MENELADANI ULAMA SALAF di 10 RAMADHAN TERAKHIR
Diterbitkan pertama kali pada: 29-Apr-2021 @ 17:26
4 menit membacaMENELADANI ULAMA SALAF di 10 RAMADHAN TERAKHIR
Ustadz Dr Musyaffa Ad Dariny, Lc MA.
17 Ramadhan 1442H
Tema ini akan sangat berarti jika kita tahu betapa agungnya bulan Ramadhan.
Allah jadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang penuh kemuliaan, yaitu:
1. bulan kita diwajibkan puasa
2. Bulan keberkahan seperti Rasulullah ﷺ sabdakan, bahkan di malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari pada 1000 bulan, atau 83 tahun lebih 4 bulan.
3. Allah janjikan ampunan pada bulan Ramadhan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
قَالَ لِي جِبْرِيلُ : رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَقُلْتُ : آمِينَ
“Jibril ‘Alaihis Salam berkata kepadaku: ‘Sungguh sangat merugi seseorang yang ia masuk kedalam bulan Ramadhan lalu tidak diampuni dosanya.’ Kata Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Aku pun mengucapkan: Aamiin (Ya Allah, kabulkanlah).’”
4. Bulan ditutupnya pintu neraka dan dibukanya pintu surga.
5. Dan masih banyak kemuliaan yang Allah berikan di bulan Ramadhan..
Bisa jadi ini Ramadhan terakhir kita.
Kalau bisa kita manfaatkan waktu kita untuk itikaf.
Orang akan bisa mencapai derajat balasan yang lebih baik dari 1000 bulan bila dia itikaf di masjid, walaupun dia tidur istirahat.
Bagaimana meneladani ulama salaf di 10 RAMADHAN Terakhir?
1. Para ulama lebih giat sholat malam di 10 terakhir daripada malam-malam sebelumnya.
Di dalam Islam, makin akhir akan makin menentukan.
Seperti seseorang, nilainya ditentukan dari akhirnya.
Begitu juga makanan, harus dihabiskan semua sampai akhir, karena ada berkahnya.
Sebagaimana istri beliau -Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha– berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)
Bahkan beliau ﷺ tidak tidur.
2. Membangunkan anggota keluarga untuk ibadah di malam hari.
Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya , menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari & Muslim)
أَيَّامًا مَعْدُودَةً
Ayyaman ma’dudaad…
Ini menunjukkan bahwa Ramadhan yang satu bulan itu sebentar..
Kencangkan sarung, lebih semangat ibadah dan ada yang memaknai tidak mencampuri istri.
Imam Ats Tsauri.. Senang bila jumpa Ramadhan terakhir untuk sholat malam dan bangunkan keluarganya.
3. Mereka mandi supaya segar dalam ibadah dan memakai pakaian yang bagus secara syariat mereka juga pakai wewangian untuk mengkhususkan malam tersebut.
Ulama yang melakukan antara lain Imam Ayyub Asy Syuhtiyani. Juga Imam Ibrahim.
Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ketika malam 24 beliau biasanya mandi dan memakai parfum dan memakai hullah (dua selendang,seperti pakaian ihram).
Pakaian itu hanya beliau pakai 1 hari itu dan dipakai lagi ramadhan tahun berikutnya.
Begitu juga Tamim Ad Dahry punya hullah khusus untuk itikaf.
Kita harus jadikan malam tersebut malam yang istimewa, kita mandi supaya ibadah yang segar, dan pakaian yang nyaman..
Usahakan mempersiapkan diri untuk memuliakan malam tersebut.
1 detik malam tersebut mungkin sangat kita harapkan saat Kita di kuburan kelak.
4. Lebih semangat membaca Al-Qur’an.
Imam Qatadah punya kebiasaan khatam Al Qur’an setiap 7 hari, masuk Ramadhan khatam setiap 5 hari dan masuk 10 Ramadhan terakhir khatam setiap hari.
Al Qur’an itu paling bagus dibaca di dalam sholat. Saat berdiri.. Dengan hati untuk merenungi maknanya.
Bila tidak hafal maka kita bisa/boleh membaca mushaf atau aplikasi gagdet.
5. Memperbanyak doa, karena doa di malam-malam berkah menjadi doa yang mustajab
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ، تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allaahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii.
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah aku.
HR. Ahmad
Banyak minta ampunan, dan boleh meminta duniawi namun sertakan untuk urusan akhirat.
وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashshash: 77).
6. Banyak bersedekah
Saat ini sangat mudah untuk sedekah. Bila tidak cukup maka, bisa dicicil tiap malam..
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ صلى الله عليه و سلم الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ. متفق عليه
“Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, ia mengisahkan: “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling dermawan masalah kebaikan (harta benda), dan kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan di saat berjumpa dengan Malaikat Jibril. Dan dahulu Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasanya senantiasa menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada setiap malam di bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al Qur’an di hadapannya. Bila beliau telah berjumpa dengan Malaikat Jibril ‘alaihissalam beliau terasa begitu dermawan dalam masalah kebaikan (harta benda) dibanding angin sepoi-sepoi yang berhembus.” (Muttafaqun ‘alaih)
Sedekah tidak akan kurangi harta.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.
Berinfaq lah secara terukur, bila harta banyak, maka sedekah juga banyak dst..
7. Semangat itikaf
Para Istri Rasulullah, Ummul Mukminin sangat semangat itikaf di masjid.
Sebaiknya datang sebelum maghrib dan pulang setelah subuh, sehingga dapat malam sepenuhnya…
Dan keutamaan pahala itikaf di malam Lailatul Qadar, bisa berlipat sampai 60 ribu kali.
Dan para ulama ibadah nya tidak neko-neko, simpel, dan jelas dan ada tuntunannya..
Semoga bermanfaat..
##$$-aa-##$$

