Diterbitkan pertama kali pada: 20-Jun-2021 @ 13:52

8 menit membaca

UNTUKMU YANG SEDANG DIRUNDUNG DUKA
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
10 Dzulqaidah 1442H

Allah ciptakan manusia di bumi memang untuk diuji.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ٱلَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَا لْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ 
“yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,”
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 2)

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا (1) إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya
Qs Al-Ihsan 1-3.

Allah uji dengan berbagai macam ujian..
Kesedihan, kesenangan, harta, sakit, kematian..

Dalam sebuah hadits disebutkan,

عن سهل بن سعد قال جاء جبريل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

Dari Sahl bin Sa’ad ra, berkata: Jibril datang kepada Nabi ﷺ , lalu berkata: “Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati, cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.” Kemudian dia berkata:” Wahai Muhammad! Kemulian seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk shalat malam), dan keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia.” (HR. ath-Thabarani ).

Ada yang sedih belum punya anak padahal sudah menikah lama, sementara dia melihat banyak anak terlantar..

Ada yang diuji dengan banyak anak, ada yang diuji dengan tidak menikah dan ada wanita yang diuji dengan suaminya..

Ujian itu bagi semua orang, baik kaya maupun miskin… Baik rakyat maupun pejabat. Orang kafir maupun orang mukmin..

Allah telah menyatakan bahwa mukmin juga akan dapat ujian..

الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)

Alif Lam Mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Ini konsekuensi dari ujian, apakah iman nya jujur atau dusta..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَـنَّةَ وَ لَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَآءُ وَا لضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَ لَاۤ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ
“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 214)

Semakin tinggi keimanan semakin kuat ujian.. Ujian paling berat adalah para nabi…

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل فيبتلى الرجل على حسب دينه فإن كان دينه صلبا اشتد بلاؤه وإن كان في دينه رقة ابتلى على حسب دينه فما يبرح البلاء بالعبد حتى يتركه يمشى على الأرض ما عليه خطيئة

“(Orang yang paling keras ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzy, Ibnu Majah, berkata Syeikh Al-Albany: Hasan Shahih)

Ujian dalam segala bentuk.. Bukan hanya fisik, bisa dalam bentuk cercaan..

Ujian yang dialami Rasulullah ﷺ adalah yang paling berat, sejak usia 6 tahun sudah kehilangan Ibu di daerah Yang jauh dari kampungnya..

Ujian saat menjadi Rasul juga sangat berat, ditinggal oleh istri yang selalu memberi rasa aman dan nyaman tatkala sedih, kehilangan Abu Thalib, kehilangan Hamzah bin Abdul Muthalib, kehilangan anak-anak kecuali Fatimah…. Juga ujian diusir dari negeri nya, ujian dengan cercaan dan tuduhan, ujian racun makanan dll..

Rasulullah ﷺ diuji dari segala sisi kecuali mungkin dari cacat fisik..

📶 Beberapa renungan.

➡️ 1. Ujian adalah tabiat kehidupan

Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya..

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ فِى كَبَدٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.
Surat Al-Balad (90) Ayat 4

Manusia dalam kepada susah sejak lahir… Tidak bisa apa-apa, belajar jalan dan seterusnya bahkan sampai di alam Barzakh..

Makanya Imam Ahmad menjelaskan bahwa kita istirahat dari ujian bila kita sudah masuk surga.

Imam Syafi’i berkata, “ujian kehidupan sangat banyak tidak pernah putus, adapun kesenangan datang sesekali”

Kesedihan dan kekhawatiran adalah sifat yang yang melazimi kehidupan..

Diantara hal yang ringankan beban kesedihan adalah angan-angan masuk surga.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 اُدْخُلُوا الْجَـنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَاۤ اَنْتُمْ تَحْزَنُوْنَ

” (Allah berfirman), “Masuklah kamu ke dalam surga! Tidak ada rasa takut padamu dan kamu tidak pula akan bersedih hati.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 49)

Saat masuk surga, mereka berkata..

وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِىٓ أَذْهَبَ عَنَّا ٱلْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampum lagi Maha Mensyukuri.
Qs Fatir ayat 34.

{إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ}

Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga). (Al-Muthaffifin:22)

Artinya, kelak di hari kiamat mereka berada dalam kenikmatan yang abadi dan surga-surga yang di dalamnya terdapat karunia yang berlimpah.

{عَلَى الأرَائِكِ يَنْظُرُونَ}

mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. (Al-Muthaffifin: 23)

Semua yang dilihat bikin mereka bahagia..

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ}

Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. (Al-Muthaffifin: 24)

▶️Harus optimis, bahwa yang memberi ujian adalah Yang sangat kenal dengan kita dan paling sayang pada kita..

➡️ 2. Ujian adalah obat

Obat itu pahit, harus diterima dengan lapang dada…

Ibnul Qayyim : Dalam diri manusia ini banyak potensi yang buruk.. Namun tatkala Allah kasih musibah, itulah obat, terimalah dengan baik, husnudzon..

Awal dari kejayaan adalah ujian, Faidah dari kisah Nabi Yusuf..

Dan Nabi Yusuf menerima semua ujian itu dengan Ihsan… Padahal ujian itu selama puluhan tahun..

➡️ 3. ALLAH ingin memunculkan ibadah yang Allah sukai dengan ujian yang tidak akan muncul tatkala kondisi senang.

Saat musibah, akan timbul sikap tawakal, berdoa,bangun malam…

Dalam keadaan tawakal itu ada kenikmatan yang luar biasa.

➡️ 4. Jika seorang diuji maka tanda kebaikan

Banyak hadits yang menjelaskan tentang hal ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR. Al-Bukhari).

Allah menguji Nabi Yakub dengan kesedihan yang panjang, padahal dia orang paling baik saat itu. Paling dicintai Allah.

Harus husnudzon kepada Allah..

➡️ 5. Musibah yang menimpa kita adalah untuk angkat derajat kita

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى

“Sesungguhnya seorang hamba jika telah ditentukan/ditakdirkan padanya suatu tingkatan (di Surga) yang mana dia belum bisa meraihnya dengan sebab seluruh amalnya, maka Allah akan timpakan padanya musibah berkaitan dengan dirinya, hartanya atau pada anaknya, kemudian Allah jadikan dia bisa bersabar atas musibah tersebut sehingga dengan sebab tersebut Allah sampaikan ia pada tingkatan (di Surga) yang telah Allah tetapkan untuknya.” (HR. Abu Daud)

Dikasih ujian dengan yang ia tidak suka, dan sabar.

➡️ 6. Setiap ujian/kesedihan/musibah akan mengurangi dosa

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu KELELAHAN, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim )

Hadits lain, juga disebutkan gangguan orang lain..
Gelisah juga akan kurangi dosa..

Dengan syarat dihadapi dengan kesabaran.

Bahkan bila semua musibah dihadapi dengan kesabaran, maka kita bisa bertemu Allah dengan dosa yang telah Allah hapuskan.

➡️ 7. Merenungkan bahwa musibah ini bisa jadi untuk hindarkan musibah yang lebih besar

Banyak contoh dalam kehidupan ini.

Ibnul Qayyim menjelaskan tentang Kisah Nabi Khidir yang membunuh dua anak kecil… Yang bila tidak dibunuh akan memberi kemudhorotan yang besar kepada orang tua nya.

➡️ 8. Musibah ajarkan kita untuk bersyukur

Dengan mengenal lawan sesuatu maka kita akan tahu hahikat sesuatu tersebut.

Ketika kena covid, ternyata bisa hirup udara adalah nikmat yang luar biasa.

➡️ 9. Apa yang kita alami adalah sudah ditakdirkan

Diantara iman kepada Allah adalah takdir ditetapkan yang menimpa kita.
Semua musibah sudah tercatat sudah tercatat di Lauhul Mahfudz.

Maka ketika tertimpa musibah kita ucapkan.

قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ

Artinya: Allah sudah menakdirkan dan apa yang Dia kehendaki Dia lakukan.

Atau juga ucapan
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un..

Ini membuat kita ringan hadapi musibah.

➡️ 10. Kita ucapkan kata-kata yang kuat kan hati kita

Kita ucapan
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un..

Atau

Qadarullah Wa Maa Syaa a Fa’ala

Atau Alhamdulilah ‘Alaa kulli hal

Atau
ﺇِﻧَّﺎ ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺭَاﺟِﻌُﻮﻥَ اﻟﻠﻬُﻢَّ ﺃْﺟُﺮْﻧِﻲ ﻓِﻲ ﻣﺼﻴﺒﺘﻲ، ﻭَﺃَﺧْﻠِﻒْ ﻟِﻲ ﺧَﻴْﺮًا ﻣِﻨْﻬَﺎ

Kami adalah milik Allah dan kepada Allah kami kembali. Ya Allah berilah pahala atas musibah saya dan berilah ganti yang lebih baik daripada musibah ini”

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

” ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻋَﺒْﺪٍ ﺗُﺼِﻴﺒُﻪُ ﻣُﺼِﻴﺒَﺔٌ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ: ﺇِﻧَّﺎ ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺭَاﺟِﻌُﻮﻥَ اﻟﻠﻬُﻢَّ ﺃْﺟُﺮْﻧِﻲ ﻓِﻲ ﻣﺼﻴﺒﺘﻲ، ﻭَﺃَﺧْﻠِﻒْ ﻟِﻲ ﺧَﻴْﺮًا ﻣِﻨْﻬَﺎ، ﺇِﻻَّ ﺃَﺟَﺮَﻩُ اﻟﻠﻪُ ﻓِﻲ ﻣُﺼِﻴﺒَﺘِﻪِ، ﻭَﺃَﺧْﻠَﻒَ ﻟَﻪُ ﺧَﻴْﺮًا ﻣِﻨْﻬَﺎ “

Tidak ada seorang hamba yang tertimpa musibah kemudian dia berdoa: “Kami adalah milik Allah dan kepada Allah kami kembali. Ya Allah berilah pahala atas musibah saya dan berilah ganti yang lebih baik daripada musibah ini”, kecuali Allah akan memberi pahala dalam musibahnya dan memberi ganti yang lebih baik daripada musibah tersebut”

Sangat penting saat musibah adalah berdoa untuk kokoh atau kuat kan hati.

➡️ 11. Banyak dzikir kepada Allah

Ini seperti yang Allah perintahkan kepada Rasulullah ﷺ saat sedih.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ}

Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui bahwa dadamu men­jadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbih­lah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (salat). (Al-Hijr: 97-98)

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ }

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolong kalian, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Jangan malah main medsos, nonton musik dan lainnya, karena malah membuat hati semakin hitam..

Doa penghilang kesedihan,yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ

Allaahumma innii ‘abduka, wabnu ‘abdika, wabnu amatika, naashiyatii biyadika, maadhin fiyya hukmuka, ‘adlun fiyya qodhoo-uka, as-aluka bikullismin huwa laka, sammaita bihi nafsaka, au anzaltahu fii kitaabika, au ‘allamtahu ahadan min kholqika, awista’tsarta bihi fii ‘ilmil ghoibi ‘indaka, an taj’alal qur-aana robii’a qolbii, wa nuuro shodrii, wa jalaa-a huznii, wa dzahaaba hammii.

Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu (Adam), dan anak hamba perempuanMu (Hawa), ubun-ubunku berada di tanganMu, hukumMu berlaku terhadap diriku, dan ketetapanMu adil pada diriku. Aku memohon kepadaMu dengan segala Nama yang menjadi milikMu, yang Engkau namai diriMu dengannya, atau yang Engkau turunkan di dalam kitabMu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisiMu, maka aku mohon dengan itu agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku, pelipur kesedihanku, dan penghilang bagi kesusahanku.

HR. Ahmad 1/391. Menurut pendapat Al-Albani, hadits tersebut adalah sahih.

Siapa yang berdoa dengan doa ini tatkala sedih, Allah akan hilangkan kesedihannya

Harus diamalkan..

Tatkala sedih.. Harus lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala..

➡️ 12. Jangan suka mengingat masa lalu

Syetan ingin kita ingat ke masa lalu.

Jangan menjebak dalam kesedihan.
Bila ditinggal orang dekat meninggal, jangan perlihatkan barang-barang atau kenangan darinya. Syetan berusaha memalingkan kita dari amalan yang banyak.

Hati memang tidak bisa kita atur tapi jangan menyegaja.

➡️ 13. Sibuk membantu orang lain

Kalau kita bantu orang lain maka Allah akan lapangkan dada kita.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ}

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majelis, ” (Al-Mujadilah: 11)

{فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ}

maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. 
(Al-Mujadilah: 11)

Diantaranya adalah lapang dada..
Dengan cara membantu orang lain dengan ikhlas.

Dan Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling banyak membantu orang lain.

➡️ 14. Senatiasa optimis, musibah pasti akan berlalu

Dan ingat selalu firman Allah Ta’ala,

إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Allah tidak mengatakan setelah tetapi bersama, ini isyarat bahwa pertolongan itu sangat dekat.

Semoga bermanfaat,

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?