UNTUKMU YANG LELAH DAN HILANG ARAH
Diterbitkan pertama kali pada: 12-Sep-2021 @ 15:08
8 menit membacaUNTUKMU YANG LELAH DAN HILANG ARAH
Ustadz Dr Musyaffa Ad Dariny, Lc MA
Bila Allah memberikan hidayah maka tidak ada seorang pun yang mampu menyesatkannya
Dan bila Allah menyesatkan maka tidak ada seorang pun yang mampu memberi hidayah kepadanya.
Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba (jangan sampai kita tuhan kan) dan Utusan Allah sehingga jangan sampai kita dustakan.
Yang dibawa Rasulullah ﷺ adalah tiga hal.
1. Perintah, berusaha dilaksanakan
2. Larangan, harus dihindari
3. Khabar berita, semua khabar yang Rasulullah ﷺ sampaikan maka kita harus percaya.
Tidak cukup tahu yang baik saja tetapi harus tahu yang buruk
Yang baik untuk diamalkan, dan yang buruk untuk dihindari.
Belajar tauhid itu baik namun tidak cukup karena tidak tahu kesyirikan.
Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya biasa datang kepada Nabi untuk bertanya tentang kebaikan. Akan tetapi, Hudzaifah radhiallahu ‘anhu datang kepada Nabi untuk bertanya tentang kejahatan karena khawatir jatuh ke dalamnya.
Hidup di dunia ini adalah dipaksa untuk berjalan menuju akhirat.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda:
أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yg bisa melampui umur tersebut” (HR. Ibnu Majah: 4236, Syaikh Al Albani mengatakan: hasan shahih).
Kita diciptakan untuk kehidupan akhirat.
Allah menciptakan manusia dan jin untuk beribadah..
Dan ibadah adalah untuk cari pahala..
Allah memerintahkan kita untuk cari bekal dan bekal terbaik adalah bertakwa kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Kita harus tanya diri kita, bekal apakah yang kita bawa ke akhirat?
Kenikmatan yang banyak di dunia, namun akhirnya masuk neraka maka itu juga percuma…
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
يُؤتَى بأنْعَم أهل الدنيا مِنْ أهل النار فيُصْبَغُ في النارِ صَبْغَةً ثم يُقَال: يا ابنَ آدمَ هل رأيتَ خيراً قطُّ هل مَرَّ بكَ نعيمٌ قط؟ فيقولُ لا والله يا ربِّ، ويؤْتَى بأشَدِّ الناسِ بؤساً في الدنيا مِنْ أهل الجنة فيصبغُ صبغةً في الجنة فيقال: يا ابن آدمَ هل رأيتَ بؤساً قط؟ هل مَرَّ بك من شدة قط؟ فيقولُ: لا والله يا ربِّ ما رأيتُ بؤساً ولا مرّ بِي مِنْ شدةٍ قَطُّ
“Didatangkan penduduk neraka yang paling banyak nikmatnya di dunia pada hari kiamat. Lalu ia dicelupkan ke neraka dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kebaikan sedikit saja? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan sedikit saja?’ Ia mengatakan, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku.” Didatangkan pula penduduk surga yang paling sengsara di dunia. Kemudian ia dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan keburukan sekali saja? Apakah engkau pernah merasakan kesulitan sekali saja?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku! Aku tidak pernah merasakan keburukan sama sekali dan aku tidak pernah melihatnya tidak pula mengalamminya” (HR. Muslim no. 2807).
Sengsara dan nikmat dunia itu hanya sementara..
Rintangan perjalanan ada dua macam,
1. Lelah, adalah rintangan yang alami. Obatnya adalah kurangi kegiatan yang baik untuk sementara, makanya perlu refreshing.
Rasulullah ﷺ bersabda,
لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي، فَقَدْ أَفْلَحَ، وَمَنْ كَانَتْ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ
Setiap amalan ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat memiliki masa futur (kendur). Barangsiapa ketika futur ia kembali kepada sunnahku (ajaranku) maka beruntunglah dia. Dan barangsiapa ketika futur ia kembali kepada selain ajaranku, maka binasalah dia. HR. Ahmad dengan sanad yang shahih.
Umar bin Khaththab berkata, “Sungguh hati ini punya rasa semangat dan malas. Bila sedang semangat, bawalah pada amalan-amalan sunnah.
Bila sedang malas, paksa hati pada amalan wajib”.
2. Yang dibuat-buat. Misalnya banyak dosa, kemaksiatan..
Solusi..
A. Menghilangkan kotoran dan beban dari dosa itu..
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »
“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”
Hati-hati dalam memandang sesuatu, bisa jadi kelihatan baik padahal tidak sesuai syariat. Hal ini disebabkan hati yang sudah kotor.
Maka kita harus berusaha bersihkan dosa kita.
Dosa ini akan membebani jiwa kita.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلَمْ نَشْرَحْ لَـكَ صَدْرَكَ
“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?,” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 1)
Ayat ini tentang nikmat dari Allah.
وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ
“dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu,” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 2)
الَّذِيْۤ اَنْقَضَ ظَهْرَكَ
“yang memberatkan punggungmu,”
(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 3)
Semakin banyak dosa maka jiwa akan semakin terbebani..
Kadang orang ada yang salah, ingin kurangi beban tapi malah menambah beban dengan berbuat maksiat (dugem, minum khamr dst).
Jangan heran bila pemusik banyak yang bunuh diri. Karena beban jiwa yang berat.
Jadi obatnya adalah hilangkan beban dan noda dalam jiwanya, yaitu banyak bertaubat 1️⃣ dan istighfar kepada Allah..
Hati diibaratkan raja, sedang aggota badan adalah prajuritnya. Bila rajanya baik, maka akan baik pula urusan para prajuritnya. Bila buruk, maka demikian pula urusan para prajuritnya.
Bagaimana cara istighfar yang baik?
⏩Yaitu sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Misalnya.
▶️ 1.
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullaaha wa atuubu ilaih.
Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya.
HR Bukhari dan Muslim
▶️2.
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
Dengan Diulang-ulang berkali-kali
▶️3.
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ
Aku minta ampun kepada Allah Yang Maha Agung
▶️4. Atau Sayyidul Istighfar
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ، لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ لَكَ بِذَنْبِيْ، فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
Allaahumma anta robbii, laa ilaaha illaa anta, kholaqtanii, wa anaa ‘abduka, wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu, a’uudzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u laka bi-dzanbii, faghfir lii, fa-innahu laa yagh-firudz-dzunuuba illaa anta.
Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku. Aku adalah hambaMu. Aku akan setia pada perjanjianku denganMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.
HR. Al Bukhari.
▶️ 5 Istighfar nya Nabi Ibrahim
.رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
Robbanagh-fir lii wa liwaalidayya wa lil mu’miniina yauma yaquumul hisaab.
Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat). (Ibrahim [14]: 41).
▶️6. Dalam Surat Nuh (71) Ayat 28
رَّبِّ ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمِنًۭا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّـٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارًۢا
Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”.
Istighfar Nabi Nuh..
▶️7. Dalam sujud. Atau ruku.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ
Subhaanakallaahumma robbanaa wa bihamdika, allaahummagh-fir lii.
Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami, dan dengan pujian untukMu. Ya Allah, ampunilah aku.
HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484.
Langkah berikutnya adalah.
2️⃣ paksa diri untuk Melakukan amalan ibadah yang kecil-kecil
Karena ibadah akan menghapus dosa-dosa kita.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِ ۗl
“Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.”
(QS. Hud 11: Ayat 114)
Rasulullah ﷺ juga mengatakan, “ikutilah keburukan yang engkau lakukan dengan kebaikan.”
✳️Fungsi, kebaikan akan hapus dosa.
Kebaikan ringan misalnya senyum, baca ayat-ayat yang pendek diulang-ulang.
Perbuatan yang baik yang kita lakukan maka Allah akan memperbaiki hidup kita.
✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَا لِحًـا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَـنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةً ۚ وَلَـنَجْزِيَـنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَ حْسَنِ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 97)
لاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ
Jangan sepelekan amalan yang kecil.
Ingatlah bahwa setiap kita pasti ingin kebahagiaan, dan kebahagiaan hakiki hanya dapat diperoleh dengan kebaikan..
✳️
{أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ}
Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’d: 28)
Semua ketaatan kepada Allah adalah termasuk dzikir kepada Allah.
Surat Yunus (10) Ayat 57
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌۭ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌۭ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًۭى وَرَحْمَةٌۭ لِّلْمُؤْمِنِينَ
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Sholat juga termasuk dzikir..
{وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ}
Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (salat). (Al-Hijr: 97-98)
{وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ}
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (Al-Hijr: 99)
Ini menunjukkan semua ibadah akan membuat hati tenang..
Makanya orang yang semangat ibadah hatinya bahagia.
✔️Coba sholat malam
Akui semoga dosa
Dekatkan diri kepada Allah
Makanya orang yang ibadahnya kuat tidak perlu pergi rekreasi, karena sudah bahagia dengan Allah.
Jiwa itu fitrah nya cinta kepada yang menciptakan.
{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ}
Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (Ath-Thalaq: 2-3)
Takwa adalah taat dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan..
Namun ini perlu kesabaran..
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًۭا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَـٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
Surat Ta-Ha (20) Ayat 132
✳️Sholat adalah pembuka rezeki. Begitu juga haji dan umrah.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi,”
ISTIGHFAR juga memudahkan rezeki.
❕✔️Intinya semua amalan ibadah bisa mendatangkan rezeki.
3️⃣ MengIngat nikmat surga
Dalam sebuah hadits Qudsi..
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Allah azza wa jalla berfirman, ‘Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya, dan belum pernah pula terbetik dalam kalbu manusia’.”
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي ظِلَالٍ وَعُيُونٍ (41) وَفَوَاكِهَ مِمَّا يَشْتَهُونَ (42) كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (43) إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (44)
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata air-mata air. Dan (mendapat) bnah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini. (Dikatakan kepada mereka), “Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Qs Mursalat 41-44.
Di dalam surga ada semua yang diinginkan jiwa, dilihat oleh mata.
Di surga akan banyak kesibukan yang melalaikan (kenikmatan yang lain).
Penduduk surga diberi kekuatan 100 laki-laki.
Tambahan nya adalah kenikmatan memandang wajah Allah.
Di surga kenikmatan yang hakiki, tidak terampur kesedihan sedikitpun.
4️⃣ Mengingat keutamaan ibadah
Misalnya keutamaan membaca Al-Qur’an.
Setiap huruf nya 10 kebaikan
Setiap baca Al Ikhlas, seperti sepertiga Al Qur’an
Dst..
5️⃣ Hadiri majelis ilmu
Kita akan tahu jalan-jalan kebaikan. Jangan sampai salah memilih majelis ilmu.
Juga akan punya semangat untuk melakukan kebaikan.
Orang yang belum merasakan kenikmatan yang hakiki tidak akan menikmati kenikmatan surga kelak (Ibnu Taimiyyah).
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).
6️⃣ MENGINGAT bahwa umur kita adalah nikmat dari Allah
Dan akan kita pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang semua kenikmatan yang kalian rasakan” (QS. At Takatsur: 8).
Rasulullah ﷺ bersabda,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Kita harus punya rasa harap dan takut akan kehidupan kita lurus.
Rasa takut dalam mempertanggungjawabkan kepada Allah di akhirat kelak.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
{أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ}
Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? (Al-Balad: 5)
{أَيَحْسَبُ أَنْ لَمْ يَرَهُ أَحَدٌ}
Apakah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya. (Al-Balad: 7)
Semoga bermanfaat….
##$$-aa-$$##


