.
Infak baju yang baru dibeli itu luar biasa.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Abu Talhah adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya di Madinah. Harta yang paling ia cintai adalah kebun Bairuha’. Kebun itu berada di hadapan masjid dan Rasulullah ﷺ sering memasukinya serta meminum airnya yang segar.

Ketika turun ayat:
‘Kalian sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai.’ (QS. Ali ‘Imran: 92)

Abu Talhah datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata:

‘Wahai Rasulullah, Allah telah berfirman: “Kalian tidak akan mencapai kebajikan hingga kalian menginfakkan apa yang kalian cintai.”

Harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’. Aku sedekahkan kebun itu karena Allah, mengharap pahala dan simpanannya di sisi Allah. Maka pergunakanlah sesuai yang Allah tunjukkan kepadamu.’

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bakhin! (Bagus sekali!) Itulah harta yang menguntungkan, itulah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Menurutku, sebaiknya engkau memberikannya kepada kerabatmu.”

Maka Abu Talhah berkata, ‘Aku akan melakukannya wahai Rasulullah.’
Lalu Abu Talhah membagikannya kepada kerabat dan anak-anak pamannya.”
HR Bukhari

Kisah inspiratif lain,

Anda mungkin yang dimaksud adalah kisah Abu Dahdah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu yang membeli kebun kurma lalu menyedekahkannya demi mendapatkan “kebun di surga”.

Ketika turun ayat:

﴿مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ﴾
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasannya…” (QS. Al-Baqarah: 245)

Abu Dahdah berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَإِنَّ اللَّهَ يُرِيدُ مِنَّا الْقَرْضَ؟
“Wahai Rasulullah, apakah Allah meminta pinjaman dari kita?”

Nabi ﷺ menjawab:

«نَعَمْ يَا أَبَا الدَّحْدَاحِ»
“Ya, wahai Abu Dahdah.”

Maka Abu Dahdah berkata:
إِنِّي أَقْرَضْتُ رَبِّي حَائِطِي
“Aku pinjamkan kebunku kepada Rabb-ku.”
Kebun tersebut memiliki sekitar 600 pohon kurma. Kemudian Abu Dahdah mendatangi kebunnya sementara istrinya dan anak-anaknya berada di dalamnya.

Beliau ﷺ memanggil:
يَا أُمَّ الدَّحْدَاحِ اخْرُجِي مِنْهُ، فَإِنِّي قَدْ أَقْرَضْتُهُ رَبِّي
“Wahai Ummu Dahdah, keluarlah dari kebun ini. Aku telah meminjamkannya kepada Rabb-ku.”

Istrinya yang shalihah menjawab:

رَبِحَ الْبَيْعُ يَا أَبَا الدَّحْدَاحِ
“Sungguh beruntung jual beli ini, wahai Abu Dahdah.”

Mereka pun keluar dari kebun tersebut dan menyerahkannya sebagai sedekah di jalan Allah.

Kemudian Nabi ﷺ bersabda:

«كَمْ مِنْ عِذْقٍ مُدَلًّى لِأَبِي الدَّحْدَاحِ فِي الْجَنَّةِ»
“Betapa banyak tandan kurma yang bergelantungan untuk Abu Dahdah di surga.”

Dalam riwayat lain:

«رُبَّ نَخْلَةٍ مُدَلَّاةٍ عُرُوقُهَا دُرٌّ وَيَاقُوتٌ لِأَبِي الدَّحْدَاحِ فِي الْجَنَّةِ»

“Betapa banyak pohon kurma bagi Abu Dahdah di surga, akar-akarnya dari mutiara dan yaqut.”
Kisah ini diriwayatkan oleh Musnad Ahmad, juga disebutkan oleh Ibnu Hibban dan dinilai hasan oleh sejumlah ulama.

Semoga bermanfaat.

#tafsir #salaf #sunnah #sedekah #wakaf

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?