Diterbitkan pertama kali pada: 15-Jun-2020 @ 21:21

6 menit membaca

*IMAN DI AKHIR ZAMAN*
Ustadz Maududi Abdullah, Lc
25 Dzulqaidah 1440 H
Masjid *Al Ikhlas Dukuh Bima* Bekasi

*Faidah Kajian..*

1. Setiap saat, nikmat Allah yang banyak tercurah untuk kita, kita harus melatih diri untuk bisa melihat rahmat Allah, supaya kita mudah bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Kita sampai ke majelis ilmu ini, juga karena Rahmat Allah, bukan keiawaian kita yang antar kita sampai masjid ini. Bukan karena rajin, semangat nya kita.. Karena kalau kita merasa karena semangat dan rajin kita, maka kita termasuk orang yang sombong.

لا حول ولا قوة إلا بالله

Tidak ada Daya dan upaya kecuali pertolongan dari Allah.

Jangan sandarkan sesuatu kepada kita.

3. Allah mampu menghentikan majelis ilmu dengan mudah, misalnya dengan gempa. Dan banyaknya gempa adalah salah satu tanda akhir zaman.

4. Rahmat Allah itu ada 2.

A. Secara global yang dibagi rata,baik untuk orang yang taat maupun bejat, berarti rahmat yang tidak Special.

B. Secara khusus, Special adalah nikmat hidayah, nikmat ketaatan dalam menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika Allah memberi nikmat ini kita berharap, kita di ridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

5. Tanda kebaikan hamba adalah diberi kepahaman agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

6. Allah berfirman,

{ وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}

Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala); dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. (Al-Baqarah: 102-103)

7. Dalam surat Al qashash, Allah tidak memuji harta dan kekayaan, tetapi memuji Iman dan amal sholeh. (kisah Qarun)

وَقالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صالِحاً وَلا يُلَقَّاها إِلَّا الصَّابِرُونَ

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (Al-Qashash: 80)

8. Shalat sunnah Fajar, pahalanya lebih baik dari dunia dan isinya, apalagi sholat wajib.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua raka’at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725).

Yang akan dibayar kelak di akhirat.

9. Fitnah terbesar umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah harta

Cara selamat dari fitnah harta adalah kerdilkan harta, karena harta bukan kemuliaan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتنَةُ أُمَّتِي المَالُ .

Sesungguhnya setiap umat itu ada fitnahnya dan fitnah umatku adalah harta.
(HR al-Tirmizi dan beliau berkata: Hadis hasan sahih)

10. Allah berkali-kali berfirman akan kerdilnya dunia.

Allah berfirman,

{مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ}

Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. (Ali Imran: 197)

Dan juga ayat-ayat yang lain.

11. Ayat yang paling panjang di Al Qur’an adalah ayat tentang harta (Qs Al Baqarah 282),

Begitu pula hukum paling detail dalam Alqur’an adalah juga tentang harta. (harta waris)

12. Islam di awal kedatangannya dianggap asing di kehidupan masyarakat dan kembali asing di akhir.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Itu karena yang mengamalkan ajaran Islam secara benar hanya sedikit.

Sebab keterasingan itu adalah,

A. Berpindah agama dari Islam (jumlahnya banyak, mayoritas non muslim)

B. Dan Yang Muslim makin hanyut pada pemahaman yang salah, yang dilarang oleh syariat, dimulai dari Khawarij, Qadariyah, Syiah, Mu’tazilah, dll.

13. Sedikit jumlah umat yang mewarisi kebenaran, yang tidak hilang sampai akhir zaman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ وَلَيْسَ فِي حَدِيثِ قُتَيْبَةَ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Akan senantiasa ada sekelompok orang di antara umatku yang menang di atas kebenaran, tidaklah membahayakan mereka orang lain yang menyia-nyiakan mereka hingga datang ketetapan Allah sementara mereka senantiasa berada dalam keadaan demikian.” Sedangkan di dalam haditsnya Qutaibah tidak disebutkan kata-kata, “Sementara mereka senantiasa berada dalam keadaan demikian.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Imarah, hadits no. 1920. Lihat Syarh Nawawi [6/544])

14. Berat, untuk mempertahankan kebenaran..
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberi kabar gembira bagi orang-orang yang mengamalkan murni ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam secara benar.

فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Sungguh beruntungnlah orang yang asing

15. Beragama, tidak harus tampil beda dengan masyarakat. Bukan keterasingan yang dicari-cari.

Misalnya, melakukan shalat ba’diyah Ashar karena ingin dianggap asing.

Keterasingan itu konsekuensi bukan dibuat-buat.

16. Nasihat Ulama (Syaikh Sholeh) , selagi masih bisa beragama sesuai dengan masyarakat itu lebih sesuai, asal tidak melanggar syariat.

17. Dalam riwayat lain, orang-orang yang berbuat agama dan memperbaiki agama yang rusak karena dirusak oleh sebagian manusia.

18. *Mari kita kunokan agama kita*, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan diamalkan para sahabat.

19. Nabi shallallahu alaihi wasallam shalat berjamaah dan tidak pernah memimpin dzikir berjamaah… (bukan aneh)

20. Celana tidak isbal, membiarkan jenggot, juga tidak baru, karena sudah diamalkan oleh para Nabi dan para Rasul, serta para sahabat.

Banyak ayat dan hadits yang menjelaskan hal itu.

21. Di akhir zaman, Islam (yang benar) dianggap asing,

Kita hanya diwajibkan untuk patuh dan taat pada Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dakwah yang haqq ini tidak ada pendirinya, beda dengan sekte2 dan mereka punya pemimpin.

22. Ada *3 hal yang sangat merusak agama Islam*,
Orang terbaik akan menjaga agama Islam, yang akan menepis,

A. Berlebihan dalam beragama
B. Serangan yang akan membatalkan Islam
C. Tafsiran orang-orang yang jahil, tidak berilmu tapi bicara dalam agama.

23. Di dalam Al Quran, para sahabat digambarkan dalam beberapa ayat,

Qs Taubah 100.
Qs Al Baqarah 13 dan 137.
Qs An Nisa 115.
Qs Muhammad/47 : 16
Qs Al Fath:47

Jalan yang harus diikuti adalah jalan para sahabat,

Begitu juga dalam hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang orang yang selamat dari neraka, yaitu orang yang berdiri di atas agama Rasulullah dan pemahaman para sahabat.

24. Standardisasi adalah amalan Nabi dan para sahabat.

Contoh, dzikir setelah sholat jamaah adalah dzikir masing-masing.

Agama itu sudah sempurna, tidak boleh ditambah dan dikurangi.

25. Imam Malik, orang yang menambah amalan agama berarti orang tersebut menganggap agama Islam belum sempurna.

26. Dan tugas untuk menyampaikan kebenaran itu tidak mudah, semoga Allah memberi kemudahan kepada para pengemban tugas tersebut.

27. Jadi yang merusak agama Islam, yang paling banyak adalah berlebihan, tambahan..

Misalnya, dulu gak ada zakat profesi, sekarang marak zakat profesi..
Begitu juga tidak ada walimah safar, walimah khitan.

28. Tugas itu sulit, karena yang menambahkan tambahan tersebut juga membawa yang terkait syariat. (berbau agama).

Contoh, dzikir jamaah itu bukan melarang dzikir tetapi berusaha menerapkan seusai standar agama yang benar.

Hal itu sudah disampaikan oleh Ibnu Mas’ud.

29. Poin perusak agama kedua adalah, susupan kerusakan dari luar agama Islam.
Hal ini lebih ringan dalam menunjukkan kemungkarannya.

Misalnya, ajakan kafir *kalau ingin maju maka tinggalkan agama.*

Padahal agama tidak menyebabkan keterbelakangan.

Tidak ada hal yang baik yang tidak diperintahkan oleh Islam.

Standar agama, ortu yang mencarikan jodoh untuk anak gadisny (atas keridhoan anak gadisnya, bukan dipaksa)

Saat ini dirusak dengan pemahaman, itu *jaman Situ Nurbaya..*

Ayah harus lebih mahir mencari jodoh buat anak perempuan, karna ayah laki-laki dan tahu sifat laki-laki..

Dan sekarang, banyak perempuan tertipu karena mencari sendiri..
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا، وَالْبِكْرُ يَسْتَأْذِنُهَا أَبُوْهَا فِي نَفْسِهَا وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا.

“Janda itu lebih berhak atas dirinya daripada walinya. Sedangkan gadis, ayahnya meminta izin kepadanya untuk menikahkan dirinya, dan izinnya adalah diamnya.”

Terkadang beliau bersabda:

وَصَمْتُهَا إِقْرَارُهَا.

“Dan diamnya adalah persetujuannya.”
HR Muslim.

*Tidak ada ayah yang sengaja cari lelaki jelek untuk suami anaknya.*

30. *Faktor rusak Islam ketiga adalah takwil yang bodoh.*

Misalnya, lebih baik tidak tahu agama dari pada tahu..

*Tidak ada rumus apapun orang yang bodoh lebih baik daripada orang yang berilmu, apalagi dalam urusan akhirat*

31. Dan Jumlah orang yang menegakkan kebenaran Islam yang haq sangat sedikit, dan dianggap asing…

Kalau ada kesalahan, itu dari kefakiran penulis.

Semoga bermanfaat,
##$$-aa-##$$

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?