HAKIKAT KETUHANAN
Diterbitkan pertama kali pada: 29-Des-2024 @ 07:53
7 menit membaca*HAKIKAT KETUHANAN*
Ustadz Gigih Surya Nugraha
27 Jumadil Akhir Safar 1446H/29 Desember 2024
Kaidah – sesungguhnya kemuliaan ilmu itu tergantung dengan apa yang dibahas.
Sehingga ilmu yang paling mulia adalah ilmu agama. Dan ilmu agama yang paling mulia adalah ilmu yang bahas nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ilmu ini yang paling cepat membuat seseorang taubat, ibadah, takut dst..
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an,
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا…
“Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama-nama yang Mahaindah, maka berdoalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-namaNya yang Mahaindah.” (QS. Al-A’raf[7]: 180)
✅ *Kita akan bahas surat Al Ikhlas.*
SEBAB TURUN SURAT AL-IKHLAS
Sebab turun surat Al-Ikhlas ini adalah pertanyaan orang-orang kafir tentang Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana disebutkan di dalam hadits :
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ
Dari Ubayy bin Ka’ab Radhiyallahu anhu bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sebutkan nasab Rabbmu kepada kami!”, maka Allâh menurunkan: (Katakanlah: “Dia-lah Allâh, yang Maha Esa). HR Tirmidzi.
Surat ini adalah surat Makkiyah, yaitu turun saat Nabi ﷺ sebelum hijrah ke Madinah.
Ada surat yang turun di Makkah yaitu saat turun Nabi ﷺ di Makkah, namun disebut surat Madaniah. Karena turun saat Fathu Makkah.
Al Fatihah disebut surat Ummul Quran – yaitu inti dari Alquran.
Dan surat Al Ikhlas adalah surat yang paling agung setelah surat Al Fatihah.
Dinamakan juga surat Al Ikhlasdengan surat al-Ikhlash karena murni (secara bahasa murni) berbicara tentang sifat-sifat Allah, tidak membicarakan tentang perintah dan larangan, tidak juga tentang janji dan ancaman.
Murni penjelasan nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Murni untuk menghilangkan kesyirikan terhadap Allah.
Ada surat lain disebut Al Ikhlas yaitu surat Al Kafirun. Pemurnian terhadap kesyirikan.
✅ Keutamaan Surat Al Ikhlas.
🔹1. Ada penjelasan sifat Ar Rahman. Allah mencintai orang yang suka membaca Surat Al Ikhlas.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seorang lelaki dalam suatu sariyyah (pasukan khusus yang ditugaskan untuk operasi tertentu). Laki-laki tersebut ketika menjadi imam shalat bagi para sahabatnya selalu mengakhiri bacaan suratnya dengan membaca surat al-Ikhlash. Ketika mereka pulang, disampaikan berita tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda:
سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ
“Tanyakanlah kepadanya kenapa ia melakukan hal itu?” Lalu mereka pun menanyakan kepadanya. Ia menjawab,
لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا
“Karena didalamnya terdapat sifat Ar Rahman, dan aku senang untuk selalu membacanya.”
Mendengar itu Rasulullah ﷺ bersabda:
أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ
“Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah Ta’ala juga mencintainya.” (HR Bukhari dan Muslim)
🔹2. Surat yang paling agung setelah Al Fatihah.
Ayat paling agung adalah ayat Kursi.
🔹3. Setara dengan 1/3 Al Qur’an.
Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ لِأَصْحَابِهِ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ وَقَالُوا أَيُّنَا يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ ثُلُثُ الْقُرْآنِ
Dari Abi Sa’id, ia berkata, “Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabatnya, ‘Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur`an dalam satu malam?’ maka hal ini memberatkan mereka, dan (mereka) bertanya: ‘Siapakah di antara kami yang mampu, wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: “Allahul-wahidus shamad adalah sepertiga Al-Qur`an”. (HR Bukhari)
Dan dalam hadits yang lain,
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ رَجُلًا سَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ يُرَدِّدُهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
Dari Abi Sa’id al-Khudri, bahwasanya ada orang mendengar seseorang membaca “qul huwallahu Ahad”, dan diulang-ulang. Pada keesokan harinya, ia mendatangi Rasulullah ﷺ dan melaporkannya, seakan ia menganggap remeh. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, ia sebanding dengan sepertiga Al-Qur`an”. (HR Bukhari)
Apakah berarti kita baca Al Ikhlas sudah baca 10 Juz? Tidak – maksud nya adalah kandungan Al Ikhlas adalah penjelasan 1/3 Al Quran.
Al Qurtubi : Al Quran berisi.
1/3 sifat-sifat Allah
1/3 hukum Syariat
1/3 kisah orang-orang sholeh.
Ibnu Hajar, Al Quran ada 3 hal yaitu tauhid, hukum syariat dan kisah orang-orang sholeh.
Tatkala seseorang sholat baca Al Ikhlas 3x tidak ada ulama yang menyatakan sholatnya sah.
🔹4. Surat yang sangat sering dibaca.
Sebelum subuh, setelah Maghrib, surat Witir, Dzikri pagi petang, dzikir setelah sholat.
Hikmah – untuk perbaharui iman kita.
🔹5. Nabi ﷺ sering Ruqyah dengan surat Al Ikhlas.
➡️ Allah berfirman pada permulaan surat:
🔸 Ayat pertama. Tuhan harus Esa
• قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa’”
Ini adalah salah satu syarat Tuhan.
Ini adalah dalil yang sangat tegas bahwasanya Allah Maha Esa dalam segala hal. Allah Maha Esa dalam Rububiyyahnya, Allah Maha Esa dalam Uluhiyyahnya, dan Allah Maha Esa dalam Asma’ wa Shifat.
Allah Maha Esa dalam Rububiyyahnya artinya Allah Maha Esa dalam penciptaan alam semesta, kepemilikan alam semesta, dan pengaturan alam semesta. Tidak ada yang menyertai Allah dalam menciptakan alam semesta. Begitupun dalam kepemilikan dan pengaturan alam semesta. Barangsiapa yang meyakini adanya dzat lain yang ikut menciptakan atau ikut memiliki atau ikut mengatur maka dia telah terjerumus ke dalam kesyirikan dalam tauhid Rububiyyah.
Maka sungguh suatu kesalahan bahwa ada makhluk yang mengatur sesuatu.
Misalnya ada anggapan pawang hujan, penjaga gunung dst
Allah juga berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ
“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya.” (QS Al Hajj : 73)
Dalam ayat lain.
إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍۢ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًۭا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَـٰلَمِينَ
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.
Surat Al-A’raf (7) Ayat 54
Juga dalam ayat lain
إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍۢ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ ۖ يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ ۖ مَا مِن شَفِيعٍ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ إِذْنِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُوهُ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
Surat Yunus (10) Ayat 3
🔸Ayat kedua – Tidak Butuh Yang Lain.
• اللَّهُ الصَّمَدُ
“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”
Makna الصَّمَدُ diriwayatkan dari para ulama beberapa makna. Diantaranya :
• الْمُسْتَغْنِي عَنْ كُلِّ أَحَدٍ، وَالْمُحْتَاجُ إِلَيْهِ كُلُّ أَحَدٍ “Yang tidak membutuhkan kepada segala sesuatu dan yang segala sesuatu membutuhkannya”. Ini adalah penjelasan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu (Tafsir al-Qurthubi)
• الَّذِي لَيْسَ بِأَجْوَفَ، وَلَا يَأْكُلُ وَلَا يَشْرَبُ “Yang tidak ada rongganya dan tidak makan dan tidak minum” (Tafsir At-Thobari)
Yesus itu perlu makan, butuh orang lain maka bukan tuhan.
• “Yang sempurna dalam segala sifat mulia”. Ibnu ‘Abbas berkata :
السَّيِّدُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي سُؤْدَدِهِ، وَالشَّرِيفُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي شَرَفِهِ، وَالْعَظِيمُ الَّذِي قَدْ عَظُمَ فِي عَظَمَتِهِ، وَالْحَلِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِلْمِهِ، وَالْغَنِيُّ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي غِنَاهُ، وَالْجَبَّارُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي جَبَرُوتِهِ، وَالْعَالِمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي عِلْمِهِ، وَالْحَكِيمُ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي حِكْمَتِهِ، وَهُوَ الَّذِي قَدْ كَمُلَ فِي أَنْوَاعِ الشَّرَفِ وَالسُّؤْدَدِ، وَهُوَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هَذِهِ صِفَتُهُ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لَهُ
“As-Sayyid (pemimpin) yang sempurna dalam kepemimpinannya, Asy-Syariif (yang maha mulia) yang sempurna dalam kemuliaannya, al-‘Adziim (Yang Maha Agung) yang sempurna dalam keagungannya, al-Haliim (Yang Maha Santun) yang sempurna dalam kesantunannya, al-Ghaniy (Yang Maha Kaya) yang sempurna dalam kekayaannya, al-Jabbaar (Yang Maha Kuasa) yang sempurna dalam kekuasannya, al-‘Aalim (Maha Berilmu) yang sempurna dalam ilmunya, al-Hakiim (Yang Maha Bijak) yang sempurna dalam kebijakannya. Dan Dialah Allah yang sempurna dalam berbagai macam kemuliaan dan kepemimpinan. Dialah Allah yang demikianlah sifatNya, tidak boleh kecuali hanya untukNya” (Tafsir At-Thobari)
• الَّذِي يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ وَيَحْكُمُ مَا يُرِيدُ “Yang melakukan apa yang Ia kehendaki dan menetapkan apa yang Ia kehendaki” (Tafsir al-Qurthubi)
Semua tafsiran di atas adalah benar, yang intinya adalah bahwa Allah maha sempurna dalam segala hal yang tidak membutuhkan kepada sesuatupun dan seluruh makhluk membutuhkanNya.
🔸Ayat ketiga.
• لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
“Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan”
Ayat ini merupakan bantahan terhadap yang menyatakan bahwa Allah punya anak. An-Nashoro menganggap Nabi ‘Isa ‘alaihis salam adalah putra Allah. Yahudi menganggap ‘Uzair adalah putra Allah. Dan kaum musyrikin menganggap para malaikat adalah putri-putri Allah.
Seandainya Allah melahirkan niscaya akan timbul sekutu, akan ada tuhan kedua karena yang dilahirkan itu tentu akan mirip dengan yang melahirkan.
Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ
Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu) (QS Az-Zukhruf : 81)
Karena kalau Allah punya anak tentu anak tersebut akan sama/mirip dengan Allah yang sempurna dalam segala hal, sehingga berhak untuk disembah pula.
Sungguh suatu hal yang kufur setidaknya dosa sangat besar orang yang menyatakan Allah punya anak.
Dan ucapan selamat kepada hari raya yang menyatakan Allah punya anak adalah kekufuran dan setidaknya dosa besar.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
{تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الأرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا * أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا}
hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (Maryam: 90-91)
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman,
شَتَمَنِى ابْنُ آدَمَ وَمَا يَنْبَغِى لَهُ أَنْ يَشْتِمَنِى ، وَتَكَذَّبَنِى وَمَا يَنْبَغِى لَهُ ، أَمَّا شَتْمُهُ فَقَوْلُهُ إِنَّ لِى وَلَدًا . وَأَمَّا تَكْذِيبُهُ فَقَوْلُهُ لَيْسَ يُعِيدُنِى كَمَا بَدَأَنِى
“Manusia telah mencela-Ku dan tidak pantas baginya mencela-Ku. Dan manusia mendustakan-Ku dan tidak pantas baginya berbuat seperti itu. Celaan manusia pada-Ku yaitu Aku dikatakan memiliki anak. Sedangkan mereka mendustakan-Ku dengan mengatakan bahwa Aku tidak mungkin menghidupkannya kembali sebagaimana Aku telah menciptakannya.” (HR Bukhari)
Ibnul Qayyim – mengucapkan selamat kelahiran anak tuhan, lebih berbahaya dari pada orang yang ucapkan selamat minum khamr, selamat berzina.
🔸Ayat 4.
“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”
Ayat terakhir ini adalah bentuk penegasan akan keagungan sifat-sifat Allah.
Bahwasanya apapun yang terbetik dalam benak kita bagaimana bentuk sifat Allah, maka semuanya pasti tidak benar, karena Allah lebih agung daripada itu semua.
Allah berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيْرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syura : 11)
Makhluk -baik manusia maupun hewan- meskipun disifati dengan mendengar dan melihat, demikian juga Allah mendengar dan melihat, akan tetapi pendengaran dan penglihatan Allah tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan makhluk.
Penglihatan manusia sangat terbatas -sehingga tidak bisa melihat jin, malaikat, benda-benda yang sangat kecil seperti kuman, virus, dan mikroba- lain halnya dengan penglihatan Allah yang tanpa batas.
Meja punya kaki, dan manusia punya kaki, kaki meja dan kaki manusia sangat berbeda. Dan seterusnya.
Semoga bermanfaat.
#tauhid #syirik #AlIkhlas #konsep #ketuhanan #natal
##$$-aa-$$##

