Ustadz Musa Mulyadi, LcIbadah

SUNAN ABU DAWUD # BERWUDHU 2 KALI 2 KALI

Diterbitkan pertama kali pada: 28-Jun-2020 @ 17:33

4 menit membaca

Abu Dawud, WUDHU NABI#2
Sharah Ustadz Musa Mulyadi Lc
12 Rajab 1441 H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

* SUNAN ABU DAWUD *

BAB. Berwudlu dua kali-dua kali
Hadits No. 136:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا زَيْدٌ يَعْنِي ابْنَ الْحُبَابِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَوْبَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْفَضْلِ الْهَاشِمِيُّ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَة رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ

“Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al-‘Ala`] telah menceritakan kepada kami [Zaid bin Al Hubab] telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Tsauban] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Al-Fadll Al Hasyimi] dari [Al A’raj] dari [Abu Hurairah]

bahwasanya Nabi ﷺ pernah berwudlu dua kali dua kali.”

FAIDAH HADITS:

* Dibolehkan wudlu’ (membasuh anggota wudlu’) dua kali-dua kali (kecuali mengusap kepala sekali).

+ Yang wajib adalah basuhan pertamanya (harus rata)
++ Basuhan ke-2 dan berikutnya adalah sunnah

Ini menunjukkan bahwa agama Islam, ada keluasan.

Hadits No. 137:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ حَدَّثَنَا زَيْدٌ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ قَالَ لَنَا ابْنُ عَبَّاس رضي الله عنه أَتُحِبُّونَ أَنْ أُرِيَكُمْ كَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ فَدَعَا بِإِنَاءٍ فِيهِ مَاءٌ فَاغْتَرَفَ غَرْفَةً بِيَدِهِ الْيُمْنَى فَتَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثُمَّ أَخَذَ أُخْرَى فَجَمَعَ بِهَا يَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثُمَّ أَخَذَ أُخْرَى فَغَسَلَ بِهَا يَدَهُ الْيُمْنَى ثُمَّ أَخَذَ أُخْرَى فَغَسَلَ بِهَا يَدَهُ الْيُسْرَى ثُمَّ قَبَضَ قَبْضَةً مِنْ الْمَاءِ ثُمَّ نَفَضَ يَدَهُ ثُمَّ مَسَحَ بِهَا رَأْسَهُ وَأُذُنَيْهِ ثُمَّ قَبَضَ قَبْضَةً أُخْرَى مِنْ الْمَاءِ فَرَشَّ عَلَى رِجْلِهِ الْيُمْنَى وَفِيهَا النَّعْلُ ثُمَّ مَسَحَهَا بِيَدَيْهِ يَدٍ فَوْقَ الْقَدَمِ وَيَدٍ تَحْتَ النَّعْلِ ثُمَّ صَنَعَ بِالْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ

“Telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Bisyr] telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin Sa’d] telah menceritakan kepada kami [Zaid] dari [‘Atha` bin Yasar] dia berkata; [Ibnu Abbas] pernah berkata kepada kami; Maukah aku perlihatkan kepada kalian bagaimana Rasulullah ﷺ berwudhu?

Dia minta untuk didatangkan bejana berisi air, lalu dia menciduknya sekali dengan tangan kanannya, lantas berkumur dan beristinsyaq, kemudian mengambil sekali lagi, lalu menggabungkan kedua tangannya dengan sekali ciduk itu, lantas mengusap wajahnya. Setelah itu dia mengambil lagi sekali cidukan, lalu membasuh tangan kanannya dengannya, kemudian mengambilnya lagi, lalu membasuh tangan kirinya. Setelah itu dia mengambil segenggam air, lalu mengibaskan tangannya, kemudian mengusapkannya pada kepala dan kedua telinganya. Setelah itu mengambil satu gegenggam lagi, lalu dipercikkannya ke atas kaki kanannya yang dalam keadaan bersandal, kemudian mengusapnya dengan kedua tangannya, satu tangan di atas kakinya dan tangan lainnya di bawah sandal. Kemudian dia melakukannya pula seperti itu pada kakinya yang kiri.

PENJELASAN HADITS:

* Hadits ini hasan, sebagaimana penjelasan syaikh Al-Albani, namun terdapat lafadz yang syadz pada ‘mengusap kaki’ sehingga tidak bisa di pakai.

Syadz, 1 perawi menyelisihi banyak perawi yang lebih tsiqah

BAB. Berwudlu sekali-sekali

Hadits No. 138:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِوُضُوءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَوَضَّأَ مَرَّةً مَرَّةً

“Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Sufyan] telah menceritakan kepada saya [Zaid bin Aslam] dari [‘Atha` bin Yasar] dari [Ibnu Abbas] dia berkata; Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang wudhu Rosululloh ﷺ? Lalu dia berwudhu satu kali satu kali.

FAIDAH HADITS:

*Batasan wajib mencuci anggota wudlu’ adalah sekali-sekali

BAB. Memisahkan antara berkumur dengan istinsyaq (memasukan air ke hidung)

Hadits No. 139:

حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ سَمِعْتُ لَيْثًا يَذْكُرُ عَنْ طَلْحَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ دَخَلْتُ يَعْنِي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ وَالْمَاءُ يَسِيلُ مِنْ وَجْهِهِ وَلِحْيَتِهِ عَلَى صَدْرِهِ فَرَأَيْتُهُ يَفْصِلُ بَيْنَ الْمَضْمَضَةِ وَالِاسْتِنْشَاقِ

“ Telah menceritakan kepada kami [Humaid bin Mas’adah] telah menceritakan kepada kami [Mu’tamir] dia berkata; Saya pernah mendengar [Laits] menyebutkan hadits dari [Thalhah] dari [Ayahnya] dari [Kakeknya] dia berkata; Saya pernah menemui Nabi ﷺ sementara beliau sedang berwudhu dan air mengalir dari wajah dan jenggotnya ke dadanya, dan saya melihat beliau memisahkan antara berkumur dengan beristinsyaq.
PENJELASAN HADITS:

* Hadits ini lemah (dla’if), disebabkan lemahnya perowi yang bernama Laits bin Abi Sulaim, dan juga Ayah Thalhah (Mushorrif) adalah Majhul( tdk diketahui), demikian juga kakeknya diperselisihkan kedudukannya sebagai shohabat atau bukan.

* Yang shohih adalah menggabungkan antara berkumur dan istinsyaq sebagaimana hadits yang telah lalu.

BAB. Istintsar (mengeluarkan air dari hidung)
Hadits No. 140:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِي أَنْفِهِ مَاءً ثُمَّ لِيَنْثُرْ

“Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Maslamah] dari [Malik] dari [Abu Az-Zinad] dari [Al A’raj] dari [Abu Hurairah] bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kalian berwudhu, hendaklah dia memasukkan air ke dalam hidungnya kemudian mengeluarkannya.”

FAIDAH HADITS:

• Disyariatkannya istinsyaq dan istintsar
• Ulama berbeda pendapat terkait hukum berkumur dan istinsyaq serta istinsar:

1) Wajib, berdasar hadits diatas dan tidak ada dalil yg meringankan hal itu…
2) Sunnah, jumhur ulama termasuk madzab Imam syafii

• Imam Asy-Syafi’i berpendapat hukumnya sunnah (tidak wajib), dengan merujuk hadits..

Dikisahkan ada seorang badui bertanya kepada Nabi ﷺ ” yaa Nabi, bagaimana aku berwudhu…??

Nabi ﷺ mengatakan… :

“Berwudhulah sebagaimana Allah ﷻ memerintahkan kalian berwudhu. “

Berdasarkan surat Al-Maidah ayat 6, Allah tidak menyebutkan berkumur dan istinsyaq.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak menger­jakan salat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sam­pai dengan siku, dan sapulah kepala kalian dan (basuh) kaki ka­lian sampai dengan kedua mata kaki;

• Sebenarnya Dalil Istinsyaq sangat kuat akan tetapi tdk ada ulama yg mengatakan batal wudhu’nya bila tidak melakukan istinsyaq

Dan alangkah baiknya kita keluar dari khilaf ulama..

Hadits No. 141:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ قَارِظٍ عَنْ أَبِي غَطَفَانَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَنْثِرُوا مَرَّتَيْنِ بَالِغَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا

“Telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Musa] telah menceritakan kepada kami [Waki’] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abi Dzi`b] dari [Qarizh] dari [Abu Ghathafan] dari [Ibnu Abbas] dia berkata; Rosululloh ﷺ bersabda…: “Beristintsarlah (mengeluarkan air dari hidung setelah istinsyaq) dengan sempurna dua kali atau tiga kali.”

FAIDAH HADITS:

* Mengeluarkan air dari hidung dengan sungguh-sungguh*.
*Menggunakan tangan kiri, yakni memegang hidung ketika menghembuskan air yang tlah dihirup.

Semoga Bermanfaat…. ditutup dengan doa kafaratul Majelis..

##$$-AA-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?