ADABUL MUFRAD # BERBAKTI KEPADA AYAH, UCAPAN LEMAH LEMBUT KEPADA ORANG TUA
Diterbitkan pertama kali pada: 20-Jul-2020 @ 16:50
2 menit membacaSyarah Adabul Mufrad-Berbakti Kepada Ayah, Ucapan Lemah Lembut kepada Orang Tua
Ustadz Muhammad Roemlan
25 Dzulqaidah 1440 H
Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:
يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ
“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?
Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi?
Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi?
Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi?
Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).
Ini tidak berarti berbakti kepada ayah disepelekan.
Ayah dan Ibu mempunyai hak yang sama untuk dihormati.
Contoh terbaik dari anak yang berbakti kepada ayah adalah kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Bila orang tua sudah meninggal maka cara berbakti adalah dengan menjalin hubungan dengan teman baik ayah ibu.
BAB, Lemah lembut kepada orang tua.
Dari Thaisalah bin Mayyas , ia berkata,
كُنْتُ مَعَ النَّجَدَاتِ ، فَأَصَبْتُ ذَنُوْبًا لاَ أَرَاهَا إِلاَّ مِنَ الْكَبَائِرِ، فَذَكَرْتُ ذَالِكَ ِلابْنِ عُمَرَ. قاَلَ: مَا هِىَ؟ قلُتْ:ُ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: لَيْسَتْ هَذِهِ مِنَ الْكَبَائِرِ، هُنَّ تِسْعٌ: اْلإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَقَتْلُ نِسْمَةٍ، وَالْفِرَارُ مِنَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَةِ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ، وَإِلْحَادُ فِي الْمَسْجِدِ، وَالَّذِيْ يَسْتَسْخِرُ ، وَبُكَاءُ الْوَالِدَيْنِ مِنَ الْعُقُوْقِ، قاَلَ: لِي ابْنُ عُمَرَ: أَتَفَرَّقُ النَّارَ ، وَتُحِبُّ أَنْ تَدْخُلَ الْجَنَّةَ؟ قُلْتُ: إِيْ، وَاللهِ! قَالَ: أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قُلْتُ: عِنْدِيْ أُمِّىْ. قَالَ: فَوَاللهِ! لَوْ أَلَنْتَ لَهَا الْكَلاَمَ، وَأَطْعَمْتَهَا الطَّعَامَ، لَتَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مَا اجْتَنَبْتَ الْكَبَائِرَ.
“Ketika tinggal bersama An Najdaat, saya melakukan perbuatan dosa yang saya anggap termasuk dosa besar. Kemudian saya ceritakan hal itu kepada ‘Abdullah bin ‘Umar. Beliau lalu bertanya, ”Perbuatan apa yang telah engkau lakukan?” ”Saya pun menceritakan perbuatan itu.” Beliau menjawab, “Hal itu tidaklah termasuk dosa besar.
*Dosa besar itu ada sembilan,
yaitu mempersekutukan Allah (syrik) ,
membunuh orang,
lari dari pertempuran,
memfitnah seorang wanita mukminah (dengan tuduhan berzina),
memakan riba’,
memakan harta anak yatim,
berbuat maksiat di dalam masjid,
menghina,
dan [menyebabkan] tangisnya kedua orang tua karena durhaka [kepada keduanya].*”
Ibnu Umar lalu bertanya, “Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk surga?” ”Ya, saya ingin”, jawabku
Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” “Saya masih memiliki seorang ibu”, jawabku.
Beliau berkata, “Demi Allah, sekiranya engkau berlemah lembut dalam bertutur kepadanya dan memasakkan makanan baginya, sungguh engkau akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.”
(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 8, shahih. Lihat Ash Shahihah 2898)
Faidah dari latar belakang hadits ini (bersahabat dengan orang yang jatuh kepada pemikiran sesat) , bahwa manusia terbagi dalam banyak golongan.
ISLAM terpecah dalam 73 golongan.
Dalam riwayat lain disebutkan tentang golongan yang selamat yaitu orang yang mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya Radhiyallahu anhum. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
…كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.
“…Semua golongan tersebut tempatnya di neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya.”
1. Kita harus ikuti contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan praktek para shahabat.
2. Harus selektif ambil guru agama, Ilmu harus jelas.
3. Lemah lembut dalam berbicara adalah bagian dari Akhlaq yang mulia.
4. Lemah lembut dalam berbicara diamalkan untuk semua manusia.
##$$-aa-$$##


