TematikUstadz Dr. Sufyan Fuad Baswedan, MA

SEGUDANG IBROH DARI KISAH NABI IBRAHIM alaihissalam

Diterbitkan pertama kali pada: 25-Feb-2023 @ 20:05

5 menit membaca

*SEGUDANG IBROH DARI KISAH NABI IBRAHIM alaihissalam*
Ustadz Dr Sufyan Basweidan, Lc MA
5 Sya’ban 1444H / 25.02.2023
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi

Nabi Ibrahim alaihissalam adalah manusia paling mulia setelah Nabi Muhammad ﷺ, kekasih Allah, dan bapak para Nabi.

Ayah Nabi Ibrahim adalah paganis..

🔸Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

{وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (56) وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا (57) }

Dan ceritakanlah (hai Muhammad, kepada mereka kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.
Qs Maryam 56-57.

🖍️Nabi Ibrahim adalah shuddiqon = selalu membenarkan.

🔸Allah abadikan dalam Al Qur’an..

{قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ}

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya. (Al-Mumtahanah: 4)

Kalau Allah menceritakan dalam Al Qur’an, bagi muslim adalah membenarkan..

{وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلا}

Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? (An-Nisa: 122)

Dalam menciptakan sesuatu, Allah tidak pernah mengajak diskusi makhluk-Nya.

Kalau ada hal yang tidak masuk akal atas apa yang Allah perintahkan atau kisahkan, maka yang menjadi masalah adalah akal kita.

Nabi Ibrahim adalah contoh orang yang sangat berserah diri, saat usia beliau 80 tahun beliau diperintahkan untuk khitan.

🔹Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ بَعْدَ ثَمَانِينَ سَنَةً وَاخْتَتَنَ بِالْقَدُومِ

“Ibrahim berkhitan setelah mencapai usia 80 tahun, dan beliau berkhitan dengan Al Qodum.” (HR. Bukhari).

Begitu juga saat perintah sulit, memindahkan keluarga nya di tempat yang sangat gersang bahkan tanaman pun susah hidup..

🔸Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

رَبَّنَاۤ اِنِّيْۤ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَا دٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ ۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوْا الصَّلٰوةَ فَا جْعَلْ اَ فْـئِدَةً مِّنَ النَّا سِ تَهْوِيْۤ اِلَيْهِمْ وَا رْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 37)

Nabi Ibrahim tidak malu sebut ayah nya dengan yaa Ayahku..

🔸Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِذْ قَا لَ لِاَ بِيْهِ يٰۤـاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَ لَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـئًـا

“(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?”
(QS. Maryam 19: Ayat 42)

Ini adalah isyarat kepada ayahnya untuk berfikir, kenapa menyembah sesuatu yang tidak bisa apa-apa.

➡️ Ini adalah metode dakwah yang sangat penting. Yaitu dakwah dari segi cara berfikir.

🖍️ Dua sifat yang paling esensial yaitu Maha Melihat dan Maha Mendengar

Selanjutnya Nabi Ibrahim melanjutkan..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَبَتِ اِنِّيْ قَدْ جَآءَنِيْ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَا تَّبِعْنِيْۤ اَهْدِكَ صِرَا طًا سَوِيًّا

“Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.”
(QS. Maryam 19: Ayat 43)

Beliau alaihissalam tidak mengatakan – engkau tidak tahu dan aku mengetahui semuanya.

🖍️ *Cara dakwah harus lemah lembut*.

Apalagi dakwah kepada orang yang merasa berjasa kepada kita.

Sebagaimana kisah Musa alaihissalam dan Firaun.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ اَلَمْ نُرَبِّكَ فِيْنَا وَلِيْدًا وَّلَبِثْتَ فِيْنَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِيْنَ 
“Dia (Fir’aun) menjawab, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih kanak-kanak dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 18)

✅ Bila tidak berhasil maka dakwah ditingkatkan..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطٰنَ ۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَا نَ لِلرَّحْمٰنِ عَصِيًّا

“Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu sangat membangkang kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.” (QS. Maryam 19: Ayat 44)

Yaitu menyatakan bahwa yang disembah adalah syaithon, musuh Allah.

🖍️ Manusia itu hanya dibedakan dua, yaitu hamba Allah dan hamba syaithon.

Allah sebutkan sifat syaithon

{وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ}

dan sekali-kali janganlah orang yang pandai menipu memper­dayakan kamu tentang Allah. (Fathir: 5)

Adam alaihissalam, terperdaya oleh Iblis sehingga dikeluarkan dari surga yang penuh kenikmatan.

Allah hukum Adam dan Hawa dengan mencabut nikmat berpakaian.

Setelah turun di dunia, Adam dan Hawa dan mulai merasakan hal-hal yang tidak enak.. Pandai, lapar, haus dst.

Sifat manusia itu pelupa – karena sejatinya Adam tahu bahwa iblis adalah musuhnya. Yaitu saat penciptaan Nabi Adam, iblis menolak untuk sujud.

🖍️ Nabi Ibrahim melanjutkan dakwah dengan sedikit menakuti..

🔸Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ بَتِ اِنِّيْۤ اَخَا فُ اَنْ يَّمَسَّكَ عَذَا بٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطٰنِ وَلِيًّا

“Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.””
(QS. Maryam 19: Ayat 45)

✅ Yaitu tidak memberi vonis – tidak boleh menghakimi.

✅ Tidak boleh menghakimi seseorang selagi masih hidup. Ini disebutkan dalam hadits.

Orang-orang yang beriman pun belum tentu istiqomah di kemudian hari..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗ مَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِ يْمَا نُ وَلٰـكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَآءُ مِنْ عِبَا دِنَا ۗ وَاِ نَّكَ لَتَهْدِيْۤ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ 

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) roh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus,” (QS. Asy-Syura 42: Ayat 52)

➡️ *Metode dakwah harus bertahap*

1️⃣ Ajak berfikir dengan pendekatan yang logis. Yaitu sesuai ilmu.

2️⃣ Ditunjukkan kejelekan apa yang diamalkan sekarang.

3️⃣ Dikasih ancaman namun tidak dengan memutuskan harapan, ancaman yang proporsional.

Tidak ada jaminan dakwah akan berhasil..

Firman Allah:

 إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu (hai Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash : 56)

Ajak dengan cara yang bijak, penuh hikmah.

Dan jangan sampai mengorbankan hal-hal yang prinsip.

Dua hal yang tidak diterima Quraisy dari dakwah Rasulullah ﷺ adalah iman kepada hari akhir dan tauhid uluhiyah.

Orang-orang terdekat kadang menjadi penghalang dakwah kita.

Seperti Abu Lahab, istri Nabi Nuh, Istri Nabi Luth.

🔸Mereka memusuhi dakwah sebenarnya bukan karena mereka benci kebenaran tapi karena lebih pada karena merubah kebiasaan mereka. ❗❗❗

4️⃣ Kalau mereka menolak lebih keras dakwah kita, maka kita tinggalkan dengan tetap mendoakan kebaikan untuk mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ اَرَا غِبٌ اَنْتَ عَنْ اٰلِهَتِيْ يٰۤاِ بْرٰهِيْمُ ۚ لَئِنْ لَّمْ تَنْتَهِ لَاَ رْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِيْ مَلِيًّا

“Dia (ayahnya) berkata, “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.””
(QS. Maryam 19: Ayat 46)

قَا لَ سَلٰمٌ عَلَيْكَ ۚ سَاَ سْتَغْفِرُ لَـكَ رَبِّيْ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ بِيْ حَفِيًّا

“Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”
(QS. Maryam 19: Ayat 47)

Semoga bermanfaat,

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?