Diterbitkan pertama kali pada: 16-Apr-2023 @ 06:11

3 menit membaca

*MUTIARA-MUTIARA RAMADHAN*
Ustadz Jundi Abu Daud, Lc, MA
25 Ramadhan 1444H

Diantara mutiara-mutiara Ramadhan adalah :

➡️ Allah menggambarkan dalam Al Qur’an.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ 
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183)

Tujuan pertama puasa adalah supaya bertakwa.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan bahwa takwa adalah tujuan inti dari perintah puasa..

2️⃣ Mentataduri Al Qur’an

Al Qur’an diturunkan untuk diamalkan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَ مِنْهُمْ اُمِّيُّوْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ الْكِتٰبَ اِلَّاۤ اَمَا نِيَّ وَاِ نْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ
“Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak memahami Kitab (Taurat) kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 78)

✅ Dengan memperhatikan adab saat baca Al Qur’an.

1. Membaca dengan tartil
2. Ketika baca ayat terkait adanya aib yang pada kita – berhenti sebentar, mohon ampunan dan rahmat Allah
3. Jangan berhenti baca Al Qur’an hanya untuk ngobrol, kecuali darurat dan sekali-kali
4. Tidak mengeraskan ketika baca Al Qur’an sehingga ganggu orang disekitarnya

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ الْمُصَلِّيْ يُنَاجِيْ رَبَّهُ فَلْيَنْظُرْ بِمَا يُنَاجِيْهِ بِهِ وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقُرْآنِ

“Sesungguhnya orang yang shalat itu sedang bermunajat kepada Rabbnya. Maka hendaklah ia perhatikan apa yang dia pinta. Dan janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaan Al Qur’annya sehingga mengganggu sebagian yang lain”
HR Abu Dawud

3️⃣ Bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk Muhasabah

Berkata ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu anhu:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ

“Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal”

Hasan Al Bashri – orang yang selamat di akhirat adalah orang yang sering Muhasabah.

✅ Ibnul Qayyim – Muhasabah tidak akan sempurna, harus ada tiga hal.

1. Memiliki cahaya hikmah, yaitu ilmu.
2. Bisa prasangka buruk terhadap diri sendiri. Kalau tidak mampu maka aibnya tidak kelihatan.
3. Mampu membedakan antara nikmat dan fitnah.

Nikmat – rezeki dan fasilitas kebutuhan mengantarkan kedekatan kepada Allah.

Fitnah adalah kebalikan dari nikmat. Disebut juga istidraj.
Ini sebabnya dirinya tidak punya prasangka buruk pada dirinya.

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah menambahkan bahwa Muhasabah akan lebih sempurna ketika seorang hamba bisa sadari kalau dia mencela dosa orang lain maka dosa itu bisa kembali kepada dirinya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

ﺃﻥ ﺗﻌﻴﻴﺮﻙ ﻷﺧﻴﻚ ﺑﺬﻧﺒﻪ ﺃﻋﻈﻢ ﺇﺛﻤﺎ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ ﻭﺃﺷﺪ ﻣﻦ ﻣﻌﺼﻴﺘﻪ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺻﻮﻟﺔ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ ﻭﺗﺰﻛﻴﺔ ﺍﻟﻨﻔﺲ

“Engkau mencela saudaramu yang melakukan dosa, ini lebih besar dosanya daripada dosa yang dilakukan  saudaramu dan maksiat yabg lebih besar, karena menghilangkan ketaatan dan merasa dirinya suci.”

Terdapat hadits yang redaksinya mirip seperti pernyataan ini, akan tetapi hadits ini dinilai dhaif/lemah bahkan maudhu’/palsu oleh beberapa ulama
Yaitu hadits,
ﻣَﻦْ ﻋَﻴَّﺮَ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﺑِﺬَﻧْﺐٍ ﻟَﻢْ ﻳَﻤُﺖْ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻌْﻤَﻠَﻪُ
“ Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut. ” (HR. Tirmidzi no. 2505. Syaikh Al-Albani berkata bahwa hadits ini maudhu’)

4️⃣ Banyak istighfar

Orang yang merasa puas dengan amalannya adalah orang yang tertipu.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setiap selesai sholat sering istighfar.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat dakwahnya berhasil, Allah perintahkan untuk istighfar.

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3)

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berhondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Tobat. An-Nasr, ayat 1-3

Orang yang merasa puas dengan ibadahnya adalah indikasi tidak diterima amalannya.
Dan ini tidak lebih baik daripada orang yang melakukan dosa dan istighfar.

Semoga bermanfaat.

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?