BULAN SYAWAL
Diterbitkan pertama kali pada: 15-Jun-2020 @ 14:42
5 menit membacaBulan Syawal
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
8 Syawal 1441 H
At Streaming Alikhlas Dukuh Bima
Bulan Syawal adalah salah satu bulan haji.
Juga bulan Dzulqaidah dan Dzulhijjah.
Sebagaimana firman Allah,
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ
“Musim haji itu pada beberapa bulan yang telah diketahui” (QS. Al Baqarah: 197).
At-Thabari menafsirkan ayat tersebut, beliau berkata,
أي وقت الحج أشهر معلومات وهي شوال وذو القعدة وتسع من ذي الحجة إلى طلوع الفجر من يوم النحر
“Yaitu waktu bulan-bulan haji adalah Syawwal, Dzulqa’dah dan tanggal 9 Dzulhijjah sampai terbitnya fajar pada hari nahr (menyembelih)”.
Bulan Syawwal dianggap bulan sial menikah karena nggapan di bulan Syawwal unta betina yang mengangkat ekornya (syaalat bidzanabiha). Ini adalah tanda unta betina tidak mau dan enggan untuk menikah, sebagai tanda juga menolak unta jantan yang mendekat. Maka para wanita juga menolak untuk dinikahi dan para walipun enggan menikahkan putri mereka.
Rasulullah shallallahu alaihi membenarkan anggapan yang salah (Tathayur) tersebut,yaitu dengan menikah di bulan Syawal.
‘Aisyah radiallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan,
تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللهِ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي؟، قَالَ: ((وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ))
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula.
Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim).
Ulama menjelaskan bahwa itu dalil disunnahkan menikah di bulan Syawal.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukan hal yang anti mainstream untuk membenarkan kesalahan anggapan tersebut
Contoh lain adalah saat anggapan Umrah di bulan Dzulhijjah sebelumnya dianggap pantangan dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyuruh sahabat umrah di bulan Dzulhijjah (haji Tamatu).
Contoh lain, adalah larangan menikahi bekas istri anak angkat saat itu. Ini dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat menikahi Zainab binti Jahsyn yang telah diceraikan oleh Zaid bin Haritzah (anak angkat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam).
Diantara keistimewaan bulan Syawal adalah puasa 6 hari.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Puasa 3 hari dalam setiap bulan juga seperti puasa setahun (rutin tiap bulan). Pahala 1 hari puasa 10x lipat.
Namun ini beda dengan puasa Syawal. Karena Ramadhan adalah puasa wajib, Dimana Allah lebih cinta pada amalan wajib.
Dan Syawal adalah kelengkapan setahun puasa Ramadhan.. Jadi puasa Syawal ini setara dengan wajib.
Puasa Syawal ini lebih berat, dari pada puasa sunnah di bulan yang lain.
Kapan boleh puasa Syawal?
Ini ada khilaf… Ulama Syafi’iyah boleh mulai tanggal 2,sedangkan hanabillah mulai minggu ke dua.
Boleh dilakukan sesuka kita.
Bisa digabung dengan Senin Kamis, saat amalan diangkat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Bila dilakukan di awal, maka ada keutamaan bersegera melakukan ketaatan.
Qodho dulu atau boleh Syawal duluan?
Ulama sepakat Qodho dulu lebih utama.
Sebagian ulama berpendapat harus bayar Qadha dulu, seperti dhahir hadits keutamaan puasa Syawal.
Juga jalankan bayar hutang lebih didahulukan.
Ini pendapat dipilih Syaikh Utsaimin dan Syaikh Sulaiman Ar Ruhaily.
Ulama Syafi’iyah membolehkan swalayan dulu. Dalilnya dari Aisyah, yang menqodho puasa Ramadhan di bulan Sya’ban.
Dari Abu Salamah, ia mendengar ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,
كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ
“Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar utang puasa tersebut kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, no. 1950; Muslim, no. 1146)
Bolehkah sedekah saat punya hutang?
Boleh, bila hutang belum jatuh tempo.
Haram bila sudah jatuh tempo hutangnya.
Adapun hadits,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Kita perlu lihat hadits lain…
Dari Abu Hurairah, ia berkata,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).
Ini juga berlaku untuk wanita yang batal puasa karena haid atau orang yang sakit..
Sehingga pendapat kedua lebih kuat, ini juga dipilih oleh Syaikh Khalid Al Mushlih, menantu Syaikh Utsaimin.
1. Kita harus mencontoh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang takut amalan takut tidak diterima. Kita harus suudzon kepada kita, dan berdoa supaya amalan kita diterima.
Para salaf dulu, berdoa selama 6 bulan supaya puasa Ramadhan diterima.
Ibnu Rajab menyebutkan keterangan Mu’alla bin Al-Fadhl – ulama tabi’ tabiin – yang mengatakan,
كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم
“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)
2. Juga kita harus istiqomah dalam amalan walaupun sedikit.
Semangat ibadah yang tertinggi adalah di bulan Ramadhan. Dan ini wajar, juga tidak seperti semangat di bulan ramadhan saat di bulan lain.
Hadits tentang isyarat, pentingnya terus beramal istiqomah.
Sebuah hadis yang diriwayatkan dari sahabat Thalhah bin Ubaidillah diterangkan bahwa ada dua orang shahabat, keduanya bersaudara. Salah seorang dari keduanya berangkat perang. Ia adalah orang yang lebih bersemangat dalam beramal dibanding saudaranya. Kemudian ia pun mati syahid. Sementara yang satu lagi masih diberi umur panjang hingga satu tahun setelah saudaranya tersebut syahid.
Beberapa waktu kemudian Thalhah radhiallahu ‘anhu bermimpi melihat bahwa laki-laki yang meninggal dunia belakangan lebih tinggi derajatnya. Lalu keesokan harinya, Thalhah menceritakan mimpinya kepada orang-orang, dan mereka pun heran. Lalu menyanyakan perihal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam.
Mendapat pertanyaan tersebut, Rasulullah pun bertanya, “Bukankah orang ini hidup satu tahun setelahnya dan mendapatkan bulan Ramadhan lalu ia berpuasa? Mereka menjawab, ‘Betul,’ Bukankah Ia juga telah mengerjakan shalat ini dan itu dengan beberapa sujud dalam setahun?” Mereka menjawab, “Betul,” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali bersabda:
فَمَا بَيْنَهُمَا أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Sungguh, sangat jauh perbedaan antara keduanya (dalam kebajikan) bagaikan antara langit dan bumi.” (HR. Ibnu Majah, no; 3925, Ahmad, no: 1349, hadis dari Thalhah bin Ubaidillah dan dishahihkan oleh Al-Albani).
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ
Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari bapaknya, bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah , siapakah manusia yang terbaik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapakah orang yang terburuk?” Beliau menjawab, “Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya”.
[HR. Ahmad; Tirmidzi; dan al-Hâkim. Dishahihkan oleh al-Albâni rahimahullah dalam Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, 3/313, no. 3363, Maktabul Ma’ar]
Semoga bermanfaat,
##$$-aa-$$##

